dear mbak Ari,
menurut saya, sementara ini mbak Ari biarlah fokus dulu sama anak. biarlah
suami menjalankan aktivitasnya.
mungkin saat dia pulang kerja, dia ingin santai atau relax dengan melakukan
kegiatan komputernya.
kalaupun saat libur, dia masih berkutat pada komputernya, biarlah karena
mungkin dia hobby pada komputer. mbak bisa juga coba undang teman-teman
kantor suami yang sudah berkeluarga untuk mengadakan kegiatan bersama,
dengan demikian suami akan dapat meninggalkan aktivitas komputernya.
ohya saya kasih sebuah cerita ya... .
dulu ada seorang suami yang dulunya suka main game. pulang kerja main game
komputer, dini hari main game, kalau libur juga main game.padahal waktu itu
mereka baru punya bayi pertama. sang istri yang jadi ibu rumah tangga tetap
setia memberikan kebebasan pada sang suami untuk memuaskan hobbynya. karena
bagi dia, lebih baik suaminya berhobby kegiatan dirumah dari pada keluyuran.
namun suatu saat, suaminya kenal dengan orang-orang yang suka touring motor
sehingga akhirnya semua menjadi berubah.
suaminya sering pulang malam karena ngumpul dengan teman-teman barunya.
waktu libur bukan digunakan dengan istri dan anak namun digunakan untuk
touring keluar kota sampai berhari-hari.
sang istri tetap bersabar mensupport hobby baru sang suami namun sang istri
tetap tak putus-putusnya berdoa agar suaminya segera berubah dan mencintai
keluarganya.dia berharap agar sang suami mencintai game-game lagi agar sang
suami lebih banyak waktu dirumah.
waktu berlalu, suatu ketika, saat sang suami bubar kantor, seperti biasanya
sang suami kumpul dengan teman-teman bikernya.
saat itu jam 22:45WIB di gelora senayan. sang suami merasakan getaran disaku
celananya yang menandakan HPnya ada SMS.
saat dibaca SMSnya, sang suami langsung pucat dan berkeringat dingin. sang
suami langsung kebutkan motornya pulang dengan tak henti-hentinya berdoa.
isi SMS tersebut tergiang-giang dibenaknya... "Pa, anak kita sudah 2jam ini
muntah-muntah terus, dia demam dan sudah diukur 41 derajat. rasa takut
membuat sang suami melupakan hobbynya, rasa cemas membuat hatinya perih.
sampai dirumah, didepan pintu rumah didengarnya anaknya sedang menangis
meraung-raung,saat masuk kekamar,dilihatnya baju anaknya penuh dengan
muntahan, tubuhnya sangat hangat dan basah kuyub dengan keringat.
diangkat dan digendongnya sang anak. saat itu, sang anak muntah lagi sampai
baju sang ayah penuh muntahan. malam itu, sang ayah menyaksikan sendiri
penderitaan sang anak hingga jam 2 dini hari. baru sang anak tertidur
kecapekan dan habis air mata.
3 minggu kemudian adalah minggu-minggu yang merubah sang ayah karena anaknya
terpaksa di opname dirumah sakit selama 3 minggu. selama dirumah sakit, sang
ayah melihat bagaimana penderitaan sang anak yang sangat dicintainya
menderita. saat sang anak diinformasikan dokter bahwa anaknya bisa kena
pembekuan darah dan menjadi cacat, sang ayah sangat menyesali hari-harinya
yang terbuang tanpa sang anak.selama ini dia selalu menyangka besok selalu
ada waktu untuk menemani sang anak.

kemudian dia berubah. alhamdulillah sang anak sembuh total. sang ayah,
setiap pagi, beliau bangun jam 5 pagi, sholat subuh, menyapu seisi rumah,
menyuci semua pakaian bahkan pakaian sang istri dicucinya. saat sang istri
mau membantunya, satu kalimat yang selalu terucap "Bunda tidak usah
membantu, tolong Bunda memasak makanan bergizi buat Bunda dan anak kita.
urusan nyuci, ngepel, biarlah saya yang mengerjakan. semoga apa yang saya
kerjakan dapat sedikit mengurangi tugas Bunda.
waktu berlalu sekarang setiap ada kesempatan, sang ayah selalu menemani anak
mereka belajar menulis dan membaca serta bermain. setiap libur tak pernah
sekalipun dilalui tanpa kehadiran istri dan anaknya.
baginya, hari-hari adalah sangat berharga. karena itu, hari-hari harus
selalu dihabiskan bersama istri dan anaknya.
demikian sedikit cerita saya. ada waktunya prahara menyambut namun teruslah
berdoa karena kekuatan doa sangat luar biasa.
suatu saat ya suatu saat, waktu yang akan merubah semuanya.
Amin
salam dari cimanggis, depok
Arum Wijaya



>
> *From*: Ari Sari
> *Date*: Wed, 13 May 2009 06:40:51 -0700 (PDT)
> *To*: <[email protected]>
> *Subject*: [Ayahbunda-Online] Curhat
>
>    Dear all
> aku mau curhat sebentar dan minta sarannya,aku baru aja resign dan sekrg
> menjalani sbg ibu rumah tangga,aku berenti jujur karena kasian sama anakku
> yg sekarg jalan 8 bulan.
> Dear,aku punya suami yg  kurang perhatian..setiap hari dia kerja..berangkat
> pagi pulang malam,tapi disaat pulang kerja dia langsung ke meja komputer dan
> setelah itu tidur,aku sdh beberp kali komplaint tp kadang dia nerima kdg
> nolak alias marah,kalopun libur dia lbh sering main komput,bahkan berangkat
> kerjaun bukanya ngobrol tp main komputer,ada rasa kesepian nih..kasiannya
> sama anakku,pasahal klo dia main sama papahnya..matanya
> berbinar2..sebetulnya sih dia memang tipe kyk gt,tp kdg ada perasaan sedih
> aja..dan apakah aku juga harus kerja yah,tp kasian..klo dua2 nya sibuk..
>
> Makasih yah...
>
>   
>

Kirim email ke