Mungkin saya bisa menambahkan sedikit. Kebetulan saya sendiri vegetarian yang 
masih mengkonsumsi susu dan telur (ovo lacto vegetarian). Beberapa waktu lalu 
saya jg sempat mendapat liputan mengenai Restoran Te He Vegetarian. Nah saat 
itu saya langsung berbincang-bincang dengan pemilik resto, Pak Suharjo dan Ibu 
Linda. Mereka kebetulan beragama Buddha, jadi pernyataan dan mereka kemukakan 
sedikit banyak dipengaruhi oleh ajaran yg mereka anut.

Singkat kata, ketika mengkonsumsi hewan, maka kita turut mengkonsumsi 
penderitaan yg dirasakan oleh hewan2 tersebut saat dikorbankan untuk menjadi 
santapan manusia. Lenguhan sapi yang terdengar miris saat disembelih, ikan-ikan 
yg menggelepar saat disiangi,  dsb. Sehingga menurut saya, menjadi seorang 
vegetarian berarti kita memutuskan untuk 'mengurangi penderitaan' hewan2 
tersebut. Maka tak heran jika banyak vegetarian yg tergabung dalam organisasi 
pecinta hewan, WWF atau PETA misalnya.

Teman2 saya banyak yg menggoda dengan mengatakan, "Kalau sayur-sayuran jg bisa 
bergerak dan bersuara, apa kamu masih tega mengkonsumsi mereka?" Dengan 
bercanda saya menjawab denan sebuah pertanyaan juga, "Lalu, makanan apa dong 
yang tersisa?"





"I don't look back, darling. It distracts from the now". - Edna Mode

Deasy Elsara
p l a y g r o u n d | Obrolan Kopi


--- On Tue, 3/17/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [bango-mania] Vegetarian food vs Emosi
To: [email protected]
Date: Tuesday, March 17, 2009, 1:34 AM











    
            
     Berbagi opini ya ,
Setahu saya 
Dlm pengetahuan timur dikenal yin dan yang.
Sayur sayuran itu tumbuh karena mendapat  energi dari  bumi dan energi bumi itu 
  termasuk yin (dingin)

Sedangkan daging itu termasuk yang (panas) seperti jg kuah (yin) goreng (yang)

Jika berhubungan lgsg tentunya tidak segampang itu utk merumuskan karena emosi 
manusia sangat kompleks yakni hati, pikiran dan tubuh berkaitan langsung .

Tetapi yg pasti memakan sesuatu yg terlalu banyak itu tidak seimbang , dan 
tidak seimbang itu tidak sesuai sifat alam.
Jika terlalu byk daging maka tentunya cholesterol dan segala macam penyakit 
akan muncul jg dan akan mendukung porsi porsi kecil utk merusak tubuh dan emosi.

Dari pengalaman saya  org yg lebih mengerti ttg spiritual akan secara langsung 
mengurangi konsumsi daging, karena dia merasa tidak nyaman.
Ada yg karena tubuhnya kurang enak, ada pulak yg karena tidak mau membunuh 
makhluk hidup dan inisiatifnya karena kesadaran tersebut . 

Dan utk simplenya  kita bisa melihat dari  alam ( lebih gampang di banding 
research yg susah susah di jaman skrg)   bahwa binatang pemakan sayuran 
cenderung lebih kalem dibanding binatang pemakan daging yg cenderung buas dan 
merusak.

Jadi conclusionnya adalah
memakan vegie sedikit atau banyak pasti  mempengaruhi karakter dan kita . 

Tetapi jika utk langsung sbg obat menjaga emosi yg stabil tidak begitu pas  
caranya . 
Saya rasa lebih baik memahami diri dan emosi itu apa dulu .
Pahami hati dan pikiran yg menimbulkan emosi tersebut.

Mengenai cara masak ? Tentunya jg akan berpengaruh , yg pasti seimbang aja .
Tidak terlalu byk dan tidak terlalu dikit .

Begitu deh pendapat saya tks.

Regards
Yardi - Ice GentongSent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom:  dwi yanto bekti 
Date: Sun, 15 Mar 2009 22:46:29 -0700 (PDT)
To: <bango-mania@ yahoogroups. com>
Subject: [bango-mania] Vegetarian food vs Emosi
                    Dear rekan bango mania..


Mohon pencerahannya, apakah benar manfaat makanan vegetarian berkorelasi 
langsung dengan kondisi emosional si penikmatnya. .

Jika iya, apakah itu tergantung juga dari proses memasak makanannya ?

Terima kasih.



BR,

Dwi Yanto Bhekti
di Fatmawati.

            Get your preferred Email name!  
 Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.                                   
   
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke