Maling Kupang




Saya kemalingan. Tapi malingnya sempet nitip Rp 20 ribu.

Masih
ingat dong, kalau saya jualan kupang lontong di rumah. Saya kena apes.
Baru buka sudah kemalingan. Waktu itu saya lagi ngocekin brambang di
ruang tamu.

Pas di dapur, simbok saya ini denger ada sepeda
motor berhenti di depan. Ternyata ada anak muda, memakai helm teropong,
naik motor. Helmnya nggak dilepas, dan mesin sepeda motornya dibiarkan
nyala.

“Mau beli apa, Mas?!”
“Mo beli kupang lontong, satu. Dibungkus!”

Setelah pesanan selesai. Pembeli ini mengulurkan uang Rp 20 ribu.

“Waduh belum dapat pengelaris, Mas. Uang Pas aja!”
“Ngga ada Bu, cuman itu!” katanya.

Akhirnya
simbok lari ke dalam, untuk nyari uang kembalian. Nah Pas keluar….
*nahan nafas. Lho, kok si pembelinya sudah nggak ada. Herannya lagi,
bungkusan kupang lontongnya juga tidak dibawa. Semenit kemudian simbok
saya menyadari kalau tabung gas elpiji yang warna hijau dangdut itu
sudah Tidak ada.

“Mbak Mendollllllll….. tabung gasnya ilanggggggg!” teriak histerissssss

Saya langsung ke TKP dan menemukan kompor gelethak, tanpa ada tabungnya.
“ ASEM, JAMBU TELO ...kok mentholo men, iku maling.!” Ambekan gedhe. Mbathin 
sama misuh-misuh.

Simbok
saya jengkel sekali, sampai kupang lontong yang tidak dibawa sama si
maling dibuang langsung ke tempat sampah. “Buang sial !” gitu
alasannya. Uang Rp 20 ribu punya si maling masih dipegangnya. Untung
simbok saya masih rasional, duitnya nggak ikutan dibuang..hehehehe.

Nggak
sampai lima menit, berita tabung gas ilang ini sudah sampai seantero
penjuru gang. Mulai tukang becak, bakul jamu, buk sayur, pemulung,
ibu-ibu pulang dari pasar semua pada nyamperin simbok saya. Semua
ngerubung nanyain kronologisnya.
Miring
Hebatnya, simbok saya
pinter mendramatisir cerita, dikaitkan dengan mimpi buruk sehari
sebelumnya, firasat nggak enak, badan meriang, sampai perasaan bersalah
gara-gara ada kucing kawin di atas genteng malah disiram sama air
se-ember.Brrhh..

Saya sampai ndomblong…. Lha kok malah panjang ceritanya. Ck..ck..ck.

Semakin
panjang ceritanya, semakin bikin penasaran. Akhirnya, orang-orang yang
datang nyambi ndengerin, sambil mesan kupang lontong-lah, lontong
balap-lah, lontong mie-lah… Ceritanya makin seru, makin menggigit.
Orang-orang, akhirnya malah terpacu buat nambah sate kerang, lentho dan
bergelas-gelas es degan.

“Ikhlas ya Mbak Mendol, nggak usah pake nangis, nanti dikasih rejeki 
berlipat-lipat!” kata tetangga saya.

Saya
bingung. Siapa yang nangis?! Ohh….tetangga saya ini mengira mata sembab
saya dipikir nangisi tabung elpiji yang ilang, padahal mata merah ini
khan gara-gara habis ngoncekin bawang merah. Heheheheheh…..

Gara-gara
kejadian ini dagangan simbok saya jadi laris luar biasa, belum sampai
jam 9, dagangan dah ludesss. Saya pun senyam-senyum..dan tidak
misuh-misuh, nyebut dagangan buah di Pasar Keputran.Hihihihii…. (lamendol)

Kupang Lontong Tanjung Perak
Dapur Nusantara - Food Court ITC Mega Grosir lt 3
Jl Gembong. 

Sumber: http://www.sijagomakan.com/
Kunjungi selalu BLOG BANGOMANIA di http://bango-mania.blogspot.com/


      

Kirim email ke