Mengulang Jejak Bakmi Godog Mbah Surip



JAKARTA
- Bakmi godog hangat sangat mampu meredam rasa dingin seperti saat ini.
Kuah kaldu yang gurih hangat plus isiannya yang komplet bisa mengganjal
perut yang tengah lapar. Sebagai teman setia, tahu, tempe bacem, atau
gembus bisa jadi pilihannya. Irisan cabai rawit bikin rasanya makin
menggigit!

Hujan yang mengguyur Jakarta beberapa hari ini
membuat kondisi tubuh mulai menurun. Inginnya makan yang berkuah dan
hangat berharap tubuh pun kembali bersemangat. Ajakan seorang teman
sepulang kerja untuk mencari bakmi godog pun langsung saya iyakan tanpa
bantahan.

Mobil kami melaju menuju kawasan Ampera untuk mencari
warung Bakmi Godog Mbah Surip yang sudah tersohor sejak dulu di daerah
asalnya, Jogja. Sudah lama memang teman saya ini mengajak saya untuk
'nostalgia' di warung mbah Surip seperti yang sering kami lakukan
sewaktu di Jogja dulu.

Cukup mudah menemukan warung bakmi ini,
karena letaknya yang tak jauh dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Warungnya sederhana, nampak dua buang gerobak bakmi yang digantungi
beberapa ekor ayam kampung, persis seperti di Jogja. Sebelum masuk saya
langsung memesan bakmi kuah kepada sang pelayan. Di sini tak hanya
bakmi godog (bakmi kuah) saja yang dijual tapi masih ada bihun godog,
bihun goreng, bakmi goreng, dan juga nasi goreng.

Kalau makan
bakmi godog, harus sabar. Karena proses memasaknya yang masih sangat
tradisional menggunakan anglo (tungku arang) memerlukan waktu yang tak
sebentar. Sambil menunggu bakmi matang, saya ngemil tahu dan tempe
bacem yang sudah disediakan disetiap meja plus cabai rawitnya dalam
mangkuk yang terpisah. Tempe dan tahu nya enak, tidak asem dan rasa
manisnya pas.

Bakmi godog akhirnya datang setelah saya
menghabiskan sebuah tempe dan tahu bacem. Bakminya disajikan didalam
sebuah piring, tidak di dalam mangkuk seperti bakmi kebanyakan. Warna
kuah dan mi nya kuning pucat. Acar mentimun ditaruh dibagian
pinggirnya, taburan daun seledri dan bawang goreng di bagian atas
menambah harum aromanya. Suwiran daging ayam kampungnya besar-besar
menyembul diantara minya. Ada juga kekian dan kol yang diiris kasar.

Rasa
kuah kaldunya cukup harum enak, tak heran karena bakmi mbah Surip ini
menggunakan kaldu ayam kampung. Tapi buat saya, rasanya sedikit kurang
asin. Untung saja disetiap meja disediakan garam halus jadi saya bisa
menambahkannya sendiri. Karena saya penyuka rasa pedas, potongan cabai
rawitpun tak luput jadi sasaran saya untuk menambah kenikmatan
menyantap bakmi ini. Minya lembut pas dengan rasa kuah kaldu ayam yang
gurih dan acar yang asam-asam segar!

Tanpa terasa peluhpun mulai
bermunculan. Wedang jahe hangat pun siap membersihkan jejak bakmi godog
di tenggorokan. Hidung yang tersumbat pun langsung plong kembali.
Hmm..tak heran jika bakmi godog plus wedang jahe ini dijadikan pengobat
flu yang ampuh. Seporsi bakmi godog mbah Surip ini dihargai tidak
terlalu mahal, cukup dengan Rp 13.000,00 untuk menu yang biasa dan Rp
18.000,00 untuk yang spesial. Sedangkan segelas wedang jahe, hanya Rp
2.000,00 saja. (eka/Odi) 

Warung Bakmi Mbah Surip
(Masakan Khas Jogja)
Jl. Ampera Raya, Jakarta Selatan (Depan Medco)
Telp: 021-78839337

Sumber: detikFood
Kunjungi selalu Blog Bangomania di http://bango-mania.blogspot.com


      

Kirim email ke