Pak Abdur Rahman, klo mie mbah surip di yogya ada di mana ya? jadi penasaran 
mau nyoba neh.
 
Rgrds,
Lina

--- On Thu, 1/21/10, Abdur Rohman <[email protected]> wrote:


From: Abdur Rohman <[email protected]>
Subject: [bango-mania] Mengulang Jejak Bakmi Godog Mbah Surip
To: [email protected], [email protected]
Date: Thursday, January 21, 2010, 2:24 PM


  








Mengulang Jejak Bakmi Godog Mbah Surip 
JAKARTA - Bakmi godog hangat sangat mampu meredam rasa dingin seperti saat ini. 
Kuah kaldu yang gurih hangat plus isiannya yang komplet bisa mengganjal perut 
yang tengah lapar. Sebagai teman setia, tahu, tempe bacem, atau gembus bisa 
jadi pilihannya. Irisan cabai rawit bikin rasanya makin menggigit!

Hujan yang mengguyur Jakarta beberapa hari ini membuat kondisi tubuh mulai 
menurun. Inginnya makan yang berkuah dan hangat berharap tubuh pun kembali 
bersemangat. Ajakan seorang teman sepulang kerja untuk mencari bakmi godog pun 
langsung saya iyakan tanpa bantahan.

Mobil kami melaju menuju kawasan Ampera untuk mencari warung Bakmi Godog Mbah 
Surip yang sudah tersohor sejak dulu di daerah asalnya, Jogja. Sudah lama 
memang teman saya ini mengajak saya untuk 'nostalgia' di warung mbah Surip 
seperti yang sering kami lakukan sewaktu di Jogja dulu.

Cukup mudah menemukan warung bakmi ini, karena letaknya yang tak jauh dari 
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Warungnya sederhana, nampak dua buang 
gerobak bakmi yang digantungi beberapa ekor ayam kampung, persis seperti di 
Jogja. Sebelum masuk saya langsung memesan bakmi kuah kepada sang pelayan. Di 
sini tak hanya bakmi godog (bakmi kuah) saja yang dijual tapi masih ada bihun 
godog, bihun goreng, bakmi goreng, dan juga nasi goreng.

Kalau makan bakmi godog, harus sabar. Karena proses memasaknya yang masih 
sangat tradisional menggunakan anglo (tungku arang) memerlukan waktu yang tak 
sebentar. Sambil menunggu bakmi matang, saya ngemil tahu dan tempe bacem yang 
sudah disediakan disetiap meja plus cabai rawitnya dalam mangkuk yang terpisah. 
Tempe dan tahu nya enak, tidak asem dan rasa manisnya pas.

Bakmi godog akhirnya datang setelah saya menghabiskan sebuah tempe dan tahu 
bacem. Bakminya disajikan didalam sebuah piring, tidak di dalam mangkuk seperti 
bakmi kebanyakan. Warna kuah dan mi nya kuning pucat. Acar mentimun ditaruh 
dibagian pinggirnya, taburan daun seledri dan bawang goreng di bagian atas 
menambah harum aromanya. Suwiran daging ayam kampungnya besar-besar menyembul 
diantara minya. Ada juga kekian dan kol yang diiris kasar.

Rasa kuah kaldunya cukup harum enak, tak heran karena bakmi mbah Surip ini 
menggunakan kaldu ayam kampung. Tapi buat saya, rasanya sedikit kurang asin. 
Untung saja disetiap meja disediakan garam halus jadi saya bisa menambahkannya 
sendiri. Karena saya penyuka rasa pedas, potongan cabai rawitpun tak luput jadi 
sasaran saya untuk menambah kenikmatan menyantap bakmi ini. Minya lembut pas 
dengan rasa kuah kaldu ayam yang gurih dan acar yang asam-asam segar!

Tanpa terasa peluhpun mulai bermunculan. Wedang jahe hangat pun siap 
membersihkan jejak bakmi godog di tenggorokan. Hidung yang tersumbat pun 
langsung plong kembali. Hmm..tak heran jika bakmi godog plus wedang jahe ini 
dijadikan pengobat flu yang ampuh. Seporsi bakmi godog mbah Surip ini dihargai 
tidak terlalu mahal, cukup dengan Rp 13.000,00 untuk menu yang biasa dan Rp 
18.000,00 untuk yang spesial. Sedangkan segelas wedang jahe, hanya Rp 2.000,00 
saja. (eka/Odi) 

Warung Bakmi Mbah Surip
(Masakan Khas Jogja)
Jl. Ampera Raya, Jakarta Selatan (Depan Medco)
Telp: 021-78839337

Sumber: detikFood
Kunjungi selalu Blog Bangomania di http://bango- mania.blogspot. com








      

Kirim email ke