Menanti Tindak Lanjut Kongres Basa Sunda VIII
-- Apa yang dilakukan oleh Taufiq Ismail bisa dijadikan contoh
model yang menarik untuk diapresiasi oleh Pemda Jabar maupun LBSS
dalam upaya merealisasikan program "ngawanohkeun karya sastra Sunda ka
sakola jeung umum".
HIDUP dan matinya bahasa, sastra, dan aksara Sunda, kata Sekda Jabar
Setia Hidayat, dalam sabutan pembukaan Kongres Basa Sunda VIII, sangat
bergantung kepada orang Sundanya sendiri, bukan oleh pemerintah dengan
kebijakannya ("PR"/29/30). Ya, memang, demikian adanya. Namun begitu,
pemerintah dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkannya tetap
mempunyai peran yang sangat penting di dalamnya.
Misalnya, jika sastra Sunda ingin menyebar dan mengakar, dalam hal ini
diapresiasi dengan baik oleh kalangan anak-anak sekolah di tingkat SMP
dan SMA di berbagai pelosok di Jawa Barat, sebagai tindak lanjut dari
Kongres Basa Sunda VIII, maka Pemda Jabar harus menganggarkan sejumlah
dana guna membentuk Tim Apresiasi Sastra Sunda yang datang ke
sekolah-sekolah, yang narasumbernya dari kalangan sastrawan dan para
pakar bahasa Sunda, menyelenggarakan penataran bahasa Sunda bagi
guru-guru, serta menyelenggarakan berbagai lomba bahasa dan sastra
Sunda mulai dari tingkat desa, kota, hingga tingkat provinsi.Tanpa ada
dukungan yang kuat dari pihak Pemda Jabar, sangat mustahil hal itu
bisa terwujud. Di samping itu, tentu saja, kita membutuhkan sosok ki
Sunda seperti figur penyair Taufiq Ismail yang sukses menyelenggarakan
acara "Sastrawan Bicara Siswa Bertanya" (SBSB) yang digelarnya di
berbagai sekolah dan kota di Indonesia dengan sokongan dana yang
didapatnya dari Ford-Foundation serta dukungan penuh dari pemerintah,
entah itu lewat Pusat Bahasa atau lembaga-lembaga terkait lainnya.
Taufiq Ismail mati-matian menyelenggarakan acara tersebut dengan "awak
kapal" dari majalah sastra Horison, bertitik-tolak dari rasa
keprihatinannya ketika ia berhadapan dengan kenyataan bahwa anak-anak
sekolah kita dewasa ini ternyata begitu minim membaca karya sastra
yang ditulis oleh para sastrawan Indonesia. Di samping itu
diselenggarakan acara tersebut juga bertujuan tidak saja mengarah pada
pembinaan apresiasi sastra, tetapi juga berupaya menumbuhkan minat
anak-anak sekolah agar tertarik dengan dunia karang-mengarang, yang
tidak harus menulis karya sastra saja.
"Terjun ke dalam dunia karang-mengarang, sarat utamanya adalah
menguasai bahasa. Jadi sasarannya selain mengapresiasi karya sastra
dan menumbuhkan minat para siswa untuk mengarang adalah menguasai
bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saat ini, betapa banyak
mahasiswa yang ketika harus menulis skripsi pada bingung. Penyebabnya
antara lain karena ia kurang menguasai bahasa," katanya.
**
BERKAITAN dengan itu, apa yang dilakukan oleh Taufiq Ismail bisa
dijadikan contoh model yang menarik untuk diapresiasi oleh Pemda Jabar
maupun LBSS dalam upaya merealisasikan program ngawanohkeun karya
sastra Sunda ka sakola jeung umum. Acara ini hendaknya bukan hanya
sebatas pada acara para sastrawan membacakan karya-karyanya dan
memaparkan proses kreatifnya, tetapi ia harus mampu menjawab sekaligus
mengadakan work-shop penulisan karya sastra, yang tentu saja di
dalamnya berkait erat dengan soal pembelajaran bahasa Sunda yang baik
dan benar itu.
Selain itu, Taufiq Ismail pun menggagas berdirinya klub-klub sastra
untuk kalangan anak-anak sekolah, yang di dalamnya ada pelatihan
menulis. Klub itu diberi nama Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI)
yang pengelolaannya dipercayakan kepada klub-klub sastra yang aktif di
daerah. Di Tasikmalaya, untuk beberapa bulan lamanya pengelolaan SSSI
diserahkan kepada Sanggar Sastra Tasik (SST) yang dikomandani oleh
penyair Acep Zamzam Noor.
Dalam penyelenggaraan SSSI, kata Acep pihaknya menerima sejumlah dana
dari pihak Taufiq Ismail.
Sekali lagi, jika sastra Sunda ingin memasyarakat harus ada
penyelenggaraan program semacam SBSB dan SSSI. Tanpa adanya upaya
semacam itu, kiranya kita akan tetap keteteran dalam memasyarakatkan
sastra Sunda. Karena sastra Sunda akan tetap menjadi sesuatu yang
asing. Dalam konteks inilah Perda No. 5 Tahun 2003 tentang
pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara Sunda bisa direalisasikan
secara konkret.
Adanya ruang-ruang sastra Sunda di media massa berbahasa Sunda patut
disambut gembira. Namun demikian, agar ruang-ruang itu diisi dengan
meriah oleh karya-karya siswa, yang kelak menjadi sastrawan Sunda
terpandang di masa mendatang, program semacam SBSB dan SSSI layak
untuk dicontoh.***
Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/