Baruk kieu geuning kaayaan pangajaran kesenian Sunda kiwari... Forum Guru Lestarikan Seni Sunda di Lingkungan Sekolah Oleh Elis Kurniasih
KETIKA saya masih sekolah di SD (SD Cibodas), saya diajak ikut lomba pupuh dan kawih murangkalih oleh guru yang suka seni Sunda. Kata guru itu, saya berbakat jadi pengawih. Saya merasa senang, saya ikutan lomba, ujung-ujungnya saya jadi pemenang lomba itu untuk tingkat kecamatan (Kec. Tanjungkerta) dan tingkat kabupaten (Kab. Sumedang). Ketika saya melanjutkan sekolah ke MTs, bakat itu tak tersalurkan, karena guru kesenian di sekolah itu sepertinya tidak begitu tertarik pada seni Sunda. Guru lainnya, entahlah mungkin juga sama sekali tak menaruh perhatian pada seni Sunda. Ditambah tak ada lomba sejenis seperti di SD. Ketika saya melanjutkan ke MAN (MAN Cimalaka, alias eks PGA Cimalaka, Sumedang) kegemaran saya sedikit mendapat tempat. Di madrasah ini ada ekstrakurikuler seni degung. Selama saya jadi siswa di MAN itu, saya ikutan dan jadi juru kawihnya. Ekstrakurikuler ini hidup, tiap minggu rutin berlatih. Kadang ada juga orang hajatan yang memanggil untuk manggung. Dari MAN saya melanjutkan studi ke PGSD IKIP Bandung. Khusus di jurusan PGSD tidak diajarkan seni Sunda. Tapi bagi yang berminat menggauli seni musik Sunda, tersedia banyak saluran. Yang paling terkenal kelompok seni Kabumi (Karawitan Bumi Siliwangi), yang manjadi kebanggaan sekaligus trade mark seni musik di IKIP Bandung kala itu.. Secara akademik, tersedia juga jurusan khusus seni musik, yang mahasiswanya dicanangkan untuk jadi guru seni musik di SMP/SMA. Bagi yang masuk jurusan bahasa Sunda, ada juga ekstrakurikuler jurusan yang khusus mendalami seni gamelan Sunda. Begitupun di jurusan PGSD, ada ekstrakurikuler gamelan Sunda. Saya memasuki ekstrakurikuler yang di PGSD itu. Dari pengalaman dan pengamatan selama di IKIP, saya dapat menarik kesimpulan, perguruan tinggi bisa menjadi sumber inspirasi bagi pelestarian seni Sunda dengan pendekatan akademis. Kini saya mengajar di SD. Selain mendapat tugas pokok mengajar, oleh pimpinan sekolah saya ditunjuk untuk melatih anak-anak mengawihkan pupuh dan kawih murangkalih setiap ada perlombaan. Dari rentetan pengalaman yang saya sebutkan dapat disimpulkan, lembaga sekolah di Tatar Sunda dapat dijadikan lahan yang kondusif untuk menumbuhkembangkan seni Sunda. Asalkan, faktor penunjangnya harus tersedia. Meliputi (1) guru kesenian yang benar-benar menjiwai kesenian. (2) tersedianya seperangkat alat musik Sunda di sekolah. (3) adanya momen perlombaan kawih, gamelan, dan semacamnya. (4) adanya acara khusus yang di dalamnya ditabuh/dipertunjukkan gamelan Sunda. Jika keempat faktor itu tidak terpenuhi, kita tidak dapat berharap banyak seni Sunda bisa lestari di sekolah. Tanpa guru berbakat nyaris siswa pun tak mendapatkan motivasi berkesenian. (Ketika di SD, guru kesenian yang melatih saya pindah tugas. Otomatis, kesenian di sekolah itu pun mati). Tidak tersedianya alat musik, praktik menabuh gamelan sama sekali tak bisa terselenggara. Tanpa momen perlombaan, akan menjadikan guru dan siswa tidak merasa tertantang untuk bermain sungguh-sungguh. Konon, untuk ikut perlombaan, setidaknya diperlukan latihan yang intensif. Perlombaan itu sendiri menjadi tidak penting, tapi siswa berlatih secara sungguh-sungguh itulah yang dapat mendorong terciptanya situasi berkesenian di sekolah. Acara khusus seperti perpisahan kelas 6, pelepasan guru yang mau pindah tugas, atau penyambutan guru baru, dan peringatan hari-hari besar, sebaiknya dimeriahkan dengan mempertunjukkan kesenian daerah (degung, kacapi suling, calung). Pertunjukan ini merupakan momen tepat untuk menunjukkan kebolehan siswa. Jika saja pemerintah menghendaki terlestarikannya seni Sunda, maka dapat diambil upaya antisipatif ke arah itu. Misalnya, kepada setiap sekolah harus dikirim guru kesenian yang benar-benar berbakat seni, dan mau mengembangkan seni. Ini harus ditunjang oleh menyediakan alat-alat musik daerah (gamelan Sunda). Last but not least, dinas pendidikan kecamatan, kabupaten, dan provinsi harus menyediakan jadwal rutin tiap tahun atau tiap semester untuk perlombaan kesenian. Baik lomba pupuh, lomba kawih, atau lomba pertunjukkan kesenian Sunda lainnya. Dalam lingkungan intern sekolah, acara khusus sebaiknya disisipkan pertunjukan seni Sunda. Dengan cara itu, insya Allah seni Sunda tidak akan hilang tertelan zaman.*** Penulis, guru SDN Ciasih, Kec. Nusaherang, Kab. Kuningan, Jabar, yang juga pelantun kawih degung. Baktos, Rahman, Wassenaar/NL __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
