Keprihatinan Selimuti Ritual Sedekah Bumi

MENDUNG sepertinya menyelimuti ribuan tumpeng yang dijajarkan di
halaman Balai Desa Taman Sari, Kec. Lelea, Kab. Indramayu. Hanya,
mendung tadi bukannya gumpalan awan tebal nan hitam yang menggelantung
di langit, tetapi suasana hati dari para petani yang membuat tumpeng
untuk kewajiban ritual tradisional tahunan.

RIBUAN tumpeng dijajarkan di halaman Balai Desa Taman Sari Kec. Lelea
Kab. Indramayu, Rabu (23/11). Tumpeng ini sebagai syarat untuk upacara
tradisional sedekah bumi yang kini tengah dilaksanakan di
sentra-sentra pertanian setempat, sebagai penyambutan masuknya musim
tanam rendeng.*AGUNG NUGROHO/"PR"

Sedekah bumi, salah satu ritual tradisional yang berlangsung
turun-temurun, kali ini terasa lain dari biasanya. Keputusan
pemerintah menaikkan harga BBM tanggal 1 Oktober 2005 lalu,
benar-benar mempengaruhi pelaksanaan upacara tradisi tersebut.

Para petani mengemukakan hal itu. Rendi (70), tokoh adat di Taman Sari
yang Kamis kemarin menjalankan ritual sedekah bumi, mengemukakan soal
keprihatinan itu."Mbengen gawe tumpeng paling entok Rp 30.000,00,
kien, gara-gara BBM munggah, regane sampai Rp 75.000,00. Ayam bae kien
kuh Rp 20.000,00 dewek (Dulu, membuat tumpeng paling butuh Rp
30.000,00. Sekarang, gara-gara BBM naik menjadi Rp 75.000,00. Ayam
saja kini Rp 20.000,00 harganya)," tutur tetua adat yang pada ritual
kemarin memimpin doa di depan ribuan tumpeng di halaman balai desa.

Para petani mengaku terbebani, saat membuat tumpeng untuk sedekah
bumi. Hanya, mereka tetap merasa terdorong kewajiban menjalankan
ritual tradisional tahunan yang dilakukan setiap menjelang pelaksanaan
musim tanam (MT) rendeng.

Hari-hari belakangan ini, sebagian besar desa-desa sentra pertanian di
Kab. Indramayu tengah disibukkan dengan pelaksanaan ritual tersebut.
Hampir se-tiap hari selalu ada saja desa yang melaksanakan sedekah bumi.

Bagi masyarakat petani di daerah setempat, ritual itu tidak sekadar
rutinitas tahunan. Lebih dari itu, upacara tradisional itu sudah jadi
bagian dari kultur (budaya) yang menyiratkan simbol penjagaan terhadap
kelestarian kearifan lokal khas masyarakat agraris.

"Tanah itu sumber kehidupan. Manusia berasal dari tanah, kemudian
diberi penghidupan di atas tanah. Manusia lalu bertugas memelihara,
mengelola, dan menjaga tanah," begitu tutur Sadili Ardi, lebe yang
bertugas menyampaikan doa secara Islam pada ritual sedekah bumi itu.

Tidak banyak kegiatan dalam prosesi sedekah bumi. Para petani hanya
membuat tumpeng, kemudian dibawa ke balai desa dan diberi doa-doa.
Setelah itu, tumpeng diserahkan kepada si pembuatnya. Lalu dimakan
ramai-ramai, bisa di halaman balai desa, atau dibawa pulang dan
dimakan di rumah bersama keluarga.

Hanya, para petani biasanya memilih makan di halaman balai desa. Maka
jadilah, sedekah bumi yang tadinya diisi doa, berubah menjadi pesta
makan bersama.

Apalagi, begitu doa selesai, wayang semalam suntuk pun dimainkan.
Membawakan lakon wajib yang berkaitan dengan cerita sedekah bumi di
siang harinya, dan sejumlah lakon lainnya pada malam harinya.

Pelaksanaan doa atau awal ritual itu dilaksanakan usai salat zuhur.
Tetua adat, didampingi tokoh agama (biasanya lebe), melafalkan doa di
depan ribuan tumpeng.

Tetua adat melafalkan doa-doa yang kalimatnya merupakan campuran
antara bahasa Jawa (Jawa Dermayu) dengan khazanah doa Islam, sedangkan
lebe, bertugas melafalkan doa secara Islam.

Wayang dimainkan begitu doa selesai. Gamelan ditabuh mengiringi para
petani yang membawa kembali tumpeng dan memakannya ramai-ramai.

Di antara makanan yang menjadi tumpeng, yang pokok adalah nasi dan
ayam panggang, lainnya seperti minuman, buah-buahan dan lauk-pauk
sekadar tambahan. Nantinya, petani menyisakan nasi, kepala dan ceker
ayam, ketiganya dibungkus dan diletakkan di sudut petak sawahnya.

"Ini hanya simbol-simbol. Intinya kita mohon diberi keselamatan dan
tanam rendeng bisa berhasil," tutur Mardi (53), salah satu petani.
Sambil menikmati tumpeng, petani menonton wayang kulit. Lakonnya
berisi perjuangan kestaria Gatotkaca dan Arjuna dalam menciptakan agar
"Bumi Loka" (tanah) bisa membawa kesuburan sehingga petani bisa lancar
dalam menanam padi hingga panen melimpah.

"Wayang bercerita seputar kelahiran putra Arjuna, Abimanyu.
Diceritakan, saudara sepupu Abimanyu, Gatotkaca berjuang menciptakan
tanah yang bagus untuk mempersiapkan kerajaan buat Abimanyu di Bumi
Loka. Sedangkan ayahnya, dengan panah saktinya menghancurkan Bumi
Peteng agar menjadi terang melalui hujan melimpah sehingga tanah bisa
segera ditanami," tutur Maskana (31), salah satu anggota grup wayang
kulit yang main saat sedekah bumi di Taman Sari.

Sedekah bumi di Taman Sari dilaksanakan dengan prosesi ritual yang
tiap tahun dilaksanakan. Warga yang semuanya petani berkumpul sejak
pagi di halaman balai desa sambil membawa tumpeng.

Bertindak sebagai pembawa doa dalam bahasa Jawa, tetua adat, bernama
Rendi. Kemudian Sadilah Ardi, lebe yang memlafalkan doa secara Islam.
Petani tampak larut dalam kegembiraan. Mereka makan bersama dan
menikmati pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Sedekah bumi, menurut Rendi, hanya salah satu dari paket ritual
tradisional yang turun-temurun dilaksanakan masyarakat tani Indramayu,
termasuk Taman Sari. Ritual ini sebagai simbol penghormatan manusia
terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan. "Tanah perlu diberi
penghargaan. Ritual ini semata simbol untuk menunjukan penghargaan
manusia atas tanah yang memberi kehidupan," tutur dia dalam bahasa
Jawa khas Dermayu terputus-putus.(Agung Nugroho/"PR")***






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/LeSULA/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke