Jangan Sebut Cina

JANGAN katakan Tan Deseng sebagai etnis Cina sebab dia akan membuat
kita "sakit hati" bila mengatakan hal itu. "Sumuhun abdi orang Cina,
tapi leres anjeun orang Sunda? Punten, mana buktosna? (Betul saya
orang Cina, tapi betul Anda orang Sunda? Mana buktinya? red)."

Begitu dikatakan Mohammad Tan Deseng, pria keturunan Tionghoa dari
pasangan Tan Njing Hong dan Yo Wah Kie, yang akrab dipanggil Kang
Deseng (64), bila ada orang yang mengatakan dirinya sebagai orang
Cina. Sejak masa kecil hingga dewasa di bilangan Gang Tamim dan Ijang,
ucapan itu selalu terlontar, tapi tidak pernah digubris. Namun, orang
yang mengatai dirinya Cina akan merasa malu sendiri. Rasa malu dan
rendah diri karena dikatakan Cina berbalik menjadi suatu kebanggaan.
"Kalau boleh berbangga diri, saya merasa menjadi orang Sunda daripada
orang Sunda itu sendiri. Melalui seni degung kecapi suling, saya
merasa sudah memberikan setetes air ke lautan yang kini sudah keruh,"
tuturnya.

Setitik air itu tiada lain idealisme, kejujuran, dan kesetiaannya akan
seni Sunda, khususnya degung kecapi suling serta mamaos. Tiga modal
yang masih dipegang teguh, hingga kini sudah dibuktikannya dengan
membangun Kelompok Seni Pasundan Asih. Meski rumahnya selalu
berpindah-pindah, satu ruang selalu disisihkan untuk dijadikan tempat
latihan atau studio. Itu belum seberapa, setiap kali ditawari tampil
memperlihatkan kemampuannya memainkan alat musik petik maupun tiup
khas Sunda, ia tidak pernah menayakan berapa honor yang akan
diterimanya. "Seni bukan untuk dijual, apalagi di murah mareh. Tanpa
menjual seni Sunda pun, saya dan anak-anak masih bisa hidup dan makan
nasi," ujar bapak tiga anak dan kakek satu cucu ini, saat ditemui di
rumah kontrakan barunya di Jalan Babakan Jeruk III No. 16 Bandung.

Menurut Deseng, banyak seniman maupun budayawan yang merasa pintar
tetapi tidak merasa bodoh. Merekalah yang justru membuat seni Sunda
semakin terpuruk. Berbagai argumen dan pendapat yang merasa benar,
membuat generasi kini semakin bingung.

Seni Sunda saat ini, sedang mencari orang bodoh yang mencari
kepintaran bukan mencari orang pintar yang memperlihatkan kebodohan.
Sekarang ini, sangat berbeda dengan tahun 50-an, antara seniman dan
budayawan satu dengan lainnya saling mendukung untuk melestarikan dan
mempertahankan seni Sunda, bukan saling menjelekan atau menyanggah
argumen orang lain. Selama ini, seniman dan budayawan Sunda terus
menghibur diri bahwa seni Sunda masih ada dan bohong kalau sudah
punah. "Selama ini, banyak yang mementaskan seni Sunda tapi bukan seni
Sunda asli karena sudah dipengaruhi atau palsu. Jadi, tidak salah
kalau ada orang yang mengatakan, seni Sunda (asli) sedang menuju
kepunahan. Untuk itu, saat ini yang diperlukan adalah menyamakan
persepsi dan saling mengisi agar seni Sunda teu diganggayong ku urang
Sunda sorangan," tuturnya. (Retno HY/PR)*** 





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke