"Adol Bener" ala Mulyadi BRE REDANA
Di atas tanah seluas sekitar 6.000 meter persegi di bilangan Desa Ringinawe, Salatiga, Jawa Tengah, dia tengah membangun suatu tempat yang katanya akan menjadi semacam "meeting point" atau titik pertemuan untuk berbagai kepentingan bisnis (dan kalau perlu kebudayaan). Sebenarnya, proyek ini menjadi semacam etalase dari seorang pengusaha yang berhasil mengangkat diri dari pengusaha gurem menjadi pengusaha menengah. Banyak hal bisa dipelajari darinya, antara lain kepercayaansesuatu yang meluntur pada bangsa ini. Meski dalam sebutannya adalah "usaha menengah", tetapi usaha perkayuan Mulyadi, kelahiran Salatiga, 4 Desember 1953, adalah usaha kayu terbesar dalam skala kota kecil Salatiga. Pengolahan Kayu (PK) Mulyo yang dipimpinnya mempekerjakan tak kurang dari 500 pegawai. Itu belum terhitung para pemasoknya yang tersebar di berbagai kota, taruhlah dari kota yang menjadi sentra industri kayu seperti Jepara (di situ ada sekitar 25 pemasok), Kartasura, Karangjati, Ungaran, dan lain-lain. Usaha kayunya ini memproduksi mebel-mebel dengan berbagai model untuk diekspor ke Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Hongkong, Singapura, dan Australia. Sedang rencananya dengan tanah di Ringinawe tadi, di situ dia ingin membangun tempat persinggahan untuk menginap tamu-tamunya. Di tempat yang bakal dilengkapi dengan ruang pamer produk-produknya, restoran, kolam renang, dan spa ini dia berharap bisa muncul ide-ide untuk melakukan berbagai terobosan. Di tengah terabaikannya kegiatan ekonomi riil, sungguh kita perlu memberi perhatian khusus pada usaha-usaha seperti PK Mulyo ini. Bukan saja karena dalam kapasitasnya sendiri dia bisa menopang kesejahteraan pada lingkungannya, tetapi lebih penting bagaimana usaha seperti ini memberi inspirasi mengenai usaha berikut nilai hidup yang benar. Karena seperti berkali-kali dikatakan Mulyadi dalam bahasa Indonesianya yang "medok Jawa", prinsipnya dia hanya "adol bener" (menjual kebenaran). "Almarhum ayah saya yang selalu menekankan, kita ini hanya adol bener," ucapnya. Apakah adol bener itu? Bukankah itu kalau diterjemahkan secara lebih canggih, berarti pengertiannya adalah "trust", seperti ditekankan oleh filosof kehidupan masa kini, Francis Fukuyama? Minta maaf Dengarlah cerita perjalanan usahanya. Ayahnya, Mulyo Suwito (1925-2002), yang memulai usaha kayu ini. Mulyadi, anak lelaki satu-satunya, menceritakan sejak kecil dididik dalam kebiasaan hidup yang kalau ia renungkan kembali, intinya adalah nilai hidup efisien, rasional, jujur, menjunjung tinggi kebenaran (bener). Dia ingat, semasa remaja ayahnya mulai mengajarinya ikut mengurusi usaha penggergajian kayu. Dia diajak untuk mulai belajar berjualan. "Saya ingat, saat pertama kali saya berhasil menjual kayu batangan," kenangnya. Mulyadi remaja berhasil menjual 40 batang kayu seharga masing-masing Rp 12.000. Dengan bungah ia pulang ke rumah, menceritakan pada ayahnya tentang hasil penjualannya. Sang ayah mengernyit dahi. "Satu batang harganya cuma Rp 9.000," kata sang ayah. Mulyadi kaget ketika ayahnya menganggap anaknya ini menjual dengan harga terlalu tinggi. Dia diminta untuk mengembalikan kelebihan uang pembayaran tersebut. "Petang hari saya kembali ke rumah pembeli itu sambil minta maaf tadi salah hitung dan harganya kelebihan. Pembeli itu memang kami kenal, saya bilang, nyuwun sewu...," cerita Mulyadi. Nilai hidup ditanamkan dalam keluarga lewat hal-hal kecil semacam itu. Menurut ayahnya, dengan menjual satu batang Rp 9.000 saja mereka sudah mendapat keuntungan. Bisnis harus dijaga kelangsungannya, tidak terpana pada hal-hal yang sifatnya sesaat. Waktu terus berjalan. "Saya menjadi pemasok mebel kecil-kecilan untuk seorang pengusaha di Semarang," ceritanya. "Sampai kemudian, seorang pembeli dari Australia datang sendiri kepada saya, menyatakan ingin bekerja sama langsung dengan saya, tidak lewat pengusaha di Semarang itu. Saya tidak mau melakukan potong kompas seperti itu. Saya katakan pada dia (maksudnya pembeli dari Australia itu) bahwa saya harus bicara bahkan minta izin dulu dari pengusaha di Semarang tadi," kata Mulyadi, menceritakan prinsip-prinsip bisnisnya. Ternyata, pihak pengusaha di Semarang itu memang sudah hendak menutup usahanya. Dengan sendirinya, Mulyadi merasa tidak punya beban untuk berhubungan langsung dengan pembeli dari Australia yang tadinya ia kenal lewat pengusaha di Semarang itu. "Nol puthul" Pintu mulai terkuak. Lewat jalan setapak yang mulai terbuka, Mulyadi berhubungan dengan beberapa pembeli dari Australia. Sampai akhirnya terbersit dalam benaknya dia harus bisa berkomunikasi lebih baik lagi dengan para pembelinya dari Australia. "Bahasa Inggrisku nol puthul," kata Mulyadi menggambarkan kemampuannya berbahasa Inggris yang sangat tidak memadai waktu itu. Dia mulai belajar bahasa Inggris. Ia pasang pula antena parabola di rumahnya agar bisa menangkap siaran-siaran televisi berbahasa Inggris untuk melatih listening comprehension. Dengan modal bahasa Inggris secukupnya kemudian dia memutuskan pergi ke Australia, menemui beberapa pembelinya secara langsung di Perth dan Sydney. "Saya hanya ingin mendengar dari mereka, apakah mereka punya masalah dengan barang saya. Yang kedua, saya ingin mendengar dari mereka, apa yang tidak mereka sukai pada orang Indonesia," katanya. Untuk hal kedua itu, yakni apa yang umumnya tidak mereka sukai atas orang Indonesia, mereka berujar, orang Indonesia selalu bilang apa saja bisa. Hanya saja janji-janji itu tidak pernah terpenuhi. "Saya belajar, banyak orang Indonesia mblenjani janji (tidak menepati janjiRed). Untuk saya sendiri, sudah terbiasa, iso bilang iso (bisa bilang bisa), tidak ya tidak...." Sedangkan untuk hal pertama, yakni menyangkut kualitas barang yang dia kirim kepada para pembeli dari Australia itu, dia ingin mendapat masukan, apa saja kekurangannya. Mereka menunjukkan padanya contoh-contoh barang yang dikirim para pengusaha dari Indonesia. Spons sofa misalnya, penyok, jahitan tidak rapi, ada bekas sayatan pisau pada kulit sofa, dan hal-hal lain yang menunjukkan ketidakcermatan pada detail. Mulyadi bertekad memproduksi barang-barang yang tidak mengandung cacat-cacat seperti di atas. Kepada para pembelinya di Australia dia menyatakan minta ditegur kalau ada kekurangan-kekurangan. Sebaliknya, kalau mereka puas tolong juga beri tahu dia. Itu untuk tahap pertama. Tahap berikutnya, kalau memang barang-barangnya lolos uji, dia minta para pembeli itu memberi uang muka terlebih dahulu. Pada tingkat ini dia juga meningkatkan tanggung jawabnya, bila barang tidak memuaskan dia siap diklaim. "Ternyata mereka mau dengan cara seperti itu," katanya. "Adol bener" Dari nol puthul Mulyadi sedikit demi sedikit meluaskan usahanya, termasuk jaringan ekspornya. Belajar dari pengalaman Australia, dia bisa membuka jaringan dengan pihak pembeli dari Amerika Serikat, dengan pembeli dari Inggris dan Belanda untuk Eropa, dan Singapura dan Hongkong untuk Asia. Dia mengaku bisa membesarkan usahanya dari uang muka yang diberikan para calon pembelinya di luar negeri ini. Ayahnya, yang saat itu masih hidup, demi melihat kiprah anaknya merasa sudah waktunya untuk mundur dari perannya memimpin perusahaan. "Ayah saya mundur, dan memilih jadi pegawai di perusahaan ini," kenang Mulyadi akan ayahnya. "Dia tidak tahu apa saja yang saya lakukan di luar negeri kalau saya melakukan perjalanan ke luar negeri. Tetapi, saya selalu minta izin setiap kali mau berangkat atau berencana mengadakan suatu perjalanan bisnis. Bagi saya, pamitan (kepada Ayah) itu maknanya adalah 'pengakuan' terhadap orangtua, sekaligus minta doa restu. Kalau dia bilang 'karepmu' (terserah kamuRed) saya tidak akan berani berangkat. Karena ada pengakuan, orangtua kita menjadi sehat." Mulyadi menunjukkan truk Fiat kuno yang fungsinya diubah menjadi truk derek (katrol) di tengah lahan di pabriknya di daerah Bener, pinggiran Salatiga. Truk itu dia jadikan semacam monumen. "Itu saya jadikan benda yang mengingatkan saya pada kerja keras dan sikap solider Bapak. Bapak mengubah sendiri truk itu menjadi alat derek untuk menderek log. Itu tahun 1970-an. Kalau ada kecelakaan (kendaraan) di Salatiga, truk itu dipinjamkan untuk menderek kendaraan yang kena musibah. Tentu tidak dikenai ongkos. Bapak menasihati saya, orang kesusahan harus kita tolong," cerita Mulyadi sembari menunjukkan truk tua tersebut. Ketika ayahnya meninggal dunia di tahun 2002, melihat begitu banyaknya pelayat ia merasa terhibur dan merasa bangga atas jejak yang ditinggalkan ayahnya. Ia tidak menangis. Ia justru menangis ketika beberapa hari kemudian kembali bekerja dan di pabrik melihat truk tua tadi. Ia menjadi teringat percakapan dengan ayahnya beberapa saat sebelum ayahnya meninggal. "Bapak, dulu kita tidak punya apa-apa, hidup kita tenang. Tetapi sekarang, kita punya apa-apa, saya sering merasa khawatir," begitu Mulyadi menceritakan percakapan dengan ayahnya. Sang ayah menjawab, "Itu bagus. Kamu menjadi hati-hati. Aku tadinya sudah khawatir, kita jadi besar dan kamu menjadi 'gila'. Ingatlah, kita berdua ini bukan orang pintar, kita hanya adol bener." Sederhana: tetapi seberapakah orang yang masih bersikukuh dengan "bener" di masa ini, di negeri ini http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
