Menjaga Sejarah Naluri DAHONO FITRIANTO & EDNA C PATTISINA
Masyarakat Jawa Tengah pada umumnya sudah tidak merasa asing lagi dengan candi. Candi, sebagai penanda bahwa peradaban tinggi telah dimulai di wilayah ini sejak lebih dari seribu tahun silam, sangat banyak bertebaran di paruh sebelah timur Jawa Tengah. Beberapa di antaranya berukuran sangat besar dan namanya tersohor hingga ke seluruh penjuru bumi, seperti Borobudur dan Prambanan. Namun, jauh lebih banyak lagi adalah candi-candi kecil yang bertebaran di pelosok-pelosok desa dan pedalaman lereng-lereng pegunungan, yang namanya bahkan masih sangat asing di telinga. Bangunan batu yang dibuat dengan perhitungan arsitektur matang dan ragam hiasan seni tingkat tinggi tersebut dulunya menjadi bagian penting peradaban masyarakat Jawa kuno karena merupakan tempat mereka menjalankan laku spiritualnya sesuai ajaran agama yang mereka anut saat itu, yakni Hindu atau Buddha. Menurut arsitek dan budayawan asal Semarang, Andi Siswanto, berlandaskan pemahaman sistem kepercayaan dan filosofi spiritual itulah candi-candi tersebut dibangun sehingga pembangunannya tidak sembarangan dan hingga kinibelasan abad kemudianbangunan-bangunan tersebut masih bertahan. Kini, candi-candi yang dibangun oleh leluhur masyarakat Jawa modern tersebut seolah-olah hanya menjadi simbol sebuah peradaban yang lain, yang terputus dengan silsilah orang Jawa masa kini. Nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya nyaris hilang sama sekali. Tidak jarang generasi muda zaman sekarang sudah kehilangan jejak pemahaman terhadap makna peninggalan tersebut, bahkan sekadar dari sisi nilai sejarahnya saja. "Buat apa lihat candi? Tumpukan batu kok dilihat," demikian kira-kira pemikiran kebanyakan generasi muda sekarang. Akan tetapi, di tengah-tengah masyarakat yang telah bergeser orientasi nilai-nilainya, masyarakat yang lebih mementingkan materi daripada spiritualitas, yang lebih individualis daripada komunal, ada sebagian masyarakat yang merasa masih memiliki "hubungan batin" dengan candi-candi tersebut. Mereka adalah masyarakat yang tinggal di sekitar candi-candi tersebut secara turun temurun. Bagi mereka, candi masih dianggap berharga dan memiliki nilai spiritualitas, meski dalam bentuk yang mungkin berbeda dengan spiritualisme si pembangun candi. Dalam beberapa kesempatan, "tumpukan batu" tersebut masih menjadi pusat kehidupan masyarakat yang menyatukan mereka dalam kegiatan-kegiatan komunal bernuansa spiritual. Sejarah naluri Bagi masyarakat Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, hubungan spiritual mereka dengan candi masih sangat dominan. Di sebuah dusun bernama Tawangrejo di kecamatan itu, yang terletak di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1.500 meter di atas laut, terdapat kompleks Candi Cetho. Hingga kini, masyarakat setempat masih menganggap sakral dan menggunakan candi yang dibangun komunitas masyarakat Hindu pada akhir abad ke-15 tersebut sebagai tempat peribadatan. Hal tersebut bukan sesuatu yang aneh, mengingat hingga kini sebagian besar masyarakat Jenawi beragama Hindu. "Candi Cetho, selain sebagai situs purbakala dan obyek wisata, juga masih aktif digunakan masyarakat sebagai pura," tutur Cipto Sukiyem (41), salah satu petugas perawat dan penjaga candi tersebut. Meski secara arkeologis situs Candi Cetho sudah "ternoda" akibat pemugaran yang tidak mengindahkan perhitungan ilmu kepurbakalaan pada 1978 lalu, kesakralannya di mata masyarakat setempat tidak pernah luntur. Bahkan, umat Hindu dari luar Jenawi, seperti dari Bali, banyak yang berkunjung ke Candi Cetho untuk beribadah. Dalam istilah yang dikatakan Cipto, masyarakat Tawangrejo terikat dengan "sejarah naluri" para pendiri candi tersebut. "Meski candi itu dulunya sempat terkubur tanah dan tertutup hutan dan kami tidak tahu persis siapa yang membuatnya, kami yakin bahwa siapa pun yang membangunnya adalah leluhur kami. Kami menjaga sejarah naluri nenek moyang kami," ujarnya. Spiritualitas memang sebuah naluri dasar manusia. Seluruh sekat yang selama ini mengotak-kotakkan manusia menjadi lebur di tingkat pencarian jati diri tertinggi tersebut. Karena itu tidak heran apabila perasaan yang dialami Cipto dan masyarakat Tawangrejo juga dirasakan penduduk di sekitar Candi Gedong Songo di Dusun Ndarum, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang terpisah jarak ratusan kilometer. Salah satu kompleks candi tertua di Jawa di lereng Gunung Ungaran yang dibangun oleh Dinasti Sanjaya pada tahun 700-an Masehi tersebut saat ini fungsi utamanya adalah obyek wisata andalan yang terus dipromosikan Pemerintah Kabupaten Semarang. Namun, di tengah-tengah hiruk pikuk wisatawan, kepadatan warung-warung tenda warna-warni, dan derap kaki kuda pembawa turis, kita masih menemukan bekas dupa terbakar dan bunga segar yang ditabur di dalam ruangan candi. Jejak sebuah laku spiritual yang masih aktif dijalankan. Jejak yang sama juga bisa kita temukan di kompleks percandian Dieng, sekitar 200 kilometer sebelah barat Gedong Songo. Bekas dupa-dupa yang terbakar dan sisa-sisa bunga mawar dan melati terlihat berserakan, terutama di Candi Arjuna dan Candi Semar, dua candi yang dianggap paling sakral di kompleks tersebut. Menurut Dremo (55), penduduk asli Dusun Ndarum dan pemilik warung di kawasan wisata Candi Gedong Songo, pemasang dupa dan bunga tersebut biasanya adalah pengunjung candi dari tempat-tempat yang jauh. "Setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon banyak orang datang bersemadi di Candi I untuk meminta pelarisan, bisnis lancar, dan keselamatan," kata Dremo. Namun, di samping pengunjung dari luar, penduduk Ndarum sendiri, menurut Dremo, masih menganggap sakral candi-candi di Gedong Songo, terutama candi pertama yang dianggap lebih sakral dari empat kelompok candi lainnya di kompleks tersebut. "Setiap tanggal 10 bulan Ruwah (bulan Sya'ban dalam penanggalan Islam), penduduk sini masih rutin menggelar nyadran (sebuah tradisi selamatan menjelang memasuki bulan puasa) di Candi I. Kalau ada yang mau punya gawe, seperti menikah atau membangun rumah, kami juga selamatan dulu di Candi I," papar Dremo. Tradisi yang sama juga dilakukan masyarakat di sekitar Candi Cetho. Menurut Cipto, sebelum penduduk melaksanakan hajat penting, seperti mendirikan rumah, mereka mengadakan selamatan di salah satu sudut candi yang mereka namakan Ki Ageng Krincingwesi. Selain itu, dua kali setahun, pada saat bulan purnama pada malam Anggara Kasih atau Selasa Kliwon, penduduk Tawangrejo menggelar acara tradisi Padangsiyo. Dalam acara tradisi semacam bersih desa atau sedekah bumi tersebut dimainkan bentuk tari Gambyong yang dianggap sakral di halaman candi. Sementara di Candi Sukuh yang terletak beberapa kilometer di sebelah barat Candi Cetho, rutin digelar acara tradisi selamatan setiap malam Jumat Kliwon pada bulan Sura (bulan pertama dalam kalender Jawa, sama dengan bulan Muharram dalam penanggalan Islam). Selain itu, puncak candi berbentuk piramid terpancung seperti piramid-piramid peradaban Maya di Amerika Selatan tersebut sering digunakan untuk meditasi orang-orang yang datang dari luar daerah. "Saya sering mengantar orang bermeditasi di puncak candi. Biasanya menjelang tengah malam, sekitar satu jam. Mereka datang dari jauh, ada yang dari Semarang, Surabaya, bahkan Jakarta," tutur Sunarto (47), penduduk setempat yang menjadi penjaga candi. Latar legenda Tak kalah menariknya adalah kepercayaan para penduduk asli tersebut terhadap kisah legenda yang melatarbelakangi setiap candi. Penduduk Dusun Ndarum, misalnya, percaya bahwa Candi Gedong Songo dibangun pada masa sebelum ada manusia dan mengaitkannya dengan legenda pertarungan Anoman dan Dasamuka alias Rahwana dalam kisah pewayangan Ramayana. "Karena Dasamuka tidak bisa mati, maka oleh Anoman dia ditindihi gunung ini. Asap yang keluar dari sana itu kan napasnya Dasamuka," ujar Dremo sambil menunjuk gumpalan uap yang keluar dari sumber air panas dan gas belerang di lereng Gunung Ungaran. Dremo juga menambahkan, Candi Gedong Songo adalah sebuah kompleks candi yang belum jadi. "Seharusnya ada sembilan candi, makanya namanya Gedong Songo (songo berarti sembilan dalam bahasa Jawa). Tetapi candi yang ada cuma ada tujuh," kisahnya. Menurut legenda, kesembilan candi tersebut seharusnya selesai dalam waktu semalam. Namun, karena sebelum malam berakhir seorang penduduk desa di dekat candi telah bangun dan menyapu halaman rumahnya dengan sapu lidi, sang pembuat candi mengira hari telah pagi dan menghentikan pembangunan candi. "Istilahnya kemanungsan atau ketahuan manusia. Makanya sampai sekarang penduduk Ndarum tabu menyapu pakai sapu lidi sebelum matahari terbit," tutur Dremo dengan raut wajah serius. Selain itu, penduduk Ndarum juga menganggap dusun tetangganya telah kena kutuk sang pembuat candi karena dari situlah asal orang yang menyapu saat pembangunan candi belum selesai tadi. "Sampai sekarang, di dusun itu banyak perawan tua, karena kena ujar (kutuk)," tambahnya. Tak disangka, kisah legenda yang mengingatkan kita pada legenda Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang berkaitan dengan Candi Prambanan tersebut ternyata dipercaya pula oleh penduduk di sekitar Candi Cetho dan Sukuh. "Yang membuat candi ini sebelumnya membuat Candi Plerenan di Jawa Timur, tetapi tidak jadi karena kemanungsan. Terus pindah ke sisi barat Gunung Lawu untuk membuat Candi Cetho, tetapi tidak sempurna juga karena keburu kemanungsan lagi. Akhirnya datang ke sini untuk membangun Candi Sukuh, tetapi lagi-lagi tidak sempurna karena kemanungsan lagi. Makanya Candi Sukuh bentuknya terpotong gitu, dan di dekat sini ada dusun yang banyak perawan tuanya karena kena ujar," papar Sunarto sambil menambahkan nama Sukuh merupakan singkatan dari kalimat kesusu nanging baku kukuh (dibangun terburu-buru tetapi gagah dan kokoh). Terlepas dari bentuk spiritualisme yang mereka jalankan dan legenda yang mereka percayai, hubungan harmonis penduduk setempat dan candi di dekatnya membawa dampak positif terhadap kelestarian bangunan candi dan lingkungan alam di sekitarnya. Dengan memercayai bangunan dan lingkungannya sebagai tempat yang sakral atau keramat, penduduk secara sadar menjaganya dengan sungguh-sungguh. Penduduk Ndarum setiap malam bergantian menjaga dan meronda kompleks Candi Gedong Songo. Sementara keluarga Cipto di Tawangrejo telah turun temurun menjaga kompleks candi sekaligus pura di Candi Cetho. "Selain ngeruri (menjaga) peninggalan leluhur, kami juga khawatir patung-patung di dalam candi dicuri orang buat dijual di luar negeri," tutur Cipto. Para penjaga sejarah naluri itu pada akhirnya bermuara pada naluri mendasar lain yang dimiliki manusia, yaitu mencari harmoni kehidupan . http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
