Mun teu salah mah, ieu ge pernah diobrolkeun di ieu forum nya? Redefinisi Gelar Haji Oleh GEDE H. CAHYANA
IDULADHA awal tahun 2006 ini "mewisuda" kurang lebih 2,5 juta umat Islam dari seluruh dunia menjadi haji dan hajah. Mabrurkah mereka? Pulang ke tanah air membawa gelar dan disematkan di depan nama, tetapi tetap menyisakan pertanyaan di benak masing-masing, mabrurkah hajiku? Berikut ini ada kisah seputar gelar haji hasil "wisuda" tahun lalu. Seorang "yang dituakan" di sebuah daerah marah-marah, setidaknya kesal karena ia dipanggil dengan namanya saja, tak didahului oleh sebutan haji. Ia ingin namanya diperpanjang dan sudah pula diumumkan lewat kenduri sebelum dan sepulang dari ibadah haji tahun lalu. Dalam surat undangan pun sudah ditulisnya dengan jelas gelar barunya itu. Ia dan istrinya mencantumkan gelar H dan Hj di kartu undangan selamatan. Sudah puluhan juta, mungkin mencapai 67 juta rupiah uangnya habis untuk biaya ke Mekah dan biaya kendurinya berdua. Bayang-kan uang sejumlah itu setara dengan biaya kuliah S-1 di universitas swasta kelas menengah. Kalau mahasiswa yang lulus berhak mengenakan gelar sarjana, misalnya S.T, S.Si, S.H, dll lalu mengapa dia yang sudah mengeluarkan biaya besar ke luar negeri, ke Arab tak dihormati dengan gelarnya itu? Inginlah dia mendengar tetangganya memanggilnya dengan Haji Fulan, Hajah Fulanah. Sesungguhnya perilaku tersebut sudah lumrah di masyarakat kita. Jamak pula orang-orang memberikan penghormatan demikian. Malah ada orang yang belum pernah ke Mekah, salatnya masih Senin-Kamis, tetapi lantaran memakai kopiah putih setiap pergi naik-turun bus selalu saja disapa dengan "Ua Haji". Yang disapa merasa diangkat derajatnya sehingga ketagihan memakai kopiah putih. Begitulah, gelar haji sudah menjadi "candu" bagi masyarakat. Sebab, masyarakat menganggap rukun kelima dalam Islam ini sebagai puncak ibadah. Orang meletakkan rukun kelima itu sebagai puncak piramid dan empat rukun lainnya mengisi empat sudut piramid. Artinya, jika diterjemahkan secara grafis, empat rukun: syahadat, salat, zakat, dan saum adalah fondasinya dan haji adalah puncaknya. Betulkah demikian? Dalam ceramah sering terdengar ungkapan bahwa salat adalah tiang agama. Jika salatnya baik, baiklah amalnya yang lain. Berarti kalau dikembalikan ke ujud piramid, maka salat berposisi di semua sudut piramid. Tanpa salat, runtuhlah agama seseorang seperti halnya keruntuhan piramid. Tetapi kenapa ibadah haji yang justru dianggap puncak segalanya, diyakini sebagai penyempurna ibadah? Betulkah rukun Islam itu deret aritmetika yang secara logika berarti syahadat yang pertama lalu disusul salat, zakat, saum, dan haji? Mana yang lebih penting, apakah sahadat ataukah haji? Apakah salat ataukah saum Ramadan? Banyak kaum Muslimin meyakini dan merasa berdosa jika tidak salat. Banyak yang merasa berdosa jika tidak saum Ramadan. Tetapi nyaris mengabaikan dan tak merasa berdosa jika tidak berzakat. Juga merasa biasa-biasa saja jika belum berhaji. Artinya, ibadah yang melibatkan uang apalagi sangat mahal biasanya tak terlalu dipandang serius. Lebih senang mereka berkata bahwa dirinya belum mampu berzakat dan haji. Zakat, apalagi haji, dipandang puncak pencapaian ibadah. Namun kenyataannya banyak juga yang berhaji tetapi tidak salat, tidak saum, tidak zakat. Hanya syahadat yang pernah diikrarkannya, itupun lantaran keturunan dan sudah lama pula kejadiannya, bertahun-tahun lalu saat salat di surau dekat rumah waktu tinggal di kampung. Jika demikian, mana sebetulnya yang paling tinggi kedudukannya, apakah syahadat, salat, zakat, saum, ataukah haji? Akan lain halnya jika kita mendudukkan rukun Islam itu dalam struktur pentagon. Semua titik rukun Islam berada sama tinggi (bukan sama rendah). Tetapi perlu diingat bahwa pintu masuk utama "gedung" pentagon Islam itu adalah di titik syahadat. Di sinilah gerbang (main gate) untuk menuju titik-titik lainnya lewat selasar dalam keutuhan dinul-Islam. Poligon ini pun menegaskan kesetaraan empat rukun lainnya, tak ada yang lebih utama daripada yang lain. Jika demikian, kenapa dikatakan salat sebagai tiang agama dan kalau baik salatnya, baik pula amalnya yang lain. Ini bisa dijawab apabila kita memosisikan salat tidak sekadar ibadah ritual tapi meluas ke kegiatan sehari-hari. Bolehlah dikatakan, bekerja adalah wujud nyata salat, menjadi anggota DPR/D adalah ejawantah salat, menjadi presiden dan menteri adalah percikan salat. Menjadi pelajar, mahasiswa, tukang cukur, tukang salon, polisi, sopir angkot, tukang becak, guru, mahaguru, anggota BPK, KPK, KPU, MA, hakim, jaksa, tentara, pengamat, penulis, pedagang, dan ribuan lagi profesi lainnya adalah realisasi salat. Bahkan zakat pun, yang jelas-jelas menjadi rukun Islam lainnya bisa dikatakan sebagai pengamalan salat. Logislah perintah salat diikuti perintah zakat dalam banyak ayat Alquran. Tegakkan salat, tunaikan zakat. Implikasi lain dari pentagon rukun Islam ialah redefinisi gelar haji. Artinya, kedudukan haji tak lebih tinggi ketimbang rukun Islam lainnya. Yang membuatnya lebih tinggi daripada rukun lainnya lantaran beban ekonominya yang amat tinggi. Selain itu, karena ibadah lainnya sudah rutin dilaksanakan. Salat dilaksanakan minimal lima kali sehari-semalam. Seakan-akan orang tak perlu bercita-cita untuk melaksanakan salat seperti bercita-cita melaksanakan haji. Saum Ramadan pun setiap tahun dilakoni selama satu bulan. Zakat pun bisa ditunaikan per bulan jika sudah mencapai nisabnya. Adapun syahadat, jika mengacu pada salat, sudah pula ajek diikrarkan saat salat. Tetapi haji? Banyak sekali orang Indonesia yang sampai wafat pun tak sempat ibadah haji. Kendala ekonomilah yang paling umum. Berikutnya kendala kesehatan, lalu kendala keimanan. Banyak orang kaya dari hasil bisnis halal, bukan KKN, sesekali salat, sudah pula saum Ramadan, dan telah sadar membayar zakat fitrah (tapi belum mau berzakat maal) tetap saja merasa berat ke Mekah. Adakah ini karena belum mendapat hidayah? Tidakkah hidayah itu mesti dicari dan disongsong, bukannya diam sembari mengklaim dirinya belum dihidayahi Allah? Dari mana dia tahu belum dihidayahi? Itu semua hanyalah prasangkanya, dugaannya saja yang tanpa dasar. Jika redefinisi gelar haji diberlakukan, tak seorang pun akan mau melekatkan huruf H atau Hj di depan namanya. Jika pentagon Islam dituruti, orang-orang yang tetap bersikeras mencantumkan H dan Hj di depan namanya seharusnya mencantumkan juga huruf S karena sudah salat, huruf Z karena sudah zakat, huruf SR karena sudah saum Ramadan. Kenapa tidak dilakukan? Bukankah pentagon Islam telah menyetarakan kedudukan kelima rukun Islam itu dengan menyatakan titik syahadat sebagai gerbang utamanya? Apabila haji tetap didengung-dengungkan lebih tinggi daripada zakat misalnya, maka yakinlah perbaikan ekonomi umat takkan pernah terjadi. Sebaliknya, sikap egois dan pamer dirilah yang muncul. Mereka lebih senang menggunakan uangnya untuk ke Mekah, bahkan berkali-kali ke Mekah, ketimbang untuk membantu saudara Muslimnya yang sangat-sangat membutuhkan uang, baik untuk konsumsi maupun untuk pendidikan. Sebagai penutup saya kutipkan kisah ini. Ada orang yang bercita-cita ibadah haji. Bertahun-tahun ia kumpulkan uangnya untuk ongkos ibadah haji. Ketika tiba waktunya untuk berangkat, kebetulan tetangganya sakit keras dan tak punya biaya. Akhirnya uang ongkos itu diberikannya kepada tetangganya untuk biaya operasi dan perawatan. Dia gagal pergi ke Mekah tahun itu. Tahun depan belum tentu dia punya uang sebanyak itu dan harus dikumpulkan lagi seribu demi seribu rupiah. Mendapat gelar hajikah orang yang gagal berangkat itu? Logika piramid yang menempatkan haji di puncaknya pasti mengatakan bahwa orang itu tak bergelar haji. Sebagai ibadah puncak, haji haruslah ke Mekah. Tetapi yang terjadi, menurut riwayat, justru secara de facto orang itu bergelar haji walaupun de jure dia tak pernah tawaf, sa'i, jumrah, mabit, wukuf, dll proses ritual haji. Apa pasalnya bisa begitu? Itulah pentagon rukun Islam, kesetaraan dalam ibadah. Neraca haji seimbang dengan neraca rukun Islam lainnya. Gelar yang diperoleh sepulang dari Mekah hanyalah berunjuk nama di depan manusia. Hanyalah sapaan dari rekan sejawat dan kerabat. Hakikatnya, Allah sajalah yang bakal menggelari seseorang dengan haji, syahdan kepada orang yang tak pernah menginjak tanah Arafah. Wallahu'alam.*** Penulis, Dosen Universitas Kebangsaan Bandung, penulis buku "Mencari Allah. Dari Kuta Bali ke Salman ITB". http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
