Krisis Paruh Baya Budiarto Shambazy
Hampir di setiap bidang penegakan hukum di negara ini sejumlah aparatnya justru melakukan perbuatan yang tak berhati nurani. Tidak sedikit polisi, hakim, jaksa, petugas pajak, aparat Bea dan Cukai, sampai aparat imigrasi yang tertular virus korupsi. Jangan salahkan kalau masyarakat menjadi bertanya-tanya, apa bedanya polisi dengan maling? Wajar juga jika masyarakat malas melaporkan tindak pidana atau perdata karena semuanya tergantung dari uang. Sudah sejak dulu setiap perusahaan memalsukan sedikitnya tiga laporan pajak. Satu untuk penggunaan internal, satu untuk perusahaan mitra dari luar negeri, dan satu lagi ya untuk bapak-bapak yang mengurus pajak. Urusan pajak nyaris sama dengan urusan bea dan cukai. Beberapa hari lalu bantuan beras 150.000 ton untuk korban tsunami di Aceh tahun 2004 ternyata masih teronggok di Pelabuhan Belawan hanya karena urusan tidak lancarnya fulus. Pejabat-pejabat imigrasi di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan tega memeras warga kita yang bekerja mati-matian. Bahkan, biaya ibadah haji para pejabat pun dikorupsi dari Dana Abadi Umat yang sudah lama dikumpulkan. Rakyat mengalami apa yang disebut political fatique atau kelelahan politik, sebuah penyakit yang sulit dicarikan obatnya. Kalau metal pesawat terbang kelelahan politik, akibatnya adalah celaka. Mungkin setiap warga sudah tidak lagi kecewa, sambil berharap semoga saja jalannya pemerintahan sesuai dengan rencana. Harapan rakyat kepada legislatif pusat maupun daerah sebenarnya sudah sirna. Namun, layakkah kita merasa terus-terusan merana? Tidak, itu bukan pilihan kita. Jangan khawatir, sebenarnya di tengah kesusahan banyak cerita yang membanggakan yang diperlihatkan oleh sebagian dari kita. Perempuan-perempuan kita sudah mahir menyopir busway, pilot-pilot kita disewa perusahaan-perusahaan penerbangan luar negeri, dan pelajar-pelajar kita berlangganan memenangi olimpiade fisika. Tak sedikit pengusaha menengah dan kecil dan jujur yang tak pernah putus asa. Saya bangga melihat dua teman pengusaha kecil yang telah menciptakan lowongan kerja. "Terlepas dari berbagai kesukaran yang dihadapi bangsa ini, masa depan kita pasti akan cerah." Itulah sepenggal kalimat yang ditulis di dalam surat kiriman seorang sesepuh bangsa ini, yang ikut angkat senjata melawan Belanda untuk mencapai kemerdekaan tahun 1945. "Old fighters never die, they just fade away," kata sebuah pepatah. Terlalu banyaklah pejuang yang pantang mundur menghadapi zaman edan yang kita hadapi ini, yang jumlahnya mungkin tak lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah taman makam pahlawan yang bertebaran di kota-kota. Tentu tidak sukar memahami mengapa generasi pejuang, yang usianya di atas 70 tahunan, bersikap begitu. Pengucap teks proklamasi di RRI, Pak Jusuf Ronodipuro, sembari tersenyum suka bergurau mengucapkan kalimat, "What can we do?" Beberapa surat isinya merupakan keluhan terhadap kesulitan hidup sehari-hari. Seorang bapak, misalnya, gara-gara kenaikan harga BBM 1 Oktober 2005 terpaksa menghentikan langganan koran yang selama 22 tahun telah menjadi kawan setia dia setiap pagi. Dalam ekonomi rumah tangga, berhenti berlangganan koran atau majalah merupakan pilihan satu-satunya. Tak mungkinlah si bapak itu mencoret item lain yang lebih penting, seperti membayar uang sekolah anak, listrik, air, sampah, keamanan, dan sejenisnya. Tak sedikit surat elektronik dari orang-orang bertanya apa gerangan yang bakal terjadi di negeri ini. Saya menjawab, "Bukan salah bunda mengandung, buruk suratan tangan sendiri." Ada juga yang bertanya, benarkah kita ini bangsa yang sudah dewasa? Saya jawab, wujud sebuah bangsa tak ubahnya atau hampir miripdengan perubahan usia manusia. Usia kita sebenarnya belum dapat dikatakan tua meskipun sudah tidak muda-muda amat. Kalau dihitung sejak dari zaman kemerdekaan sampai sekarang, kita sudah melewati usia setengah abad. Entah kenapa kita suka membagi usia kita dengan era kekuasaan presiden-presiden kita. Ini sebenarnya konsep yang sama sekali salah. Presiden Soekarno memimpin Orde Lama, Presiden Soeharto presiden masa Orde Baru, dan setelah itu kita konon memasuki era Reformasi. Pembagian inilah yang membuat kita sering kali menjadi salah persepsi. Kalau disamakan dengan manusia, usia kita sebenarnya masuk ke kelompok paruh baya. Kita bukan lagi remaja atau pemuda, tetapi juga belum masuk ke usia benar-benar tua. Dari segi kemampuan fisik, usia paruh baya sebetulnya sudah mulai kehilangan tenaga. Namun, kadang kala kita masih saja suka kalap mau menyerbu negara-negara tetangga. Manusia paruh baya suka sering melupakan kepentingan keluarga. Makanya, jangan heran jika para pejabat kita tak mampu membedakan antara uang pribadi dan uang negara. Manusia paruh baya bisa tiba-tiba kepingin memiliki sedan mewah yang mantap untuk dipakai pesiar. Sebab itu, janganlah heran kalau ada yang suka mobil kelas atas. Manusia paruh baya suka menyesali apa yang telah terjadi. Dan tentu saja ia pun suka lupa pada kenyataan bahwa harta tak bisa dibawa sampai mati. Manusia paruh baya suka berdandan dan bergaya karena sedang menjalani "puber kedua". Anda tak usah bingung melihat kekerasan ada di mana-mana, mulai dari di pembunuhan Poso sampai demo buruh di Surabaya. Manusia Indonesia sedang menjalani krisis paruh baya. Jangan terlalu serius ah, itu mah enggak apa-apa. http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
