Pandangan Negatif terhadap Buruh Perlu Diubah

Jakarta, Kompas - Representasi sosial tentang buruh yang dipahami
sebagian besar buruh ialah sebagai kelompok masyarakat tertindas,
diperlakukan tidak adil, didominasi, terpinggirkan, dicurigai, diperas
tenaganya, dan pemerintah selalu berpihak kepada pengusaha. Untuk
mengurangi konflik hubungan industrial maka representasi negatif itu
harus diubah.

"Representasi buruh yang kerap negatif ini mendorong semakin kuatnya
identifikasi sosial mereka sebagai bagian dari kelompok buruh atau
serikat buruh yang senasib dan sepenanggungan untuk menghadapi
pengusaha, manajemen perusahaan, atau pihak otoritas lainnya yang
dominan," ujar Silverius Yoseph Soeharso, Senin (16/1), dalam
disertasinya, "Pendekatan Integratif Terhadap Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Intensi Buruh untuk Mengikuti Aksi Kolektif".

Dalam sidang terbuka di Auditorium Fakultas Psikologi Universitas
Indonesia—yang dipromotori Sarlito Wirawan Sarwono dan Ali Nina Liche
Seniati selaku kopromotor—itu, Silverius lulus dengan predikat sangat
memuaskan dan berhak meraih gelar doktor dalam bidang psikologi.

Kesimpulan Silverius tersebut didasarkan hasil dari penelitiannya
terhadap 836 buruh tetap yang diambil dari 18 perusahaan manufaktur
dan industri pengolahan di Jabotabek dan Cilegon. Menurut Silverius,
untuk mengurangi semakin meningkatnya aksi kolektif di kalangan buruh
pada masa mendatang, secara praktis usaha perbaikan dapat dilakukan
oleh pihak manajemen perusahaan. Upaya itu terutama ialah mengubah
representasi sosial negatif tentang buruh menjadi positif, yakni
dengan cara manajemen perusahaan memberikan informasi utuh dan
transparan mengenai kinerja perusahaan secara periodik. Selain itu,
diperjelas pula peran dan posisi buruh dalam memberikan kontribusi
kepada perusahaan.

Hal lain ialah membangun budaya perusahaan yang mengutamakan
nilai-nilai kebersamaan sebagai fondasi hubungan industrial. Perlu
pula dikurangi kesenjangan antara kenyataan dengan harapan. Caranya,
pengusaha atau manajemen tidak menunjukkan "kemewahan" di hadapan
buruh: mulai dari fasilitas kendaraan, pakaian kerja, fasilitas makan,
dan lain-lain.

"Memotivasi buruh agar lebih berorientasi kepada produktivitas dengan
memberikan target, skema insentif, dan profit sharing atau pembagian
saham kepada buruh melalui program stock ownership plan (ESOP) juga
dapat menjadi alternatif," katanya.

Silverius juga memberi saran kepada para tokoh buruh, aktivis, dan
pemimpin serikat buruh, yakni agar bersedia bekerja sama dengan
pengusaha dan manajemen perusahaan guna merekonstruksi representasi
sosial tentang buruh yang lebih positif dan bermartabat. Namun, upaya
tersebut benar-benar harus ditujukan untuk kepentingan kesejahteraan
buruh melalui peningkatan kompetensi dan daya saing perusahaan dengan
mengkonstruksi musuh bersama. (INE)






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke