Islam Badîl dan Islam Bedil
Oleh M. Guntur Romli
23/01/2006

Pendek kata, misi Islam sebagai bedil adalah melenyapkan segenap ide
dan gagasan kemanusiaan yang bersumber dari hasil olah nalar kreatif
tanpa menyodorkan alternatif apapun. Karena itu, yang mengemuka adalah
Islam sebagai bedil, bukan Islam sebagai badîl.

Saya pernah membaca buku intelektual dan mantan diplomat Jerman, Murad
Hofmann, yang sebelum masuk Islam bernama Wilfried Hofmann, Der Islam
als Alternative. Edisi Arabnya terbit dengan judul al-Islâm Kabadîl.
Badil dalam bahasa Arab berarti alternatif. Jadi, buku itu menawarkan
Islam sebagai alternatif.

Ketika edisi Arabnya didiskusikan di Kairo, seorang teman berseloroh:
"Buku itu hendak menawarkan Islam sebagai badîl (alternatif) atau
bedil? Sontak, kami yang mendengar seloroh itu tertawa geli. Namun,
rupanya itu bukanlah ia maksudkan sebuah pertanyaan, tapi sentilan,
bahkan kritik tajam terhadap misi buku itu. Sebab, tak jarang mereka
yang terlalu semangat menawarkan Islam sebagai badil terjebak untuk
menjadikannya sebagai bedil.

Gagasan utama buku Hofmann itu memang sekadar menawarkan Islam sebagai
ideologi alternatif dari pertarugan dua kutub ideologi besar dunia
waktu itu: kapitalisme yang angkuh dan komunisme yang ringkih.

Namun janganlah lupa, gagasan Islam sebagai alternatif, jika dibubuhi
oleh indoktrinasi dan fanatisme berlebih, bisa juga bersifat sangat
angkuh: hanya sistem Islamlah satu-satunya alternatif dan pilihan.
Inilah slogan yang sering diteriakkan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM)
dan kalangan Islamis lainnya pada tiap-tiap pemilu di banyak negara
muslim.

Islam adalah solusi (al-Islâm huwal hall), kata mereka. Dengan
menegaskan (hanya) Islam sebagai solusi, maka tak ada solusi lain
selain Islam. Apapun gagasan dan sistem yang dituding tidak Islami
akan dicap sistem kafir (nidzâmul kufr). Itulah yang sering dituduhkan
kelompok Hizbut Tahrir terhadap sistem demokrasi dalam bernegara.
Menurut pemahaman kelompok ini, hanya sistem khilafah saja
satu-satunya solusi yang ditawarkan Islam; sebuah semangat untuk
menjadikan Islam sebagai bedil.

Semangat seperti itu terasa juga dalam gagasan Islamisasi Ilmu
Pengetahuan (IIP). Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk meluruskan
kembali aspek-aspek akidah dan syariah Islam, namun lebih juga
mengislamkan segenap produk ilmu pengetahuan manusia. Setelah melalui
proses seleksi "masuk Islam", pelbagai jenis pengetahuan itu akan
dibubuhi kata Islam. Psikologi akan menjadi psikologi Islam. Dalam
proses islamisasi ilmu pengetahuan itu, bermunculanlah ilmu-ilmu
muallaf (baca: baru masuk Islam) lainnya, seperti sosiologi Islam,
antropologi Islam, dan lain-lain.

Di titik ini, yang sangat terasa adalah penggunaan kata Islam lebih
sebagai label ketimbang esensinya. Saya ingat, dulu Ikatan Cendekiawan
Muslim se-Indonesia (ICMI) sempat aktif mengirimkan buku-buku dari
spesies yang telah diislamkan itu ke pesantren-pesantren. Psikologi
Islam misalnya, berisi bahasan tentang aspek kejiwaan manusia yang di
setiap babnya sudah dibubuhi ayat-ayat Alquran ataupun hadis.

Di sebaliknya, hermeneutika sebagai ilmu yang bukan dari Islam
dijadikan sasaran tembak yang diharamkan. Ia dituding bagian dari ilmu
tafsir Bibel, yang tidak cocok untuk tafsir Alqur'an. Gagasan dan
paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme, belakangan juga
diharamkan karena dianggap bukan gugusan pemikiran yang berasal dari
Islam.

Pendek kata, misi Islam sebagai bedil adalah melenyapkan segenap ide
dan gagasan kemanusiaan yang bersumber dari hasil olah nalar kreatif
tanpa menyodorkan alternatif apapun. Karena itu, yang mengemuka adalah
Islam sebagai bedil, bukan Islam sebagai badîl.

Saat ini, semangat menjadikan Islam sebagai bedil sesungguhnya terasa
lebih kuat dan tambah nyata. Islam, kini telah dijadikan bedil oleh
sekawanan teroris berlabel Islam demi membunuh pihak yang dianggap
musuh Allah dan agama. Amunisi Islam bedil ini sekarang telah penuh,
siap menyalak, dan tinggal menunggu inisiatif sekawanan teroris untuk
menarik pelatuknya. Islam sebagai bedil sudah jadi ideologi dan aksi.

Tiba-tiba saya begitu khawatir, jangan-jangan, mereka yang selama ini
menjadikan Islam sebagai bedil itu adalah juga mereka-mereka yang
merasa hakulyakin bahwa Islam adalah satu-satu badîl (alternatif). Oh,
Tuhan, janganlah Islam badîl kau biarkan untuk setali tiga uang dengan
Islam bedil! [Mohamad Guntur Romli]






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke