Gelar "Rakean" untuk Gubernur Sumbar Oleh H. IRWAN NATSIR MINGGU, 22 Januari 2006, ada peristiwa bersejarah yang terjadi di Provinsi Sumatra Barat. Sejarah yang dibuat bukan oleh urang awak (Minang-Red), melainkan oleh urang Sunda. Yakni, pemberian gelar kehormatan "Rakean" kepada Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi, S.H.
Pemberian gelar oleh Paguyuban Sunda di Ranah Minang itu dalam acara Patepang Sono Wargi Sunda yang berlangsung di Taman Budaya Padang. Gamawan dalam acara itu menggunakan pakaian kebesaran adat Sunda. Sedangkan acara disampaikan lewat bahasa Sunda dan Minang. Pengukuhan gelar "Rakean" dilakukan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Jawa Barat Setia Hidayat mewakili Gubernur Danny Setiawan. Dengan gelar "Rakean", maka Gubernur Gamawan resmi menjadi sesepuh warga Sunda di Ranah Minang yang dipanggil dengan sebutan abah. Dua tahun silam, tepatnya Minggu, 8 Februari 2004, pemberian gelar kepada Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan oleh Perkumpulan Masyarakat Minang Jawa Barat. Gubernur Danny diberikan gelar kehormatan "Sutan Tumenggung Alam Sakti". Dengan gelar itu, Danny dipangil dengan sebutan mamak. Pemberian gelar itu berlangsung di aula Pussenif TNI-AD, Jalan W.R. Supratman, Bandung. Danny sendiri pada waktu itu, memakai pakaian kebesaran Minangkabau lengkap dengan simbol-simbol kebesaran yang diiringi dengan berbagai macam tarian Minangkabau. Mamak dalam budaya Minang adalah salah satu unsur dalam perangkat kepemimpinan yang disebut ninik mamak. Selain itu ada unsur lain seperti alim ulama, pemangku adat/penghulu, cendekiawan dan pemerintah. Adanya pemberian gelar kehormatan kepada dua kepala daerah yang berbeda suku, dan itu dilakukan oleh etnis yang tinggal atau menetap di masing-masing daerah, selain peristiwa bersejarah, juga memberikan gambaran nyata bagaimana terjadi kesepahaman dan kebersamaan dua suku bangsa. Saat ini, bagi urang awak di Tatar Sunda, Gubernur Danny telah menjadi mamak mereka. Begitu pula, Gubernur Gamawan telah pula menjadi abah bagi urang Sunda yang berada di ranah Minang. Filosofi Pemberian gelar kehormatan bukan semata menyematkan gelar kepada seseorang. Dari sudut budaya, apakah budaya Minang maupun Sunda, pemberian itu mengandung makna dan filosofi yang mendalam. Gelar Sutan Tumenggung Alam Sakti yang kini disandang Danny Setiawan sebagai implementasi sebagai mamak, di mana hal itu sejalan dengan tradisi bahwa setiap laki-laki Minang yang telah berkeluarga memiliki gelar. Mamak dalam filosofi budaya Minang bermakna dalam. Ia merupakan kepala suku yang memiliki tanggung jawab terhadap anggota suku. Sehingga, seorang mamak bukan saja menjadi kepala keluarga bagi anak-anaknya, melainkan juga menjadi pelindung, pembimbing bagi keponakannya. Hal itu tercermin dengan falsafah anak dipangku, kamanakan dibimbing. Karena menjadi pemimpin, maka mamak tempat mengadu, tempat menyelesaikan persoalan, tempat meminta pendapat dan tempat meminta izin. Ia menjadi penjaga wibawa dalam sebuah suku sehingga sukunya dihormati dan disegani. Meski posisi mamak begitu tinggi dan terhormat, namun dalam konteks kepemimpinan Minang, mamak tidak bisa semena-mena, apalagi menjadi seorang diktator. Karena, konsep kepemimpinan dalam tradisi Minang, dikenal dengan falsafah ditinggikan satu ranting, didahulukan satu langkah. Artinya, seorang pemimpin dihormati bukan berarti bisa bertindak segala-galanya. Sebab, kalau sampai bertindak salah, maka ia bisa dikritik habis-habisan. Sedangkan filosofi "Rakean" dalam budaya Sunda merupakan gelar kehormatan yang tak terhingga. Abdullah Mustappa (mantan Pemred Galura), rekan saya yang mengeluti budaya Sunda mengatakan, "Rakean" adalah gelar kehormatan yang biasanya dimiliki oleh kaum bangsawan di Tatar Sunda. Pemberian gelar itu, katanya melalui persyaratan yang sangat ketat. Seseorang yang diberi gelar itu haruslah memiliki kesatria, pemberani, bersifat jujur, bersih. "Tak sembarangan orang bisa menerima gelar "Rakean" itu,"ujar Abdullah Mustappa. Dalam tradisi Sunda selama ini, gelar "Rakean" diberikan sebagai bentuk penghormatan dan itu tidak ada kaitannya dengan materi. Orang yang menerima gelar betul-betul memiliki persyaratan di atas. Dan yang terpenting, pemberian gelar itu bukan atas dasar pupujian belaka. Apakah pemberian gelar "Rakean" bisa untuk orang luar Sunda? Kata Abdullah, dalam tradisi Sunda hal seperti itu tidak pernah terjadi. Karena, gelar kehormatan itu diberikan selain berdasarkan darah keturunan, juga karena orang yang diberi betul-betul telah berjasa dan berbakti kepada bangsa dan negara. "Kalau sekarang ada orang luar Sunda mendapat gelar itu, sah-sah saja, asal jangan atas dasar pupujian,"jelasnya. Dibalik pemberian gelar kehormatan itu, ada makna lain yang sebenarnya ingin dicapai. Dan itu sama-sama dimiliki, baik oleh budaya Sunda maupun budaya Minang. Sudah menjadi kultur masyarakat Jawa Barat, maksudnya Sunda selalu someah hade ka semah yakni bersikap ramah tamah kepada tamu dan pendatang. Terbuka dalam interaksi sosial, baik di kampung halaman, maupun di tempat lain. Sedangkan dalam budaya Minang ada falsafah "Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang artinya di mana bumi di pijak, di sana pula langit dijunjung. Maksudnya, di manapun orang Minang berada, ia harus bisa menyesuaikan diri tempat tinggalnya, masyarakat sekitarnya dan budaya daerah itu sendiri. Sebagai pendatang, urang Minang harus berinteraksi sosial dan menghormati budaya setempat. Bila pendekatan budaya ini menjadi kunci hubungan dua suku bangsa atau daerah, terlihat betapa harmonisnya kehidupan ini. Meski memiliki tradisi atau budaya berbeda, tetapi memiliki filosofi budaya yang sama dengan pengungkapan yang berbeda. Dalam konteks saat ini, pendekatan ini jelas memiliki arti penting di tengah sering munculnya persoalan primodial, sukuisme dan sebagainya. Sebab, persoalan ini telah terbukti memberikan dampak negatif dan tidak menguntungkan, karena terjadi konflik horizontal. Yang terpenting, bagaimana kedua suku bangsa Sunda dan Minang, saling melengkapi. Banyak sekali filosofi Sunda yang bisa diambil atau digunakan oleh orang awak apakah yang berada di Jawa Barat maupun di Sumatra Barat. Begitu pula sebaliknya, ada pula tradisi atau filosofi Minang yang bisa digunakan urang Sunda. Selain itu, bagaimana pula kedua anak suku bangsa ini betul-betul memperlihatkan dan membuktikan keberadaannya di kedua daerah memberikan manfaat dan turut serta dalam mengembangkan pembangunan dan memajukan kedua daerah itu. Orang awak yang ada di Jawa Barat, apakah mereka menjadi pedagang, pegawai negeri atau pekerjaan lain, ikut serta membangun Jawa Barat. Apa yang didapat dari tataran Sunda, harus dikembalikan untuk membangun Jawa Barat. Itulah makna lain dari falsafah di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Hal serupa juga bagi urang Sunda di Ranah Minang. Profesi yang dimiliki, apakah sebagai pekerja profesional seperti dokter, insinyur atau pedagang, harus menjadikan Ranah Minang sebagai daerah yang harus mereka kembangkan. Harapan seperti itu pernah disampaikan langsung Sutan Tumenggung Alam Sakti (Gubernur Danny) ketika menerima gelar kehormatan, mengajak orang awak yang ada di Jawa Barat untuk mengembangkan pembangunan dan memajukan Jawa Barat. "Gelar kehormatan ini bagi saya mencerminkan semakin mantapnya ikatan persaudaraan di antara masyarakat Jawa Barat yang heterogen dari berbagai suku bangsa. Untuk itu, saya mengajak untuk bersama-sama membangun Jawa Barat,"ujarnya. Apa yang diperlihatkan Paguyuban Sunda di Ranah Minang maupun Perkumpulan Minangkabau Jawa Barat, semestinya selain menjadi cermin, juga perekat antarbudaya, sehingga kebersamaan betul-betul terbangun dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).*** Penulis, wartawan Harian Pikiran Rakyat http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
