Bahagia dalam Sengsara
Senjata Orang yang Kalah

J Sumardianta

Chuang Tzu, Bapak Taoisme, gemar menyamakan dirinya dengan kupu-kupu.
Menjelang wafat, para murid sepakat hendak membaringkan Chuang Tzu
dalam peti indah agar jasadnya tidak dimangsa burung gagak.

Chuang Tzu menghardik, "Kalian takut aku dimangsa burung gagak. Toh
dalam peti indah sekalipun aku tetap dimakan cacing dan rayap. Jadi
sama saja." Chuang Tzu tidak mau terikat dengan apa pun di dunia yang
fana. Sebagaimana kupu-kupu, Chuang Tzu ingin terbang lepas bebas.

Kupu-kupu memang identik dengan cinta, kerendahan hati, kebahagiaan,
kebebasan, dan pengorbanan. Di penghujung musim kemarau, kupu-kupu
kuning biasanya terbang dari arah barat menuju utara. Mereka
bermigrasi mengikuti semilir angin bertiup. Kupu-kupu kuning
berbondong-bondong dalam jumlah besar hanya untuk mati di utara.
Kupu-kupu itu menjadi pertanda sebentar lagi musim hujan akan datang.
Serangga ini memberikan perasaan sunyi yang indah. Kupu-kupu merupakan
simbol pengorbanan hidup supaya hujan jatuh membasahi dan menyuburkan
bumi.

Kupu-kupu kuning merupakan ilustrasi bagus buat menggambarkan
ketangguhan dan keteladanan spiritual Ram Chander dan Hasari Pal—dua
tokoh keserakat dalam buku klasik Dominique Lappiere, The City of Joy
(1985). Hasari Pal bersama istri dan ketiga anaknya adalah petani yang
terdampar di Calcutta, India, akibat bencana kekeringan
berkepanjangan. Hasari bekerja sebagai penarik angkong (ricksaw).
Pekerjaan kasar jenis ini sering diledek sebagai manusia kuda.

Senjata orang kalah

Kehidupan penarik ricksaw miskin, keras, dan menderita. Bekerja nyaris
tanpa jaminan kesehatan dan keselamatan. Mereka penghirup polusi udara
terburuk di dunia. Obyek pemerasan polisi kota praja. Biasa terbunuh
di jalanan karena kejeblos lubang drainase yang menganga tutupnya
karena dicuri orang di saat banjir. Menjelang pemilu sering
dieksploitasi pengurus partai yang berdalih membela orang miskin.

Kendati ia kecingkrangan (tidak berdaya), kehidupan Hasari
sesungguhnya diliputi kebahagiaan dan dipenuhi perasaan syukur.
Sebelum mati, dipagut tuberkulosis, Hasari menjual kerangka tubuhnya
ke perusahaan alat peraga kedokteran agar bisa mendapat biaya pesta
pernikahan Amrita, anak perempuannya. Penganut Hindu yang saleh ini
menerima nasib menjalankan tugas suci yang harus ditunaikan agar
memperoleh kehidupan lebih baik sesudah reinkarnasi.

Bagaimana penarik angkong menyalakan harapan hidup supaya bisa
bertahan dalam kesulitan, tegar dalam pergulatan, dan tabah menghadapi
kekerasan? Ram Chander, bekas petani yang tidak kunjung bisa menghapus
utang keluarganya di Provinsi Bihar, bertutur, "Masih terbayang di
mata bagaimana istri saya menggandeng tangan anak saya, berdiri di
ambang pintu gubuk kami seraya mengusap air mata. Kami sering bicara
tentang rencana kepergian dan sekarang saatnya tiba. Ia menyiapkan
sebuah ransel berisi satu longhi, kemeja, dan handuk. Ia bahkan
membuat chapati (martabak India) dan potongan sayur-sayuran sebagai
bekal perjalanan. Sampai mati akan tetap terkenang. Ingatan mesra
tentang keluarga yang berdiri di depan gubuk lempung itulah yang
membuat saya tetap bertahan di kota bengis ini."

Ram Chander bermimpi suatu hari ia akan kembali ke desanya dan membuka
kedai pracangan di sana, dan duduk di kios itu sepanjang hari, tanpa
berlarian. Ia ingin bertakhta di warungnya, dikelilingi karung- karung
penuh segala macam kacang dan beras. Dan, wadah-wadah yang
mengeluarkan aroma rempah, bumbu dapur, dan onggokan sayur. Di rak
tersedia sabun, dupa batangan, biskuit, rokok, dan makanan kecil. Ram
tidak pernah bisa pulang ke desanya sebagaimana para penarik angkong
lain. Ram mati dipagut radang paru-paru.

Hasari Pal dan Ram Chander wujud kearifan India "segala yang tidak
kita berikan akan lenyap sia-sia". Mereka alegori perihal penderitaan,
kematian, dan kehancuran yang bergandengan tangan dengan belas kasih,
harapan, dan cinta. Kisah bagaimana manusia belajar dalam situasi
paling kelam, tetapi bisa menyalakan semangat hidup. Persis yang
dikatakan Rabindranath Tagore, pujangga India peraih Nobel,
"Penderitaan itu agung, tetapi manusia tetap lebih mulia dari
penderitaan."

Kaum paria menjadi manusia luar biasa berkat kemampuan mereka
melampaui kekejaman hidup yang tidak ramah. Antropolog James Scott
menyebut kemampuan ini sebagai Weapon of the Weak (senjata kearifan
kaum rudin). Ironi melegakan karena memberdayakan kaum rudin untuk
bisa menertawai kenistaan. Kaum paria, mengutip almarhum Karl Rahner,
teolog masyhur Jerman abad ke-20, berkat ironi sukses menggapai
transendensi—pengalaman dikuatkan sang adikodrati dalam mistisisme
konkret sehari-hari.

Menaklukkan hipokrisi

Nasib tukang becak di Yogyakarta setali tiga uang dengan penarik
ricksaw di Calcutta. Mereka tak ubahnya pelanduk yang menerjunkan diri
ke air guna membebaskan diri dari kejaran binatang buas, tetapi tukang
becak mendapati diri dikepung gerombolan buaya.

Kendati memelas, bila didekati secara mendalam, dari warung-warung
tempat mereka melepas penat seraya mengudap makanan, keseharian tukang
becak memancarkan kegembiraan, semangat, dan harapan. Inilah sisi-sisi
terang tukang becak bergelimang ketegaran, kebersahajaan, cinta,
berkah, kepuasan, ketenteraman, perasaan syukur, ikhlas mengalir,
keberuntungan, dan keselarasan. Ada tentu, tukang becak licik dan pemeras.

Becak merupakan pantulan hidup bernilai, bermakna, dan tujuan hidup
mendasar dari wong kabur kanginan: orang tidak berumah, tidur di
jalanan. Transendensi terbaca dari slebor-slebor becak pribadi mereka.
Waton Urip, artinya, bukan hidup ngawur dan seenaknya sendiri,
melainkan berani hidup tanpa memberontak terhadap kehidupan. Banyu
Mili atau Lumintu, memuat keyakinan, kendati sedikit toh rezeki bakal
mengalir terus tiada henti. Sri Rahayu, membuktikan kesungguhan tukang
becak dalam membesarkan dan melindungi anak perempuan.

Kendati berornamen sederhana slebor becak bertuliskan Ningsih
(dicintai setiap orang), Barokah (terberkati), Prasojo (bersahaja),
Marem (kepuasan), Bejo (beruntung), Sami-Sami (penerimaan dan
pemberian diri tanpa syarat), Gemah Ripah (subur makmur), Prihatin
(bermati raga), dan Raharja (maju) sesungguhnya memuat harapan dan
motivasi hidup para tukang becak. Slebor-slebor becak itu refleksi
pandangan hidup Jawa manggihaken kabegjan ing sak lebeting
kecingkrangan (menemukan kebahagiaan dalam ketidakberdayaan) dan
kabegjen iku tansah ana kekurangane (kebahagiaan itu senantiasa
mengandung ketidaksempurnaan).

Becak, di zaman serba motor, seolah merendahkan martabat manusia.
Penghela mengeksploitasi diri layaknya kuda beban. Namun, dalam diri
Pak Kliwon, Pak Zaenal, Pak Sukiman, bahkan mBok Ponirah, tukang becak
perempuan, tidak ada fatalisme dan sikap menyerah. Mereka simbol
konsolasi (filsafat kegembiraan) bukan desolasi (filsafat kemuraman).
"Apabila kehidupan sehari-hari terasa miskin, jangan kau keluhkan,
tetapi sesalilah dirimu karena tidak cukup tabah untuk menggali
kekayaannya." Alegori penyair masyhur dari Jerman, Rainer Maria Rilke
(1872-1926), ini amat sesuai buat menggambarkan semangat dan
integritas penarik becak.

Pak Kliwon (60 tahun), yang sehari-hari mangkal di dekat Stasiun
Lempuyangan, gampang bersyukur karena badan tidak cacat untuk memenuhi
nafkah keluarganya. Pak Sukiman tak pernah menumpang bus saat pulang
ke desanya. Ia mengayuh becaknya sampai Delanggu, Klaten, Jawa Tengah.
Perjalanan ditempuh lima jam karena harus berhemat supaya anak-anak
tetap bisa sekolah. Ponirah (55), lebih heroik lagi. Sudah 15 tahun
ibu lima anak ini mbecak. Sepeninggal suaminya karena kanker, Ponirah
harus menanggalkan urat malu. Ponirah pernah ditempeleng sesama tukang
becak dan ditendang polisi demi mencicil utang. "Tertawa adalah
persepsi terhadap situasi yang kontradiktif," kata filsuf Emmanuel Kant.

Strategi hidup dengan memaksimalkan kekuatan unik, seperti solidaritas
sosial, keberanian, keuletan, integritas, kebaikan hati, pengendalian
diri, dan rendah hati, rupanya membuat tukang becak mampu
mentransendensi kesulitan dan meloloskan diri dari tirani kekejaman dunia.

Transendensi merupakan sinergi kekuatan dari dalam yang menjangkau
keluar sebagai penghubung tukang becak dengan sesuatu yang permanen
dan lebih akbar—spontanitas, kesadaran diri, terbimbing visi dan
nilai, mental holistik, kepedulian, independen pada lingkungan,
mengambil manfaat dari kemalangan, dan keterpanggilan.

Wahai para politisi ambisius dan para saudagar gelojoh yang berlumuran
kekayaan material namun busung lapar di gurun spiritual, hentikanlah
intrik maupun pat-gulipat dengan meneladani ketangguhan spiritual
tukang becak. Agar bangsa Indonesia tidak terjun bebas terus di lembah
ketiadaan karena pemimpinnya bermental budak-berjiwa kerdil.

J Sumardianta Konsultan Spiritual Capital di Yogyakarta





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




SPONSORED LINKS
Spanish language and culture Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke