Judistira tak Setuju Baduy Dipagar Tembok BANDUNG, (PR).- Prof. H. Judistira Garna, Ph.D. menilai aneh rencana pemerintah yang akan memagar wilayah Baduy. Menurut dia, pemagaran itu akan memutus hubungan manusiawi antara Baduy dan masyarakat luar. "Ini akan jadi bahan tertawaan masyarakat internasional, mengingat Baduy sudah menjadi objek internasional," ujarnya saat dihubungi, Minggu (5/11).
Seperti diberitakan, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Saifullah Yusuf, mengatakan bahwa DPR telah menyetujui usulan anggaran Rp 1 miliar untuk memagar dengan tembok area-area strategis di Baduy yang selama ini "diganggu" kerbau dan sapi milik komunitas di luar Baduy. Hal itu dikatakan Saifullah Yusuf dalam seminar nasional bertajuk "Mensejahterakan Masyarakat Baduy Melalui Perlindungan terhadap Tradisi Adat dan Hak Ulayat Mereka", di Serang, Sabtu (4/11). Dalam seminar itu, Mendagri M. Ma'ruf dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, juga menyampaikan pendapatnya soal Baduy. Prof. Judistira Garna berpendapat, sebaiknya uang Rp 1 miliar itu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar Baduy. "Agar masyarakat sekitar tidak lagi memasuki lahan larangan," kata dia. Secara ekonomi, kata Judistira, saling ketergantungan antara masyarakat Baduy dan masyarakat sekitarnya, masih tinggi. Hal itu mengingat penggarap lahan huma di sekitar wilayah Baduy, mayoritas adalah warga Baduy. Pembatasan areal itu, menurut dia, sebenarnya sudah ada sejak 15-20 tahun lalu saat masih di bawah Pemerintahan Provinsi Jawa Barat. "Pada waktu itu, batas-batas menggunakan patok yang terbuat dari beton," ungkap ahli antropologi yang sering meneliti Baduy ini. Pemagaran dengan tembok, mnurut dia, seharusnya melalui suatu mekanisme adat terlebih dahulu. "Setelah disetujui para puun, harus diuji dulu oleh baresan atau semacam DPR-nya di Baduy," katanya. Upaya menjadikan Baduy sebagai komoditas, malah kian mengental dengan adanya pemagaran itu. Berdasarkan hasil penerjemahan literatur-literatur zaman penjajahan Belanda mengenai Baduy, menurut dia, pemerintah Hindia Belanda saja tidak berani membatasi wilayah Baduy. Sebab, pemerintah Hindia Belanda sangat menghargai pesan lisan yang berlaku dalam masyarakat Baduy. Ia juga menilai seminar yang membahas Baduy, masih "berjalan di tempat". Menurut dia, tidak menempatkan masyarakat Baduy sebagai masyarakat tertinggal, itu sudah menjadi keharusan dan sudah disepakati jauh-jauh hari. Topik pembicaraan yang diusung dalam seminar itu, juga masih sama saja. Padahal, yang menjadi masalah bagi masyarakat Baduy saat ini adalah bagaimana agar tanah larangan Baduy tidak diganggu pihak-pihak luar. (A-156)*** http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
