Lebih 200 Warga Syiah Tewas
BAGHDAD, JUMAT - Dalam kurun waktu 24 jam, beberapa daerah berpenghuni mayoritas Syiah didera ledakan bom beruntun. Di kota Sadr City tercatat 202 orang tewas akibat ledakan bom. Ini merupakan insiden terparah sejak 2003. Tiga ledakan bom mobil yang dahsyat kembali terjadi di daerah yang mayoritas dihuni warga Syiah di Irak. Kali ini ledakan terjadi di daerah Tal Afar. Sedikitnya 22 orang tewas dan 26 orang terluka, Jumat (24/11) WIB. Padahal, beberapa jam sebelumnya (Kamis malam WIB), sedikitnya 202 orang tewas dan 250 lainnya terluka akibat serangkaian ledakan bom dan serangan mortir di kota Sadr City, tepatnya di kawasan permukiman kumuh yang juga berpenghuni mayoritas warga Syiah. Peristiwa ini kemudian tercatat sebagai peristiwa terburuk sejak 2003. Tiga ledakan bom mobil terjadi tepat saat proses pemakaman ratusan korban tewas di Sadr City hendak dimulai, meskipun saat itu pemerintah telah memberlakukan ketentuan jam malam khusus di Baghdad. Para pemimpin politik dan agama dari Syiah dan Sunni juga langsung terjun ke masyarakat untuk mencegah gejolak kekerasan yang lebih parah. Hal tersebut juga dilakukan tokoh radikal Syiah sekaligus pemimpin kelompok milisi Tentara Mahdi, Moqtada al-Sadr, yang meminta rakyat Irak agar tetap bersatu dan tidak terpancing emosinya. Namun, imbauan para pemimpin politik atau agama itu tidak berpengaruh. Membalas dendam insiden di Sadr City, 10 serangan mortir dilaporkan telah merusak Masjid Abu Hanifa di Adhamiyah. Tak hanya itu, delapan serangan mortir juga disebutkan menghantam kantor Asosiasi Ulama Muslim, organisasi Muslim Sunni terbesar di Irak. Sembilan orang dilaporkan tewas akibat serangan dua mortir di permukiman Sunni di Baghdad. Berbagai insiden kekerasan ini membuktikan lemahnya kekuatan tentara dan polisi Irak untuk menangani kekerasan sektarian yang menjadi-jadi. "Saya yakin pasti akan ada serangan balasan dari Syiah. Untuk hari ini saja ada laporan serangan di daerah Sunni. Kekerasan sektarian di antara Sunni-Syiah akan semakin parah. Gejolak kekerasan membuktikan kegagalan para politisi yang tidak bertanggung jawab. Pemimpin Syiah dan Sunni saling tuding. Bagaimana bisa tercapai rekonsiliasi nasional kalau bertemu saja tidak pernah," kata anggota parlemen, Mahmud Othman. Ancam mundur Kelompok politik yang dipimpin tokoh radikal Moqtada al-Sadr mengancam akan mundur dari pemerintahan jika Perdana Menteri Nuri al-Maliki bertemu Presiden AS George W Bush di Jordania, pekan mendatang. "Kami minta PM Maliki membatalkan rencana pertemuannya dengan Bush karena tidak ada gunanya bertemu dengan kriminal yang berada di balik berbagai aksi terorisme di Irak," kata tokoh senior gerakan Sadr, Faleh Hasan Shanshal. Kelompok Al-Sadr yang terdiri dari 30 anggota parlemen (dari 275 anggota parlemen keseluruhan) adalah pendukung utama pemerintahan PM Maliki yang mayoritas berisi warga Syiah. Selain meminta PM Maliki membatalkan pertemuan dengan Bush, kelompok itu meminta pemerintah menjelaskan tentang hubungannya dengan pasukan koalisi, dan menuntut kepastian penarikan pasukan asing dari Irak. "Kami menduga ada semacam kerja sama antara pasukan koalisi dengan pengikut Saddam dan ekstremis Sunni. Soalnya selama ini daerah yang paling sering mendapat serangan dan digerebek AS adalah daerah yang mayoritas dihuni Syiah," sebut pernyataan tertulis kelompok Al-Sadr. Kini mayoritas Sunni khawatir jika AS menarik seluruh pasukannya yang berjumlah 140.000 personel karena milisi Syiah yang diyakini didukung Iran akan menyerang habis-habisan kelompok Sunni. "Situasi di Irak sekarang ini sudah mengarah ke perang saudara yang terbuka. Situasinya makin tidak terkontrol. Baik AS maupun Irak tidak bisa menangani situasi ini," kata pengamat keamanan Irak, Mustafa al-Alani, dari Pusat Penelitian Timur Tengah di Dubai. Untuk mengantisipasi perang saudara, kelompok Al-Sadr meminta pemimpin politik untuk tidak membuat pernyataan provokatif. PM Maliki juga semakin terdesak akibat tekanan AS yang menuntut kelompok milisi Syiah dan Al-Sadr segera dibubarkan. "Ini adalah rumah kita. Syiah dan Sunni harus bersama-sama membantu kembali negeri ini supaya kita bisa bebas bernapas lagi," kata warga Sadr City, Hassan. (REUTERS/AFP/AP/LUK)
