Berebut Nasi Aking Warga Tak Mampu Beli Beras Serang, Kompas - Warga Banten kini saling berebut membeli nasi aking, yaitu nasi sisa yang dikeringkan. Sebulan terakhir, nasi aking rutin dikonsumsi warga Kampung Lebak Asem, Desa Balekambang, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang.
Menurut penuturan beberapa warga Kampung Lebak Asem, Kamis (21/12), mereka terpaksa mengonsumsi nasi aking sejak harga beras naik, satu bulan lalu. "Semenjak harga beras naik, mereka rutin mencari nasi aking," tutur Yoni, salah seorang warga. Saat ini harga beras di kampung itu sudah mencapai Rp 5.000-Rp 6.000 per kilogram. Sebagian besar warga tidak mampu membeli beras dan memilih nasi aking sebagai makanan alternatif. Pasalnya, harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga beras. Warga dapat membeli empat liter nasi aking dengan harga yang sama dengan harga satu kilogram beras. "Sekarang pada berebut beli nasi aking. Ini juga banyak yang sudah pesan. Kalau tahu saya baru datang dari pasar (Cilegon), pasti langsung pada datang ke rumah," ujar Warni, seorang penjual nasi aking. Selain menjual, Warni dan keluarganya juga mengonsumsi nasi aking. Ia mengaku tidak mampu membeli beras yang harganya terus naik, sebulan terakhir. Hanya sesekali ia membeli beras untuk makanan selingan. Begitu pula Masri'ah, warga lainnya yang rutin membeli beras ke rumah Warni. Ia mengaku hanya sesekali bisa membeli beras. "Itu juga dipaksain utang- utang. Nasi aking ini biasanya buat makan pagi. Sore baru makan nasi biasa, kalau ada," tuturnya. Sebagian besar warga Kampung Lebak Asem memang tergolong ekonomi lemah. Hal itu terlihat dari rumah yang dibangun seadanya, dengan menggunakan dinding kayu, anyaman bambu, bahkan dinding dari anyaman daun kelapa. Umumnya, warga menggantungkan hidup mereka pada kebun dan hutan di sekitarnya. Mereka mendapatkan uang dari menjual kelapa, melinjo, emping, sayuran, dan hasil kebun, serta hasil hutan lainnya. "Paling-paling cari sayuran ke hutan, terus dijual ke pasar. Dapatnya juga tidak banyak, kurang dari Rp 10.000. Itu juga sesekali saja. Kalau tidak ke hutan, ya nganggur-nganggur begini," ungkap Yoni. Hasil kebun, seperti kelapa, hanya bisa dijual Rp 300 per butir. Begitu pula buah-buahan, seperti durian, hanya dapat dijual dengan harga Rp 2.500-Rp 6.000 per buah. Sehingga setiap musim paceklik tiba, mereka biasa makan nasi aking sebagai pengganti nasi. Menurut warga, biasanya musim paceklik tiba menjelang hari raya Idul Adha seperti sekarang ini. Mengantre Sementara itu nasi aking semakin sulit dicari di pasaran. Warni harus menunggu lebih dari tiga jam untuk mendapatkan nasi aking di warung milik Mila di Pasar Pagebangan. Kemarin pagi, kata Mila, sudah tiga warga yang mengantre menunggu nasi aking datang. "Sekarang sulit cari nasi aking, yang memasok sudah jarang. Ini juga hanya ada 15 liter. Padahal Warni mintanya 40 liter. Semenjak harga beras mahal, nasi aking yang terjual bisa lebih dari 150 liter per hari," tutur Mila. (nta)
