Warga Jabar Makan Nasi Aking
Petani Jateng Keluhkan Pemerintah

Purwakarta, Kompas - Karena tidak mampu membeli beras, sejumlah
keluarga miskin di beberapa kampung di Desa Cikaobandung, Kecamatan
Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, dalam dua bulan ini mengonsumsi
nasi aking.

Nasib beberapa warga miskin lainnya bahkan lebih memprihatinkan;
mereka hanya mengonsumsi gadung—sejenis umbi-umbian yang tumbuh di hutan.

Emis (70), warga Kampung Batulayang, yang ditemui hari Kamis (21/12),
mengatakan tak mampu membeli beras yang harganya saat ini sudah lebih
dari Rp 4.000 per kilogram (kg). Apalagi, sebagai buruh tani, dia
sudah lama tidak bekerja karena lahan sawah di desanya mengering.

"Sejak harga beras naik, menjadi di atas Rp 4.000 per liter dalam dua
bulan lalu, saya sudah tak sanggup membeli beras. Karena itu, sekarang
terpaksa mengumpulkan sisa nasi yang diberi tetangga," ujarnya.

Nasi sisa pemberian tetangga itu dia kumpulkan kemudian dijemur. Kalau
dia ingin makan, nasi yang dikeringkan itulah yang kemudian dia masak
kembali.

Sejumlah keluarga di Kampung Batulayang, Talibajo, serta Kampung Sawah
juga bernasib serupa dengan Emis. Bahkan, beberapa warga lainnya sudah
pada tahap memakan umbi-umbian yang diperoleh dari ladang, kebun, atau
hutan milik Perhutani di Kecamatan Sukasari.

Warga beberapa desa di Kecamatan Sukatani juga mencari alternatif
pangan. Mereka kebanyakan mengonsumsi singkong.

Secara terpisah, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar
menyesalkan keputusan pemerintah soal impor beras. Langkah itu, kata
Wakil Ketua HKTI Jabar Hardi Maksud, Kamis, menunjukkan keputusasaan
dan tak percaya diri pemerintah menangani kisruh beras.

Sesalkan pemerintah

Di Jawa Tengah sejumlah petani di Grobogan dan Demak menilai
pemerintah lamban mengatasi kenaikan harga beras. Kegagalan pemerintah
mengendalikan para spekulan beras, menurut mereka, telah menyebabkan
harga beras sekarang ini Rp 5.600 per kg.

Spekulan telah membeli beras dalam jumlah cukup besar akhir Oktober
lalu, baik beras yang tersimpan di kantong-kantong gudang penggilingan
padi maupun gabah di rumah-rumah petani.

Berkaitan dengan kondisi pasar yang seperti ini, Wakil Kepala Bulog
Sub-Divisi Regional V Kedu Divisi Regional Jateng Wasingun HS kemarin
mengungkapkan, pihaknya sesungguhnya sudah berinisiatif menawarkan
kepada enam pemerintah daerah di wilayah Kedu untuk melakukan operasi
pasar. "Namun, usulan kami ini ditolak," katanya. (MKN/CHE/BAY/WHO/
EGI/SUP/EKI/SON) 

Kirim email ke