Bangsa Penuh Petaka

Aloys Budi Purnomo

Bangsa kita sedang menderita karena sejumlah petaka, musibah, dan
bencana. Realitas sosial-kemasyarakatan kita penuh dengan duka dan
keprihatinan. Bencana yang satu belum tuntas teratasi, bencana berikut
membuat hati kita tercabik-cabik!

Dari Aceh hingga Papua, bencana silih berganti merenggut nyawa.
Tsunami, gempa, banjir, tanah longsor, kebakaran, dan kecelakaan yang
merenggut serentak nyawa terus menjadi bahan pemberitaan media.

Petaka, musibah, dan bencana yang terjadi belakangan ini kian
meningkat, bukan hanya karena faktor alam, tetapi terutama karena
faktor manusia.

Memang, alam kita seolah sedang murka. Bumi berguncang. Laut mengamuk.
Udara pun tidak lagi ramah bagi keselamatan masyarakat kita. Gempa,
ombak, dan badai, serta cuaca buruk dapat kita baca sebagai ungkapan
kemarahan alam terhadap kita. Inilah kesan yang dapat dengan mudah
kita tangkap dari fakta petaka yang terjadi di negeri kita.

Penuh petaka

Tidak berlebihan bila dikatakan bangsa ini sedang penuh petaka.
Simaklah kasus musibah di laut. Pada akhir tahun 2006 dan awal tahun
2007, bangsa kita dicekam musibah laut secara beruntun. Dalam hitungan
hari, petaka yang terjadi di laut terjadi secara fantastik.

Dalam lima hari menjelang tahun 2006 berakhir, tanggal 28-31 Desember,
lima kecelakaan laut di sekitar perairan Laut Jawa terjadi. Feri KMP
Tri Star I ditelan ombak di perairan Sungsang, Selat Bangka; satu
orang tewas, 18 lainnya hilang dari jumlah keseluruhan 48 orang
penumpang. Selanjutnya, kapal pengangkut kayu KM Bunga Anggrek
tenggelam oleh ombak besar dan angin kencang di perairan Karimunjawa.
Kapal roro Nusa Setia terseret ombak di Pelabuhan Bakauheni. KM Sinar
Baru yang mengangkut batu apung dengan 11 penumpang diamuk gelombang
besar membuat sembilan penumpang hilang, dua selamat.

Yang menggemparkan dan memprihatinkan adalah kecelakaan KM Senopati.
Akibat cuaca buruk, kapal motor yang membawa 642 penumpang mengalami
petaka di perairan sekitar Pulau Mandalika, Jepara. Sedikitnya 400
penumpang masih belum diketahui nasibnya.

Belum lagi petaka yang satu teratasi, pada awal 2007 musibah laut
masih terjadi. Speedboat Timahu 01 diserang ombak di perairan Laut
Seram hingga tenggelam, 7 orang tewas. Speedboat nahas lainnya
ditenggelamkan ombak di Rompong, 2 orang tewas, 2 orang hilang.

Bukan hanya di laut petaka terjadi, tapi juga di udara. Pesawat
AdamAir hilang, 96 penumpang dan 6 awak pesawat belum diketahui
nasibnya. Kesedihan membuncah bukan hanya karena bangkai pesawat
beserta seluruh penumpang dan awaknya belum ditemukan. Kesedihan dan
keprihatinan kian menusuk hati sebab di tengah petaka itu terjadi
kesalahan yang mestinya tidak perlu terkait dengan informasi
keberadaan bangkai pesawat.

Bangsa Indonesia bukan hanya "tertipu" atas kesalahan informasi itu,
tapi juga harus menanggung risiko menjadi bangsa yang "tolol".
Tampaknya sepele, "salah informasi", namun dampaknya luar biasa.

Itulah cermin kecerobohan, kesembronoan, sikap gegabah, dan kesantaian
para birokrat dan pejabat pemerintahan kita dalam mengatasi persoalan
yang menimpa rakyatnya! Secara teknologis, hal ini menjadi "petaka"
tersendiri. Bangsa ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga!

Tidak disiplin

Petaka demi petaka yang terjadi di laut, udara, dan darat yang kian
marak di negeri ini sebenarnya mencerminkan betapa bangsa ini tidak
memiliki disiplin dalam membaca isyarat alam. Bahkan, terkait alam,
bencana menjadi santapan rutin silih berganti. Kebakaran dan asap di
musim kemarau. Banjir dan longsor di musim hujan. Itulah bencana rutin
yang silih berganti tak pernah teratasi.

Lee Kuan Yew pernah memberi penegasan dalam konteks Asia dan berkata,
"Yang dibutuhkan Asia bukan demokrasi tetapi disiplin!" Dalam konteks
Indonesia, penegasan Lee Kuan Yew itu signifikan dan relevan untuk
membaca dan merefleksikan setiap petaka yang terjadi di negeri kita
belakangan ini.

Hutan yang terbakar dan asap yang dihasilkannya di musim kemarau
bukanlah buah demokrasi, melainkan cermin ketidakdisiplinan pemerintah
dan pihak-pihak terkait. Banjir dan longsor yang selalu rutin terjadi
di berbagai wilayah negeri ini juga merupakan buah ketidakdisiplinan
kita sebagai bangsa. Luapan lumpur panas, kecelakaan lalu lintas
(darat, laut, dan udara) yang mendatangkan petaka merupakan dampak
tiadanya kedisiplinan.

Orang yang disiplin tidak akan pernah menerjang rambu-rambu lalu
lintas. Pengusaha yang disiplin tidak akan mengabaikan kepentingan
sesama. Penguasa yang disiplin tidak akan mengorbankan kepentingan
rakyatnya. Produsen yang disiplin tidak akan menghalalkan segala cara
dan membahayakan kehidupan konsumennya.

Akibat ketidakdisiplinan itu, bangsa ini setiap kali harus menuai
petaka, musibah, dan bencana! Dari pusat hingga daerah, banyak elite
politik dan pemerintah tidak disiplin sehingga dengan mudah melakukan
korupsi. Merampok harta negara dan menggarong hak rakyat.

Akibat ketidakdisiplinan banyak pihak, orang baik dan benar di negeri
ini tidak mendapat tempat untuk memenangi perkara. Terpasung oleh
ketidakdisiplinan, kebenaran seperti tidak memiliki saluran untuk
diperjuangkan. Terbelenggu oleh ketidakdisiplinan, banyak telinga
tidak mau mendengar kebaikan diserukan; banyak mata yang tidak mau
melihat kebenaran; banyak hati yang berfungsi?

>newarea 1

Otak sederhana yang pengecut dan tidak ikhlas, tetapi punya otoritas,
adalah salah satu sebab mengapa bangsa ini tetap berada di buritan
perkembangan.

Kapankah bangsa ini akan bangkit dari keterpurukan yang terpoles
kemunafikan dan keberhasilan semu yang tidak menyentuh kebutuhan
sehari-hari, yakni kesejahteraan dan keadilan yang didambakan rakyat
kecil?

Tanpa menghayati kedisiplinan dalam berbagai bidang kehidupan, bangsa
ini akan semakin keropos, rapuh, dan terpuruk dihajar petaka demi petaka!

Aloys Budi Purnomo Rohaniwan; Pemimpin Majalah INSPIRASI, Lentera yang
Membebaskan, Semarang 

Kirim email ke