Namo Buddhaya,
 
1) Perkembangan ilmu pengetahuan itu dimulainya juga bukan karena agama Kristen itu logis atau ilmiah. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak disebabkan oleh ajaran agama apapun. Agama apa yang dianut oleh para ilmuwan itu tidak berkaitan dengan kontribusinya dalam dunia sains.
 
2/3) Psikologi dan filosofi buddhis berbeda dengan psikologi barat. Yang satu kearah "timur" yang satu ke arah "barat". Toh akhirnya psikologi "barat" mencapai jalan buntu dan sekarang melihat ke "timur".
 
Naskah Tripitaka disakralkan? Tentu saja, sebagaimana Injil and Koran. Masalahnya bukan terletak di situ.
 
Siapa sih yang gemar membahas Tripitaka sekarang? Apakah anda gemar?
 
Mengatakan agama Buddha begini atau begitu itu tidak banyak gunanya. Semuanya dimulai dari masing2 individu pemeluk agama Buddha.
 
regards,
Harryson

dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Matinya Hermeneutika Buddhis

Namo Buddhaya,

Tulisan ini diilhami oleh perbincangan saya dengan Sdr. Daniel Johan
beberapa waktu yang lalu mengenai hermeneutika Buddhis. Malam ini,
saya teringat kembali perbincangan itu dan menghubungkannya dengan
berbagai ironi yang melanda Buddhisme.

1.Buddhisme adalah "agama" yang sangat ilmiah dan sejalan dengan
sains. Tetapi mengapa perkembangan ilmu pengetahuan tidak dimulai di
negara-negara Buddhis? Mengapa para ilmuwan pertama pertama seperti
Sir Isaac Newton, Galileo Galilei, Nicolaus Copernicus, dan lain
sebagainya tidak terlahir di negara Buddhis? Memang benar bahwa di
Tiongkok ada ilmuwan2 yang beragama Buddha, seperti Yixing, namun ia
tidaklah merumuskan suatu teori yang benar-benar baru.

2.Buddhisme merupakan suatu "agama" yang sarat dengan pengetahuan
mengenai ilmu kejiwaan (psikologi), tetapi mengapa para psikolog
tidak lahir di kalangan Buddhis. Tokoh-tokoh psikologi besar seperti:
Wertheimer, Sigmund Freund, Jung, Eysenck, Adler, dan lain sebagainya
tidak terlahir di kalangan Buddhis.

3.Buddhisme adalah ajaran yang sarat dengan kandungan muatan
filosofi. Tetapi mengapa tidak ada filosof Buddhis modern yang
disebut2? Kalau kita membaca karya-karya modern tentang filsafat,
maka yang akan kita dapatkan adalah nama2 seperti: David Hume,
Schopenhauer, George Santayana, dan lain sebagainya. Sementara itu
dari kalangan Buddhis masih belum ada filsuf ternama yang mendunia.

Setelah merenungkannya sejenak, saya teringat dengan apa yang
diucapkan oleh Sdr. Daniel Johan bahwa hermeneutika Buddhis telah
mati semenjak zaman Nagarjuna. Sejak saat itu, para ilmuwan Buddhis
tidak "berani" lagi membuat dobrakan dengan tafsiran-tafsiran
barunya. Kalaupun ada, tetapi tafsiran2 itu tidak cukup "kuat" untuk
menggoncangkan dunia Buddhis. Inilah yang nampaknya menyebabkan
kekalahan kita dibandingkan dengan agama-agama lain yang telah
mencapai kemajuan luar biasa dalam bidang hermeneutika.
Naskah Tipitaka/ Tripitaka cenderung disakralkan dan jarang dikaji
serta ditafsirkan sesuai dengan kemajuan dan tuntuan zaman. Bila ini
tidak kita lakukan maka kita akan makin banyak lagi mengalami ironi-
ironi seperti di atas.

Metta,

Tan (3.11-2005, pukul 23.15)







Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke