Saya setuju tanggapan bro Harrison. Di sini saya juga akan 
menambahkan sedikit tanggapan saya yang hampir sama dengan yang 
pernah saya tanggapi di topic  ¡§Buddhist = kosong melompong!¡¨ yang 
dipersoalkan bro.Michael Suwanto.

Jika masalah Matinya Hermeneutika Buddhis ini dijadikan sebagai alat 
ukur keberhasilan seorang Buddhist, maka ini sangat jelas sekali 
menunjukkan adanya pemahaman
yang salah dalam mempelajari Buddhisme. Dengan kata lain, akan
terdapat berbagai hambatan bagi orang demikian mendapatkan kemajuan
dalam berlatih, karena arah dari makna sejati dan tujuan inti dari
berlatih ajaran Buddha-nya telah mengalami pergeseran.

 Ingat, bahwa menjadi penganut Buddha sangat berbeda dengan menjadi 
penganut agama lain, itulah sebabnya mengapa praktisi Buddha merasa 
bahwa Buddhisme bukan sebagai sebuah agama seperti yang diperkirakan 
oleh penganut agama lain. Menjadi umat Buddha tidak sekedar menjadi 
umat Buddha saja. Tidak seperti penganut agama lain, menjadi Kristen 
ya menjadi Kristen lalu berkutat dengan kajian2 hal hal duniawi, 
mencari mencari dan mencari terus. Itulah sebabnya mereka kemudian 
menemukan berbagai macam teknologi untuk menyamankan panca 
inderanya, bergelut dalam kenikmatan inderawi. Apakah dengan tidak 
adanya kalangan Budhist yang berhasil dalam hal ini berarti dianggap 
telah gagal? Malah sebaliknya. Justru praktisi Budhist sejati merasa 
itu adalah hambatannya dalam proses pelatihan Buddha dharma. Jika 
kita memahami perbedaan prinsip ini, kita tentu tidak layak 
menganggap  matinya Hermeneutika Buddhis. Karena itu tidak relevan 
dengan prinsip pelatihan Buddha dharma. 
Ajaran Taoisme saja mengatakan ¡§ilmu pengetahuan dicari dengan 
mengenyamnya terus dari hari ke hari, sedangkan Tao diraih dengan 
mengikisnya¡¨ . Penganut Taoisme pun memahami prinsip seperti ini, 
apalagi bagi praktisi Buddhist.  Jadi tujuan berlatih adalah untuk 
mengikis pikiran khayal, mengikisnya setiap hari itu baru benar.  
Menjalankan dharma dan ilmu Pengetahuan itu tidaklah sama. Sekarang 
ini jika kita menganggap Buddha dharma itu sebagai ¡§ilmu 
pengetahuan¡¨, maka masalahnya menjadi berat. Memperlakukannya 
seperti pengetahuan duniawi untuk dilatih maka itu telah salah. 
Sesungguhnya ini adalah pelatihan diri (kultivasi).   

Berbicara mengenai penemuan teknologi, memang benar bahwa hal ini
tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari kita. Dengan berbagai cara
manusia berusaha menciptakan berbagai alat untuk memudahkan kita
menjalani hidup. Berbagai kemudahan telah didapatkan, memang
terbukti berkat jasa dari para penemu. Namun hingga jaman sekarang
ini, teknologi masih tidak dapat memecahkan persoalan utama manusia.
Mengapa tidak ditemukan para penemu dari kalangan Buddhist? Jika
yang dimaksud adalah seorang Buddhist sejati, wajar saja, Buddhist
sejati ini telah mencapai suatu pemahamahan hakiki bahwa penemuan
teknologi hanyalah memberi manfaat sekunder bagi umat manusia.
Buddhist sejati telah menemukan ajaran Buddha yang dapat menjawab
persoalan utama manusia, maka tentu dia akan dengan giat berlatih
ajaran Buddha ini alih-alih sibuk dengan ilmu pengetahuan. Maka itu 
kemudian tidak terlihat para ilmuwan Buddhist, filosofer Buddhist, 
karena Buddhist sejati telah menemukan yang lebih hakiki tentu 
berusaha berlatih untuk membebaskan diri dari kungkungan penderitaan 
yang sesungguhnya. 

 Kembali pada persoalan diri kita sendiri, patut direnungkan bahwa 
sesungguhnya
manfaat yang paling hakiki adalah berusaha mencapai pencerahan
sempurna. Pencerahan sempurna berarti meraih kebijaksanaan sempurna.
Dengan memiliki Kebijaksanaa sempurna berarti dapat mendeteksi
secara hakiki persoalan utama manusia dan baru dapat memberi
bimbingan terbaik buat mereka. Jadi jika anda telah menemukan jalan 
untuk terbebas dari samsara, apakah kita ingin melangkah mundur lagi 
untuk bergelut dengan sains dan filsafat yang terbukti 
kelemahannya?   







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke