Namo Buddhaya,

Maaf, saya kurang sependapat dengan Anda mengenai masalah 
hermeneutika. Benar sebagaimana yang dikemukakan oleh Sdr. Yanmin P, 
bahwa dalam mempelajari Buddhisme kita harus tetap "memijak bumi" 
dalam artian bahwa Buddhisme sanggup menampung semua wawasan yang 
ada, dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi, sembagaimana 
yang saya ungkapkan dalam posting terdahulu.... mau sekedar masuk 
surga...ya silakan.... mau berlatih menuju nibanna....juga boleh. 
Masing-masing mendapatkan tempat dalam Buddhisme. Begitu pula halnya 
dengan hermeneutika yang Anda samakan dengan "hal-hal duniawi." 
Padahal heremeneutika bukanlah itu. Hermeneutika sangat luas, dan 
juga mencakup masalah moralitas, seperti misalnya membahas pro dan 
kontra hukuman mati... atau kajian-kajian filosofis yang ruwet 
seperti masalah freewill, takdir, dan lain sebagainya.
Menurut pendapat saya, dalam tataran wawasan bawah Buddhisme TIDAK 
BERBEDA dengan agama-agama lainnya, jadi saya tidak sepenuhnya setuju 
bila Anda mengatakan bahwa menjadi umat Buddha tidak sama dengan 
menjadi umat Kristen atau agama lainnya. 
Mencapai Penerangan Sempurna memang tujuan tertinggi Buddhisme, 
tetapi kita masih harus mengingat bahwa Buddhisme bukanlah agamanya 
para arahat, Buddha, atau Bodhisattva saja. Bahkan menurut 
Saddharmapundarika Sutra, keinginan duniawi masih dapat dipakai 
sebagai sarana untuk mencapai renounciation (nekkhama, Skt= 
nisyandha). Yakni saat sang ayah (lambang Buddha) menawarkan kereta-
keretaan agar anak-anaknya (lambang umat manusia) mau ke luar dari 
rumah terbakar (lambang triloka). Jadi bagi seseorang yang bisa 
melihat suatu masalah secara luas, duniawi dan tidak duniawi adalah 
sama-sama bagian dari dharmadatu, sebagaimana yang sudah saya ulas 
dalm posting sebelumnya.
Demikian pula halnya dengan Socially Engaged Buddhism yang menjadi 
slogan milis ini. Apakah menurut Anda itu juga tidak ada hubungannya 
dengan tujuan Buddhisme? Untuk apa kita berkutat kembali dengan 
masalah sosial, bila tujuan Buddhisme adalah semata-mata untuk 
mencapai pencerahan?
Saya justru melihat bahwa salah satu bahaya dalam Buddhisme bila 
seseorang mencoba mendaki wawasan tingkat tinggi dan berpikir dari 
sudut pandang itu, kendati sebenarnya ia masih berada di wawasan 
bawah. Sebaliknya ada bahaya pula bila seseorang seharusnya sudah di 
wawasan atas, tetapi pola berpikirnya masih wawasan bawah. Tetapi 
inilah semua "seni olah pikiran" dalam Buddhisme yang menjadikannya 
menarik. Saya kira sekian dahulu. Semoga bermanfaat.


Metta,

Tan


--- In [email protected], "ching ik/ djoni" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Saya setuju tanggapan bro Harrison. Di sini saya juga akan 
> menambahkan sedikit tanggapan saya yang hampir sama dengan yang 
> pernah saya tanggapi di topic  ¡§Buddhist = kosong melompong!¡¨ 
yang 
> dipersoalkan bro.Michael Suwanto.
> 
> Jika masalah Matinya Hermeneutika Buddhis ini dijadikan sebagai 
alat 
> ukur keberhasilan seorang Buddhist, maka ini sangat jelas sekali 
> menunjukkan adanya pemahaman
> yang salah dalam mempelajari Buddhisme. Dengan kata lain, akan
> terdapat berbagai hambatan bagi orang demikian mendapatkan kemajuan
> dalam berlatih, karena arah dari makna sejati dan tujuan inti dari
> berlatih ajaran Buddha-nya telah mengalami pergeseran.
> 
>  Ingat, bahwa menjadi penganut Buddha sangat berbeda dengan menjadi 
> penganut agama lain, itulah sebabnya mengapa praktisi Buddha merasa 
> bahwa Buddhisme bukan sebagai sebuah agama seperti yang 
diperkirakan 
> oleh penganut agama lain. Menjadi umat Buddha tidak sekedar menjadi 
> umat Buddha saja. Tidak seperti penganut agama lain, menjadi 
Kristen 
> ya menjadi Kristen lalu berkutat dengan kajian2 hal hal duniawi, 
> mencari mencari dan mencari terus. Itulah sebabnya mereka kemudian 
> menemukan berbagai macam teknologi untuk menyamankan panca 
> inderanya, bergelut dalam kenikmatan inderawi. Apakah dengan tidak 
> adanya kalangan Budhist yang berhasil dalam hal ini berarti 
dianggap 
> telah gagal? Malah sebaliknya. Justru praktisi Budhist sejati 
merasa 
> itu adalah hambatannya dalam proses pelatihan Buddha dharma. Jika 
> kita memahami perbedaan prinsip ini, kita tentu tidak layak 
> menganggap  matinya Hermeneutika Buddhis. Karena itu tidak relevan 
> dengan prinsip pelatihan Buddha dharma. 
> Ajaran Taoisme saja mengatakan ¡§ilmu pengetahuan dicari dengan 
> mengenyamnya terus dari hari ke hari, sedangkan Tao diraih dengan 
> mengikisnya¡¨ . Penganut Taoisme pun memahami prinsip seperti ini, 
> apalagi bagi praktisi Buddhist.  Jadi tujuan berlatih adalah untuk 
> mengikis pikiran khayal, mengikisnya setiap hari itu baru benar.  
> Menjalankan dharma dan ilmu Pengetahuan itu tidaklah sama. Sekarang 
> ini jika kita menganggap Buddha dharma itu sebagai ¡§ilmu 
> pengetahuan¡¨, maka masalahnya menjadi berat. Memperlakukannya 
> seperti pengetahuan duniawi untuk dilatih maka itu telah salah. 
> Sesungguhnya ini adalah pelatihan diri (kultivasi).   
> 
> Berbicara mengenai penemuan teknologi, memang benar bahwa hal ini
> tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari kita. Dengan berbagai cara
> manusia berusaha menciptakan berbagai alat untuk memudahkan kita
> menjalani hidup. Berbagai kemudahan telah didapatkan, memang
> terbukti berkat jasa dari para penemu. Namun hingga jaman sekarang
> ini, teknologi masih tidak dapat memecahkan persoalan utama manusia.
> Mengapa tidak ditemukan para penemu dari kalangan Buddhist? Jika
> yang dimaksud adalah seorang Buddhist sejati, wajar saja, Buddhist
> sejati ini telah mencapai suatu pemahamahan hakiki bahwa penemuan
> teknologi hanyalah memberi manfaat sekunder bagi umat manusia.
> Buddhist sejati telah menemukan ajaran Buddha yang dapat menjawab
> persoalan utama manusia, maka tentu dia akan dengan giat berlatih
> ajaran Buddha ini alih-alih sibuk dengan ilmu pengetahuan. Maka itu 
> kemudian tidak terlihat para ilmuwan Buddhist, filosofer Buddhist, 
> karena Buddhist sejati telah menemukan yang lebih hakiki tentu 
> berusaha berlatih untuk membebaskan diri dari kungkungan 
penderitaan 
> yang sesungguhnya. 
> 
>  Kembali pada persoalan diri kita sendiri, patut direnungkan bahwa 
> sesungguhnya
> manfaat yang paling hakiki adalah berusaha mencapai pencerahan
> sempurna. Pencerahan sempurna berarti meraih kebijaksanaan sempurna.
> Dengan memiliki Kebijaksanaa sempurna berarti dapat mendeteksi
> secara hakiki persoalan utama manusia dan baru dapat memberi
> bimbingan terbaik buat mereka. Jadi jika anda telah menemukan jalan 
> untuk terbebas dari samsara, apakah kita ingin melangkah mundur 
lagi 
> untuk bergelut dengan sains dan filsafat yang terbukti 
> kelemahannya?
>








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke