Pembahasan yang cukup padat dan jelas.  Di sini saya akan 
menambahkan sedikit. Berhubung saya masih terkungkung dalam 3 racun 
keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin maka tidak tertutup 
kemungkinan pendapat saya bisa salah. Oleh karena sebelumnya saya 
minta maaf dan mohon petunjuk atas kesalahan-kesalahan tersebut.

Dalam perkembangan sejarah agama Buddha, jika kita perhatikan 
tulisan2 para sesepuh di jaman dahulu, boleh dikatakan bahwa 
pembahasan mengenai Tuhan dalam ruang lingkup Buddhisme hampir tidak 
ada (meskipun ada, tidak dalam porsi yang signifikan).  Dengan kata 
lain bahwa persoalan mengenai Tuhan tidaklah pernah menjadi sebuah 
hal yang dianggap signifikan untuk dipersoalkan apalagi dibahas atau 
diperdebatkan dalam Buddhisme.  
Namun setelah terjadi pertemuan antara berbagai agama timur dan 
barat  muncul seiring dengan perkembangan jaman, maka persoalan ini 
pun dimunculkan ke atas permukaan. Dengan berbagai argumentasi yang 
berpijak di atas fondasi konsep ajaran Buddha, secara umum umat 
Buddha berusaha sedapat mungkin memperkokoh pendiriannya sebagai 
sebuah agama yang tidak mengakui eksistensi Tuhan seperti yang 
diyakini agama samawi dan dalam kesempatan yang sama sekaligus 
memperkenalkan keunggulan keunggulan konsep ajaran Buddha 
dibandingkan dengan agama samawi. Jika kita perhatikan secara 
seksama, pembahasan mengenai masalah ini muncul dengan alasan dan 
tujuan sbb:
1.      Adanya miskonsepsi dari semua kalangan termasuk umat Buddha 
sendiri yang belum memahami ajaran Buddha yang sesungguhnya. Dengan 
adanya alasan ini maka tujuan dari pembahasan masalah ini adalah 
untuk meluruskan kembali dan memberi pengertian secara benar tentang 
ajaran Buddha.  
2.      Adanya upaya untuk menunjukkan keunggulan agama Buddha. 
3.      Adanya upaya untuk mendiskreditkan agama lain bahkan 
makhluk lain.

Bagi praktisi Buddha yang memiliki komitmen untuk menjalankan ajaran 
Buddha dengan sebaik mungkin dan memiliki jiwa misionaris yang 
sesuai dengan pesan sang Buddha, kita dapat melihat bahwa alasan 
yang pertama itu dalam batasan yang wajar dan patut. 
Mengenai alasan kedua, hal ini bersifat relative, karena praktisi 
sejati tetap akan menganggap ajaran Buddha yang dijalankan adalah 
yang terunggul, bahkan umat Buddha awam yang tidak begitu paham 
dengan makna sejati Buddhisme juga memiliki pendirian demikian. 
Persoalan baru bagi kalangan umat Buddha sendiri timbul dengan 
adanya sikap batin yang terkontaminasi pada bentuk alasan ke tiga. 
Kemajuan pelatihan Buddha dharma menjadi terhambat dengan adanya 
sikap batin ini dan hal ini tidak sedikit sedang melanda kalangan 
umat Buddha. JIka kita perhatikan, para umat Buddha yang baru 
pertama kali mengenal ajaran Buddha, sikap superior dan eksklusivme 
juga timbul dalam batinnya. Hal ini diperparah dengan sikap 
merendahkan makhluk dewa dan semata-mata mengagungkan Buddha. Ini 
adalah persoalan yang timbul bagi mereka yang baru menemukan 
keagungan ajaran Buddha. Namun jika kita jabarkan proses pelatihan 
Buddha dharma bagi umat awam seperti kita, kita akan diarahkan untuk 
melaksanakan 10 perbuatan baik. Dengan menjalankan 10 perbuatan baik 
tingkat atas, seseorang akan terlahir di alam dewa. 10 perbuatan 
baik tingkat menengah akan membuat seseorang terlahir di alam 
manusia. Ini adalah gambaran umumnya. 
Pada sisi tertentu, adalah kenyataan bahwa makhluk dewa menduduki 
posisi yang lebih ¡§mulia¡¨ dari pada manusia. Walaupun kemudian kita 
menjadi penganut Buddha, tidak berarti kita boleh merasa lebih 
superior dari pada dewa. Tapi ini adalah fakta yang terjadi bagi 
para praktisi pemula. Dengan adanya sikap batin demikian, mereka 
merasa tidak perlu lagi menghormati dewa, malahan dengan arogan 
merasa tidak perlu menunduk pada dewa. Jika kita perhatikan ajaran 
Buddha secara teliti, akan disadari bahwa hal ini sungguh telah 
menghambat proses pelatihan dharma. Pelatihan Buddha dharma adalah 
suatu proses pelatihan yang bersifat tahapan. Sebagai manusia awam, 
ibarat kita masih dalam tahapan pendidikan dasar. Sebagai manusia 
awam, ktia diarahkan untuk menjalankan perbuatan baik, menghormati 
orang yang patut dihormati. Terhadap orang tua, kita tunjukkan sikap 
tunduk kita, terhadap yang lebih muda kita tunjukkan sifat kasih 
sayang. Ini menyangkut sikap terhadap manusia. Bahkan terhadap 
binatang-pun kita tunjukkan sikap simpati dan belas kasih. 
Dengan demikian bagaimana mungkin kita merasa tidak perlu 
menghormati dewa yang notabene lebih ¡§mulia¡¨ dari pada manusia. 
Dari pijakan ini, pada intinya kita tidaklah etis ¡§merendahkan¡¨ 
agama samawi dengan mengsitir kelemahannya hanya karena menganggap 
Tuhan-nya sebenarnya tidak adikuasa. Meskipun tidak adikuasa, tetapi 
masih ada kemungkinan dia memiliki berbagai kekuatan. Hal seperti 
ini tidak dipungkiri dalam Buddhisme. Dengan kata lain, dari sudut 
pandang Buddhisme, tuhan dalam agama samawi adalah makhluk dewa. 
Jadi jika mensitir agama samawi dengan sikap batin yang negative, 
secara tidak langsung telah mendiskreditkan para dewa, 
mendiskreditkan para dewa berarti menjauhi dari sikap hormat 
terhadap dewa. Ini bertolak belakang dengan jiwa Buddhisme, dan yang 
paling pokok adalah menghambat kemajuan batin kita sendiri dalam 
proses pelatihan Buddha dharma. Jika demikian halnya maka sia sia 
saja kita menjadi penganut Buddha. Menghormati semua makhluk hidup 
termasuk para dewa adalah salah satu pelatihan Buddha dharma. 
Praktisi pemula tidak meghormati dewa hanya karena takut dianggap 
menyembah dewa. Sayang ketakutannya telah menjauhinya dari keakraban 
dengan dewa yang baik. Dewa biasanya akan melindungi orang yang 
menjalankan dharma dengan baik, tidak tertutup kemungkinan ¡§Tuhan¡¨ 
juga merasa bahagia terhadap  praktisi Buddha dharma yang terkikis 
noda batinnya. 






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke