Rekan Tan yang saya hormati;
Terima kasih balasan anda,menyenangkan sekali berdiskusi dengan anda,beberapa penjelasan anda telah menambah pengetahuan saya,namun masih ada yang menurut saya kurang pas,mudah2an anda tidak bosan mengoreksinya,trima kasih sebelumnya.
Selama ini bila saya jalan2 di toko2 buku,misalnya Gunung agung,saya mesti melihat di bagian agama,nah disitu banyak sekali saya jumpai buku sejenis Harun Yahya,tapi hampir tidak pernah melihat buku sejenis itu yang ditulis oleh seorang Budhist dan mengupas agama lain(dalam arti membuka kesalahan agama lain),hal ini pernah saya pikirkan dan saya anggap sepaham, bahwa agama saya tidak seperti agama lain yang sering ofensif dan agresif.
Apalagi menyebarkan agama yang door to door,tidak perduli penghuni rumah ini beragama lain atau tidak,mereka berusaha menarik untuk bergabung dgn mereka.
Dari kebiasaan itulah baru pertama
membaca buku BB saya menjadi sangat kaget,yah semacam risih begitulah,mungkin apa pengaruh dari usia saya yang sudah lebih dari setengah abad,sehingga lebih memilih low profil atau defensif,saya tidak jelas ,tapi terus terang kalau saya disuruh pilih tetap saja pilihan saya adalah tidak setuju dengan penulisan BB.
Bila seseorang memulai menulis sesuatu yang akan disebarkan atau akan dibaca banyak orang,contohnya saya menulis email ini,saya berpedoman bahwa MINIMAL tulisan saya ini harus menguntungkan diri saya sendiri,yaitu akan mengasah otak saya dan menambah pengalaman,namun dengan catatan TIDAK mengganggu/menyakiti orang lain. kalau keikutsertaan saya dalam millis ini mengganggu/menyakiti anggouta lain,maka saya harus out dari millis ini.perasaan semacam ini lah yang menjadi landasan kenapa saya tidak setuju dengan BB.
Sedangkan kalau saya melihat ada umat Buddha yang akan pindah ke agama
lain,pasti saya juga sangat sedih,sedikit cerita tentang putri saya yang sekarang kuliah di Vancouver,2 tahun kuliah baru dia pulang liburan(th 2003),saat itulah dia ngomong minta izin pindah agama(ke Protestan),saat itulah hampir 4 jam kita diskusi(saya,istri dan anak) sangat seru dan sampai banyak air mata,saya sampai juga membedah apa itu agama Protestan,akhirnya anak saya menyadari kesalahan pilihannya dan kembali ke Buddha,waktu itu saya juga seperti BB membedah agama lain,cuma bedanya saya hanya debat atau diskusi 3 orang saja,nah cerita ini juga terpikir oleh saya saat tadi membaca posting anda,yaitu bagaimana umat2 Buddha yang lain maksud saya para anak muda atau remaja yang mau pindah agama? mungkin mereka tidak punya ayah seperti saya,sehingga ayah mereka hanya melongo saja melihat putri mereka pindah agama,saat terpikir hal itu memang saya hampir mengatakan>wah kalau gitu bener juga yang dikatakan rekan Tan tentang BB.
Namun terus terang saat ini
saya masih belum sreg bener dengan argumen anda,saya tidak tahu pasti apa ganjalannya,kasih saya waktu ya, ok.
Namun ada satu contoh yang anda ceritakan,yaitu tentang jawaban ulangan dari seorang murid yang salah,bila saya jadi gurunya pasti akan saya salahkan dan bukan berarti saya/guru telah menjelekkan muridnya,>contoh ini tidak pas karena penulis BB bukanlah guru dari agama lain,jadi apakah dia(penulis BB) berhak memberi nilai kepada murid/umat Kristen,masih menjadi satu pertanyaan,
Sekian dulu,maaf kalau ada yang salah.
Salam dari Hadi.
dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saudara Perdana yang budiman,
,
Sebelum memulai diskusi ini saya hendak menginformasikan bahwa
penulis yang sama dengan buku Beyond Belief juga telah menulis buku
berjudul Dasar Pandangan Agama Buddha, yang telah diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia dan nampaknya menjadi panduan resmi mengenai
dasar-dasar Buddhisme di banyak institusi keagamaan. Jadi penulis
buku Beyond Belief itu telah menghasilkan pula karya mengenai
Buddhisme sendiri yang cukup bagus.
Kadang-kadang untuk meningkatkan penghargaan umat Buddhis terhadap
agamanya sendiri kita perlu melakukan beberapa perbandingan.
Terkadang sesuatu tidak akan nampak bagus jika tidak dibandingkan
dengan sesuatu yang lebih buruk. Ini adalah kenyataan yang ada.
Berdasarkan analisa pasar yang ada, saya melihat bahwa justru buku-
buku bernuansa Beyond Belief yang laku keras, sementara buku-buku
dengan topik pembahasan mengenai Buddhisme sendiri justru kurang laku
dan diminati. Ini memperlihatkan bahwa umat Buddha masih kurang
menghargai ajarannya sendiri, oleh karena itu buku-buku semacam
Beyond Belief dapat dipergunakan sebagai wahana untuk meningkatkan
penghargaan umat Buddha terhadap keyakinannya sendiri.
Selanjutnya yang menjadi ganjalan bagi saya adalah perkataan
Anda: “Pengaruh utama kepada pembaca adalah mengarahkan pembaca untuk
tidak masuk ke sana,karena teori/konsep mereka SALAH.” Apakah jika
demikian sebagai umat Buddhis kita harus dengan senang hati
mempersilakan rekan-rekan sedharma kita untuk masuk ke agama
tersebut? Apakah kita malah harus memprogandakan agar rekan-rekan
sedharma kita beralih pada agama tersebut? Tentu ini menggelikan
bukan? Lagipula kalau Anda memang yakin bahwa Buddhadharma adalah
sesuatu yang baik, lalu mengapa tidak mengarahkan seseorang ke tempat
yang baik itu? Jika Anda tidak berusaha mengarahkan mereka, maka Anda
adalah seorang yang egois,
Saya tidak melihat bahwa buku BB. menjelekkan agama lain karena
didukung dengan fakta dan bukti-bukti ilmiah. Coba bayangkan diri
Anda sebagai seorang guru. Misalnya ada jawaban murid Anda dalam
ulangan yang salah dan Anda mencoretnya. Apakah tindakan ini sama
dengan menjelek-jelekkan murid tersebut? Tentu tidak bukan? Segala
sesuatu asalkan dilandasi dengan bukti2 dan argumen logis tidak dapat
disebut menjelek-jelekkan. Setidaknya ini menurut saya.
Orang boleh saja menganggap bahwa agama Buddha salah, sehingga jangan
masuk ke sana, melainkan ke sini saja, karena di sinilah yang benar.
Saya tidak mencela pandangan semacam itu. Tetapi dalam dunia yang
semakin globalistis ini, persinggungan antar agama akan semakin kerap
terjadi dan membangkitkan timbulnya pertanyaan-pertanyaan kritis,
dimana ini bukanlah sesuatu yang negatif. Saya tidak marah bila ada
orang yang mengkritik Buddhisme, malahan ini adalah suatu wahana yang
bagus untuk memacu pemahaman kita akan Dharma. Asalkan kritik itu
dilandasi oleh logika, maka saya akan menerimanya dengan senang hati.
Begitu pula halnya dengan penulis Beyond Belief, saya melihat bahwa
kritikannya sangatlah logis, sehingga tidak dapat dikatakan menjelek-
jelekkan agama lain.
Bagaimana dengan buku Harun Yahya? Apakah bukunya ilmiah? Ternyata
tidak! Mengapa?
1.Harun Yahya tidak mendefinisikan terlebih dahulu apakah yang
dimaksud dengan berhala itu. Apakah bendera yang kita hormati waktu
upacara tidak dapat disebut sebagai berhala?
2.Harun Yahya hendaknya mendefinisikan terlebih dahulu secara ilmiah
dan logis, apakah buruknya atau jeleknya menyembah berhala. Apakah
orang yang menyembah sebatang pohon lebih buruk akhlaknya
dibandingkan dengan orang yang menyembah mahadewa yang tidak
kelihatan? Ini harus dianalisa dan dibuktikan terlebih dahulu dengan
menggunakan metode ilmiah serta riset yang mumpuni.
3.Benarkah agama Buddha menyembah berhala? Sudahkan Harun Yahya
memaparkan fakta mengenai seorang bhikshu Zen yang membakar patung
Buddha untuk menghangatkan dirinya? Bagaimana dengan Sutra Intan yang
mengatakan bahwa Buddha tidak dapat dicari dalam wujud dan suara?
4.Sudahkan Harun Yahya menelaah sejarah penggunaan patung dalam
Buddhisme? Apakah dia mengetahui bahwa Buddhisme yang asli tidak
mengenal patung?
Nah, jelas sekali karya Harun Yahya itu tidak ilmiah.
Selain itu, yang sudah saya katakan berulang kali, banyak orang yang
merasa dirinya toleran setelah mengecam Beyond Belief. Padahal
pengecaman itu adalah bentuk intoleransi lainnya. Sehingga dengan
mengecam Beyond Belief tidak akan menjadikan seseorang lebih
tolerantif dibandingkan yang lainnya. Toleransi sejati harus memiliki
kesanggupan untuk menoleransi sesuatu yang dianggapnya tidak toleran.
Bila semuanya adalah bagian dharmadatu bukankah buku Beyond Belief
adalah juga bagian dharmadatu, yang tidak juga baik dan tidak juga
buruk? Anda boleh saja tidak setuju dengan buku Beyond Belief, tetapi
apakah ketidak-setujuan itu menjadikan Anda lebih toleran
dibandingkan yang lainnya? Bukankah ketidak-setujuan itu juga
merupakan bentuk intoleransi? Lalu apakah bedanya Anda dengan buku
Beyond Belief yang Anda anggap intoleransi tersebut. Anda juga
berusaha mencari-cari kelemahan buku Beyond Belief, lalu apakah
bedanya Anda dengan buku Beyond Belief yang Anda tuduh menjelek-
jelekkan agama tertentu tersebut?
Saya kira sekian dahulu tanggapan saya. Mohon maaf kalau ada kata
yang salah.
Metta,
Tan> > >
>SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality
Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
