Saudara Chingik yang budiman, Sebagaimana yang sudah saya sampaikan pada postingan tanggapan sebelumnya terhadap Bapak Hadi, maka jelas sekali bahwa pro dan kontra atau beda pendapat itu merupakan sesuatu yang wajar. Tidak ada keharusan bahwa semua orang harus setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu. Oleh karena itu, polemik ini tidak perlu diteruskan. Bisa- bisa nanti menimbulkan perpecahan dan gontok-gontokkan antar umat Buddhis sendiri (yang sebelumnya berdasarkan pengalaman saya sudah hampir terjadi juga karena masalah buku BB). Ceritanya dalam suatu pertemuan ada gagasan salah seorang anggota untuk mencetak ulang buku BB. Nah, ada salah seorang yang tidak setuju, lalu meluarkan kata- kata yang agak panas. Akibatnya ya itu tadi suasana pertemuan menjadi panas. Ya saya sangat menghargai keprihatinan Sdr. Chingik maupun Bapak Hadi. Semua ini sesuatu yang sangat baik, karena sama-sama berakar pada kepedulian akan kemajuan Dharma. Tetapi ya itu tadi, banyak kepala pasti banyak pendapat. Dan sebagaimana yang juga sudah saya sampaikan pada posting saya terhadap Bapak Hadi sebelumnya, hal itu tidak ada hubungannya dengan benar atau salahnya sesuatu. Banyak pendapat itu sesuatu yang wajar. Saya mohon maaf, mungkin kalau salah menafsirkan kata-kata Anda. Oleh karena itu kita akhiri topik ini dan beralih pada topik lain yang lebih bermanfaat. Mohon maaf kalau selama diskusi ada kata-kata saya yang salah.
Topik I MASALAH TRANSEDEN Maaf, saya kurang paham dengan pertanyaan Bro. mengenai transenden. Apakah Bro. Chingik dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan transenden? Mengapa Bro. dapat menyakini bahwa Tuhan dalam agama X merupakan sesuatu yang transenden? Apakah dapat diberi penjelasan mengenai hal ini? Topik II MENGENAI MASTER CHINGKUNG Sesungguhnya tidak ada maksud saya untuk mendiskreditkan Master Chingkung. Saya hanya menanyakan motivasi Beliau saja, barangkali Bro. Chingik mengetahuinya. Saya tetap menghormati Master Chingkung sebagai tokoh Buddhis yang besar, setara dengan Master Xunhua serta Master Xingyun (guru akar saya dari Mahayana, karena dulu saya masuk Buddhisme juga melalui tradisi Mahayana). Mereka semua adalah tokoh- tokoh agung. Mohon pertanyaan saya itu jangan diartikan sebagai pendiskreditan terhadap Beliau. Tetapi saya benar-benar ingin tahu motivasi dari kegiatan yang saya anggap agak "aneh" itu. Ibaratnya, Anda berdua dengan seorang teman saat malam hari dan hujan lebat. Tiba-tiba, teman Anda itu mengatakan, "Ayo kita pergi ke sebuah hutan di Puncak!" Anda tentu kaget karena hari sudah malam dan hujan lebat lagi. Tentu Anda akan bertanya, "Lho, bukankah sekarang ini sedang hujan lebat dan hari sudah sangat gelap." Teman Anda mungkin akan menjawab, "Justru ini saat yang tepat, karena kita akan menggali harta karun. Kakekku telah mewarisiku peta harta karun ini! Biar tidak ada orang yang tahu" Nah, Anda jadi mengetahui motivasi sebenarnya kawan Anda yang sebelumnya Anda anggap "aneh" itu. Mohon maaf, jujur saja, saya memang sangat jarang sekali membaca buku- buku karya Master Chingkung atau mendengar ceramah Beliau, jadi saya tidak tahu motivasi dari semua tindakan itu. Sehingga dengan demikian semoga Anda memahami pula motivasi saya yang sebenarnya. Saya pikir pertanyaan-pertanyaan semacam itu wajar dan bukan dimaksudkan untuk mencari-cari kesalahan (mohon maaf kalau menimbulkan salah paham). Topik III SUTRA & MEMBICARAKAN KESALAHAN BHIKSHU Ini bisa jadi topik baru yang menarik. Saya tidak pernah membaca ada sutra semacam itu. Tetapi kalaupun ada, saya akan kembali lagi pada pernyataan Sdr. Pelayan Buddha. Benarkah hal semacam itu disabdakan oleh Guru Buddha, ataukah tambahan generasi sesudahnya demi mendukung legitimasi bhikshu? Apakah pada zaman dahulu ada usaha untuk menjadikan para bhikshu sebagai kasta Brahmana baru? Saya gemar mempelajari Tripitaka, tetapi saya tidak terikat pada kata- kata Tripitaka secara harafiah. Tripitaka ada di dunia ini (sama dengan kitab2 suci lainnya) melalui serangkaian proses evolusi baik yang panjang ataupun pendek. Kita harus mengkaji hal ini dari sudut pandang pemikiran, apakah seorang bhikshu pasti benar? Jika seorang bhikshu pasti benar, maka mengapa di dalam Sutra2 Mahayana beberapa kali disebutkan mengenai bhikshu2 jahat? Kalau umat tidak boleh mengkritik, apakah para bhikshu dengan demikian merupakan otoritas keagamaan tertinggi? Bukankah Guru Buddha mengatakan bahwa Dharmalah yang menjadi pelita setelah Beliau parinibanna? Memang benar, bahwa seorang guru seperti Hakuin pernah pula disalah-pahami padahal motivasinya sungguh mulia. Namun, saya boleh balik bertanya pula, apakah semua bhikshu punya motivasi mulia seperti Hakuin? Sama seperti yang dikatakan Sdr. Pelayan Buddha, saya tidak mau memandang Tripitaka secara dogmatis. Saudara kita yang beragama Katolik, yakni Hans Kueng, dengan berani mempertanyakan infalibilitas (keterbebasan dari kesalahan) paus. Hans Kueng dengan berani membeberkan bukti-bukti sejarah kesalahan dogmatis para paus pada masa lampau. Nah, kaum agamawan seperti Hans Kueng inilah yang sangat kita perlukan demi menunjang perdamaian dunia. Dari kalangan Muslim ada Emha Ainun Nadjib dan Ulil Abdal yang mendirikan Kajian Utan Kayu atau Jaringan Islam Liberal. Justru kaum yang tidak dogmatis inilah yang kini memajukan agamanya masing-masing. Menurut pandangan saya, ajaran bahwa seorang umat awam tidak boleh "mempertanyakan" tindakan bhiksu patut dipertanyakan validitasnya. Apakah seorang menjadi bhikshu hanya dengan tujuan agar tidak ada orang yang mengecamnya? Apakah jika saya malam ini mencukur rambut saya dan menjadi bhikshu serta mengeluarkan statemen yang aneh- aneh di milis ini, maka semua orang awam harus setuju dengan statemen saya itu? Oke, saya kira sekian dulu. Sekali lagi mohon maaf kalau ada kata yang salah. Sampai jumpa di lain topik. Semoga Anda selalu sehat dan bahagia. Beda pendapat wajar asalkan tidak jadi musuh. Mari kita tetap menjadi sahabat yang baik di dalam Dharma. Metta, Tan --- In [email protected], "ching ik/ djoni" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear bro Tan, > Terima kasih atas penjelasannya yang cukup panjang. Setelah apa yang > kita diskusikan ini, terlihat jelas kita memiliki pendirian yang > berbeda. Namun ada satu hal yang perlu saya jelaskan kembali bahwa > saya tidak menentang buku BB. Mungkin saya lupa menambahkan bahwa > sebenarnya argument-argumen saya merupakan ekspresi kepedulian dan > keprihatinan saya. Jadi tidak ada hubungannya dengan masalah > toleransi maupun intoleransi. Tidaklah mungkin saya menentangnya, > karena buku tersebut tidak mempengaruhi dan merugikan saya. Saya > juga sejauh ini belum melihat ada orang lain yang dirugikan atas > buku ini. Namun ada juga yang prihatin terhadap buku ini, Sudah > menjadi kenyataan bahwa ada sebagian orang yang memiliki penilaian > buruk terhadap buku ini. Bro Hadi adalah salah satu contoh bukan? . > Jadi point apa yang ingin saya sampaikan adalah bahwa saya ingin > berbagi cara pandang terhadap buku ini, bukan ingin mengganyang atau > memprotes. Mungkin bro Tan akan berargumen lagi bahwa hal ini hanya > karena ketidak pahaman terhadap misi buku ini. Saya rasa ini akan > menjadi sebuah polemik yang tidak akan ada habisnya. Tapi ada satu > hal yang perlu kita sadari adalah bahwa tujuan dari diskusi topik > ini adalah bukan untuk menentukan siapa yang benar atau salah. > Bahkan saya tidak merasa pendirian saya benar. Karena memang pada > dasarnya saya bukan bermaksud mencari pengakuan bahwa pendapat saya > yang benar. Di dalam hal ini tidak ada yang benar maupun salah. Yang > kita perlukan adalah mencari solusi yang tepat di antara ke dua sisi > pendirian. Saya mengatakan buku BB begini begitu. Lalu jawaban yang > saya butuhkan adalah jika seandainya apa yang saya katakan benar, > maka bagaimana jalan keluarnya? Jika seandainya pendapat anda yang > benar, maka bagaimana cara mengembangkannya?. Jadi mohon memahami > tujuan dasar saya. Mungkin awalnya saya tidak memberi penjelasan, > jadi mohon maaf juga. > Saya sangat menghargai anda sebagai seorang umat Buddha yang > memiliki komitmen memajukan Buddhisme. Tidaklah mungkin saya akan > menentang seorang siswa Buddha seperti anda. Saya juga tidak mungkin > akan menentang de Silva. Seandainya bertemu, maka saya mungkin akan > secara jujur mengungkapkan pendapat saya dan bertanya tentang jalan > pemikirannya namun saya akan bermohon kepadanya memberi solusi > kepada saya. > Untuk mengakhiri diskusi topik ini, saya harap anda dapat menanggapi > tulisan ini dan membuat sebuah jawaban yang konkrit tentang > pertanyaan: ¡°Sekarang buku BB dihadapi kenyataan ada yang pro dan > kontra (di mana yang kontra bukan karena ingin ganyang, tapi sebagai > wujud kepedulian, dan yang pro bukan karena ingin menang, tapi > memiliki tujuan mulia juga) di kalangan umat Buddha sendiri, > bagaimana jalan terbaiknya? Keprihatinan yang kontra adalah karena > pengertian Tuhan dalam agama Semawi oleh para penganutnya juga > memiliki pemahaman yang transeden, maka bagaimana de Silva dapat > menyanggah sesuatu yang transeden? Jadi argument de Silva tentang > Tuhan Kristen masih menjadi sebuah topik yang debatable. Bagaimana > bro Tan melihat masalah ini? Semoga dapat membagi wawasan. > > (Topik yang berdiri sendiri) > Mengenai master Chingkung ¡°menyuap¡± atau ¡°membeli¡± keamanan, saya > rasa bro Tan terlalu gesa2 dalam menjatuhkan vonis. Saya ingin > menjelaskan bahwa tujuan master Chingkung tidaklah mungkin demikian > (karena saya telah baca puluhan buku ceramah beliau dan saya percaya > beliau memiliki misi dan visi yang sangat positif), dan konteks > beliau merangkul dan memuji agama lain juga bukanlah seperti > pemahaman anda. Tapi sudahlah, nampaknya kata2 saya tidak akan cukup > kuat untuk meyakinkan anda. > Saya agak terkejut juga dengan pernyataan anda ini. Karena saya > tidak pernah/tidak berani mendiskreditkan seorang bhiksu manapun > (yang melanggar sila sekalipun). Maaf karena saya pelajari dari > Sutra bahwa perumah tangga tidak sebaiknya (lebih tepatnya tidak > boleh) membicarakan kesalahan bhiksu. Dalam hal ini memang saya > belum memahami sepenuhnya maksud dari larangan ini. Tapi saya tetap > berusaha mematuhi isi Sutra yang merupakan ucapan dari guru Buddha. > Bagaimanapun saya tetap menghormati kebebasan anda dalam menyatakan > sikap. Tapi dari keseluruhan diskusi anda, saya melihat ada saat2 > tertentu anda terlalu tergesa2 dalam membuat pernyataan. Mudah2an > ini dapat menjadi masukan yang berguna buat anda. Dalam hal ini > tidak berarti saya ini lebih arif atau apa, bahkan saya melihat > kenyataan saya lebih parah dan jauh lebih buruk, bodoh dan kalah > dalam berbagai wawasan. Haha..saya aja cuma sarjana yang bergelar > D.O. Dalam diskusi lain, mungkin saya masih butuh masukan2 dan > pandangan2 anda. > Ok, sampai ketemu lagi di diskusi lain. > > > > Amitofo > > Cg ik > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
