Sekuntum teratai untuk anda semua para calon Buddha,

Memang membahas masalah vegetarian itu tidak akan ada habisnya. Saya 
sendiri adalah seorang Theravadin, yang dulunya adalah sama dengan 
Bro Benny, punya segudang alasan untuk makan daging, mulai dari 
membeli daging adalah toh sama dengan membeli baju, sama-sama benda 
mati yang telah tersedia disana, bisa juga mengatakan bahwa bukan 
dengan makanan seseorang menjadi suci, tapi melalui ucapan, 
perbuatan, dan pikiran, atau meng-counter balik dengan bahwa ber-
vegetarian juga tidak menutup terjadi pembunuhan, seperti penggunaan 
insektisida, dan lain sebagainya, dan alasan-alasan lainnya yang 
cukup bisa menjadi strong point.

Tapi disini saya ingin mengajak anda-anda semua, termasuk Bro Benny, 
marilah kita lepaskan dulu, pandangan-pandangan kita terhadap Sutta 
Buddha, marilah juga kita lepaskan pandangan-pandangan Bhikkhu X yang 
kita anggap hebat, pandai,bijaksana, ataupun mulia. Kemudian marilah 
kita bersama-sama melihat, bukankah bro Mulyadi telah memberikan link 
yang siap di download, dari sana, kita bisa melihat secara mendalam, 
bagaimana hewan-hewan tersebut disiksa sebelum dibunuh, bagaimana 
cara-cara hewan-hewan tersebut dibunuh, salah satunya adalah anak 
ayam yang masih kecil-kecil yang dipotong paruhnya hanya agar tidak 
mematuk telur ayam lainnya, dan masih banyak lagi cara-cara kejam 
yang digunakan untuk membunuh hewan tersebut (tentu saja, tidak ada 
cara membunuh yang penuh cinta kasih) berangkat dari sana, maka 
biarkanlah hati nurani kita sebagai seorang Buddhis yang bicara. 
Apakah saya tetap mendukung usaha tersebut atau tidak?Atau minimal 
kita tidak ikut mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung 
terjadi pembunuhan-pembunuhan seperti itu!Atau setidaknya kita tidak 
mendukunt atau menambah daftar-daftar pembunuhan-pembunuhan yang 
sudah ada. Benar bahwa ini realita hidup, inilah dukkha, tidak akan 
ada yang bisa menjalankan sila secara sempurna, kecuali dia tidak 
makan, tidak minum, tidak minum obat, dan jadilah se-onggok mayat, 
tapi setidaknya kita bisa melatih diri untuk lebih baik, untuk tidak 
menambah dukkha-dukkha dunia yang telah ada.

Jujur bahwa saya bukan seorang vegetarian, tapi saya akan berusaha 
untuk bisa ber-vegetarian, walaupun begitu, mungkin saya bisa share 
sedikit bahwa kami (KPD angkatan VIII) punya tekad, untuk makan 
secara penuh perhatian, minimal pada 3 suap pertama, bahwa makanan 
ini adalah pemberian alam semesta, bahkan didalamnya tidak terlepas 
dari ada-nya pembunuhan baik secara langsung maupun tidak langsung, 
semoga kami patut untuk menerimanya. Apabila dalam makanan terdapat 
daging, maka kita melimpahkan jasa-jasa kebajikan kita, kepada hewan-
hewan yang telah turut "berjasa" demi terbentuknya sepiring nasi di 
depan kita, semoga terlahir ke alam yang jauh lebih bahagia. Itulah 
yang setidaknya berusaha kami lakukan walaupun kadang sering juga 
bolong.

Sedikit tambahan perenungan, apakah dalam pikiran kita, saat memakan 
daging itu, yang kita makan adalah daging hewan/binatang (dengan 
berbagai persepsi kita yang mengatakan bahwa itu makhluk rendah, 
pantas mati, pantas untuk dimakan)  atau kita memandangnya sebagai 
daging dari makhluk hidup, bagaimana kalau daging yang kita makan itu 
daging manusia, apakah kita masih akan memakannya secara serakah, 
dalam Sutta Buddhis, bahkan Buddha memperupamakan seperti memakan 
daging anak sendiri, yang untuk lebih jelasnya bisa ditanyakan pada 
ahli-ahlinya. 

Kalau mengenai hal kedua, itu memang agak sulit untuk dikatakan mana 
yang benar, mana yang salah, karena hidup ini memang penuh dengan 
ketidakpastian, kita tidak bisa bilang bahwa ini yang 100% benar, ini 
yang 100% salah, masing-masing lagi-lagi punya pandangan sendiri, 
termasuk saya. Kalau menurut saya, tergantung kondisi, dana tersebut 
boleh saja diterima, selama sang pemberi, telah menyatakan bahwa dia 
telah merasa bersalah dan bertobat, serta berjanji untuk tidak 
mengulanginya lagi, dan dia memberikan dana ini dengan penuh 
ketulusan, maka pemberian "uang haram" itu telah berubah menjadi 
suatu pemberian yang penuh dengan ketulusan, maka pemberian itu 
adalah layak diterima. Bukankah uang itu sendiri sifatnya netral???

Dari yang bodoh dan hanya ingin menjadi lebih baik.

--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Bro Mulyadi,
> 
> Bila kita coba melihat lebih jauh pada kehidupan kita sehari2x, 
semuanya 
> secara tidak langsung berhubungan dengan perbuatan yg tidak baik 
> (perampokan, pembunuhan, penipuan dan lainnya). Contohnya 
sayur2xan, dalam 
> prosesnya, sayur2xan tersebut juga telah diberikan pestisida yg 
telah 
> membunuh banyak serangga dan hama. Kain utk baju yang menggunakan 
> pewarna/zat kimia yang limbahnya membunuh mahluk hidup. Kayu yg 
dalam 
> penebangannya juga setidaknya banyak mahluk yg menjadi korban. 
Obat2xan yg 
> dites menggunakan kelinci percobaan. Ditilang polisi menolak 
menyogok lalu 
> disidang, tetapi dikorup juga oleh orang2x pengadilan. Bekerja pada 
> perusahaan yang dalam usahanya jg menggelapkan pajak. Bekerja di 
kantor 
> dengan softwarenya bajakan. Dan masih banyak lagi lainnya.
> Kita semua tetap hidup seperti itu. Kita "membenarkan" semua hal 
buruk itu 
> terjadi. Tragis memang. Tapi itulah kehidupan, Dukkha. Penuh dengan 
> ketidak puasan dan penderitaan.
> 
> tentang menerima dana hasil rampokan, itu perlu analisa lebih 
mendetail 
> karena case by casenya bisa akan berbeda jauh hasilnya. Di email 
> sebelumnya saya menuliskan 
> 
> Jika kita menerima uang hasil rampokan tsb, maka yang menerima 
tidak 
> melakukan kamma buruk, kecuali dia menerima dengan niat2x buruk 
atau 
> mengetahui dari awal sebelum perampokan itu terjadi atau mengetahui 
kalau 
> dia menerima uang itu maka akan mengakibatkan hal yang tidak baik 
terjadi. 
> 
> 
> Jika memang yg menerima tahu akan mengakibatkan hal2x yg tidak baik 
> terjadi dan tetap menerima maka dia melakukan kamma buruk. Jika dia 
> menerima karena memang tidak akan ada kemungkinan akan menyebabkan 
hal2x 
> buruk terjadi, yah itu memang bukan akusala kamma. Misalnya Pak 
Suharto 
> ada berdana kepada korban bencana gempa. Siapapun tahu kalau Pak 
Harto itu 
> koruptor, merampok uang rakyat. Yang menerima itu menyadari hal 
itu. Yang 
> menerima sumbangan tidak melakukan akusala kamma karena tidak ada 
niat 
> atau menyadari ada hal2x buruk yg terjadi akibat sumbangan itu.
> Seperti yg bro tuliskan, saya setuju. jika Vihara menerima 
sumbangan yg 
> bisa menimbulkan hal2x tidak baik, akan jadi sebuah akusala kamma 
bila 
> pihak vihara menyadari dan menerima sumbangan seperti itu. tapi 
misalnya 
> jika Pak Harto menyumbangkan sebidang tanah utk menambah luas 
vihara, jika 
> menerima memang tidak ada pihak yg dirugikan atau menyebabkan hal2x 
tidak 
> baik, yang menerima tidak melakukan akusala kamma. 
> 
> with Metta
> Sumedho Benny
> 
> 
> 
> 
> 
> [EMAIL PROTECTED] 
> Sent by: [email protected]
> 06/05/2006 09:00 AM
> Please respond to
> [email protected]
> 
> 
> To
> [email protected]
> cc
> 
> Subject
> Re: [Dharmajala] Kasus ?
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Bro Benny,
> 
> Sungguh sangat tragis apabila kita membiarkan orang lain untuk 
terus 
> melakukan pelanggaran sila, dengan dalih bahwa kita sebagai 
penerima 
> (bukan yang merampok atau yang membunuh) tidak melakukan kamma 
buruk dan 
> tidak akan menimbulkan kerugian bagi diri sendiri (orang lain yang 
akan 
> menerima kammanya karena perbuatan salahnya).
> 
> Itu artinya kita "Membenarkan" perbuatan salah yang dilakukan oleh 
orang 
> lain, dan ini menimbulkan perbuatan itu terjadi berulang-ulang 
tanpa ada 
> yang bisa mengurangi atau menghentikannya (pembunuhan mahluk hidup 
tetap 
> akan terjadi dan semakin banyak karena permintaan akan daging 
semakin 
> tinggi seiring bertambahnya penduduk dunia). 
> Dan lebih mengerikan lagi jika sebuah Vihara mengetahui 
dan "menerima" 
> dana hasil rampokan, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan 
Vihara 
> tersebut dan anggapan umat lain terhadap agama Buddha.
> 
> Selama kita tahu dan sadar perbuatan kita akan membuat diri kita, 
> lingkungan di sekitar kita, dan dunia  menjadi lebih baik, maka 
seharusnya 
> 
> kita berusaha untuk melakukannya. 
> Sebaliknya jika kita tahu dan sadar perbuatan kita akan membuat 
diri kita, 
> 
> lingkungan di sekitar kita, dan dunia menjadi lebih buruk, maka 
seharusnya 
> 
> kita berusaha untuk menghindarinya.
> 
> Saya pikir Kalama sutta cukup relevan dengan diskusi kita kali ini, 
> berikut saya kutipkan.
> "Oleh karena itu, warga Suku Kalama, janganlah percaya begitu saja 
berita 
> yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah 
merupakan 
> tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya 
begitu saja 
> 
> apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang 
dikatakan 
> sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya 
telah 
> direnungkan dengan seksama; juga apa yang kelihatannya cocok dengan 
> pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang 
menjadi 
> gurumu. 
> 
> Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu 
> mengetahui, ?Hal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak 
> dibenarkan oleh para Bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan 
> mengakibatkan kerugian dan penderitaan,? maka sudah selayaknya kamu 
> menolak hal-hal tersebut."
> 
> 
> With Metta,
> 
> Mulyadi
> 
> 
> 
> 
> [EMAIL PROTECTED] 
> Sent by: [email protected]
> 06/04/2006 10:31 PM
> Please respond to
> [email protected]
> 
> 
> To
> [email protected]
> cc
> 
> Subject
> Re: [Dharmajala] Kasus ?
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Bro Mulyadi, 
> 
> Sepertinya definisi apa itu Kamma yang masing2x miliki berbeda, 
akibatnya 
> banyak penafsiran yang berbeda2x pula. 
> berikut ini kutipan dari buku "Volition, an introduction to the law 
of 
> kamma" oleh Sayadaw U Silananda: 
> 
> Apakah kamma ? Sang Buddha berkata: "Oh para bhikku, kehendak 
itulah 
> Kamma." Arti pada umumnya Kamma adalah tindakan atau perbuatan, 
tetapi 
> secara teknis, kamma artinya kehendak atau keinginan. Ketika 
melakukan 
> tindakan, ada kehendak dibelakangnya, dan kehendak tersebut, usaha 
mental 
> tersebut lah Kamma. Sang Buddha menjelaskan, setelah berkehendak 
maka 
> seseorang akan bertindak melalui tubuh, ucapan dan pikiran. 
> 
> Jika kita menerima uang hasil rampokan tsb, maka yang menerima 
tidak 
> melakukan kamma buruk, kecuali dia menerima dengan niat2x buruk 
atau 
> mengetahui dari awal sebelum perampokan itu terjadi atau mengetahui 
kalau 
> dia menerima uang itu maka akan mengakibatkan hal yang tidak baik 
terjadi. 
> 
> 
> Jika kita tidak menerima uang hasil rampokan tsb dan menasehati 
orangnya, 
> itu adalah kamma baik. 
> 
> Demikian pula dengan makan daging, 
> Jika kita makan daging maka kita tidak melakukan kamma buruk 
pembunuhan. 
> tetapi, Jika kita tidak makan daging karena Metta, maka itu 
merupakan 
> kamma baik. 
> 
> with Metta 
> Sumedho Benny 
> 
> 
> 
> [EMAIL PROTECTED] 
> Sent by: [email protected] 
> 06/02/2006 02:30 PM 
> 
> Please respond to
> [email protected]
> 
> 
> To
> [email protected] 
> cc
> 
> Subject
> Re: [Dharmajala] Kasus ?
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Apakah betul kalau tidak pakai niat namanya tidak melakukan kamma? 
> 
> Menurut saya baik pakai niat atau tidak pakai niat, selama kita 
melakukan 
> sesuatu, 
> bahkan sewaktu kita duduk diam tanpa memikirkan apapun, kita tetap 
sedang 
> membuat penyebab kamma. (Kita tetap bernapas bukan? Dan ini 
menyebabkan 
> kita tetap bisa hidup) 
> 
> Saya melihat disini bahwa hukum kamma dipandang sebagai suatu hukum 
yang 
> sempit. 
> Yaitu suatu perbuatan hanya akan berakibat jika dilandasi oleh 
niat, jika 
> tidak dilandasi oleh niat maka perbuatan kita tidak akan berbuah 
apa-apa 
> dan hanya menghasilkan suatu kondisi untuk berbuahnya kamma yang 
lain yang 
> 
> dilandasi oleh niat. 
> 
> Menurut saya ini akan menimbulkan kerancuan, 
> Di satu sisi kita melatih diri untuk tidak mencuri, namun di sisi 
lain 
> kita "boleh" menerima uang hasil rampokan karena kita tidak 
memiliki niat 
> untuk merampok (orang lain yang merampok). 
> Jika  saja sewaktu menerima uang tersebut kita mengetahui bahwa 
uang 
> tersebut merupakan hasil pencurian, mengapa tidak ditolak saja dan 
> menasehati orang yang memberi uang tersebut jika memungkinkan. 
Sehingga 
> tidak akan terjadi pembenaran atas perbuatan-perbuatan yang 
melanggar 
> sila. Ini bisa membuat orang tersebut terhindar dari melakukan 
> pencurian-pencurian dimasa mendatang bukan? 
> 
> Di satu sisi kita melatih diri untuk tidak membunuh, di sisi lain 
kita 
> boleh menikmati hasil pembunuhan. 
> Saya yakin bahwa setiap orang yang makan daging hewan, pasti 
mengetahui 
> bahwa hewan tersebut dibunuh terlebih dahulu sebelum menjadi 
daging. 
> Jadi secara sadar dia telah memiliki niat agar hewan yang akan dia 
nikmati 
> 
> untuk mati terlebih dulu sebelum bisa dinikmati. 
> Tidak mungkin daging tersebut tersedia begitu saja tanpa dibunuh 
terlebih 
> dulu, bukan? 
> 
> Jika saya berdiskusi mengenai penghindaran pembunuhan hewan untuk 
konsumsi 
> 
> manusia dengan bervegetarian kepada umat non-Buddhis, sangatlah 
sulit 
> sebab mereka menganggap bahwa hewan itu memang telah disediakan 
oleh Tuhan 
> 
> mereka untuk dibunuh dan diambil dagingnya. 
> 
> Ironisnya banyak umat Buddhis, yang mengetahui dan selalu berbicara 
> tentang kasih sayang kepada semua mahluk  "sabbe satta bhavantu 
> sukhitatta",  namun melakukan pembenaran terhadap pembunuhan hewan 
dengan 
> ikut berpartisipasi dalam konsumsi daging hasil pembunuhan 
tersebut, 
> dengan alasan bahwa mereka tidak berniat untuk membunuh hewan yang 
> dagingnya mereka makan sehingga tidak akan mengakibatkan kamma 
buruk bagi 
> mereka. 
> 
> Dengan menghindari makan daging hasil pembunuhan, tentu permintaan 
akan 
> daging akan berkurang dan pembunuhan yang lebih banyak tidak perlu 
> terjadi. 
> 
> 
> With Metta 
> 
> Mulyadi 
> 
> 
> 
> 
> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam 
diri 
> saya maupun di luar diri saya **
> 
> ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk 
menanami 
> taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi 
pengertian 
> dan cinta kasih yang kokoh **
> 
> ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan 
memahami 
> secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga 
> terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
> 
> ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi 
penuh 
> welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi 
ataupun sore 
> hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu 
sesama 
> melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur 
> kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
> Yahoo! Groups Links
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke