Bro/Sis Neir Kate,

Saya sepenuhnya setuju apa yang diutarakan. Hanya pada sebelumnya saya ingin menekankan bahwa bukan hanya karena utk makanan saja bahwa binatang/mahluk lain itu secara tidak langsung menderita. Banyak hal lainnya juga yang perlu kita perhatikan. Jangan karena kita memperhatikan makanan kita misalnya dengan bervegetarian, maka kita tidak mengindahkan komponen2x penunjang hidup lain seperti pakain ,tempat tinggal, obat2xan ataupun barang2x lainnya. Semua itu secara tidak langsung masih menyebabkan mahluk lain menderita juga. Karena banyak rekan2x saya yg vegetarian itu "lupa", dan merasa mereka sudah bebas dari secara tidak langsung telah menyebabkan mahluk lain menderita.

with Metta

Sumedho Benny




"Neir Kate" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]

06/08/2006 07:57 AM

Please respond to
[email protected]

To
[email protected]
cc
Subject
[Dharmajala] Re: Kasus ?





Sekuntum teratai untuk anda semua para calon Buddha,

Memang membahas masalah vegetarian itu tidak akan ada habisnya. Saya
sendiri adalah seorang Theravadin, yang dulunya adalah sama dengan
Bro Benny, punya segudang alasan untuk makan daging, mulai dari
membeli daging adalah toh sama dengan membeli baju, sama-sama benda
mati yang telah tersedia disana, bisa juga mengatakan bahwa bukan
dengan makanan seseorang menjadi suci, tapi melalui ucapan,
perbuatan, dan pikiran, atau meng-counter balik dengan bahwa ber-
vegetarian juga tidak menutup terjadi pembunuhan, seperti penggunaan
insektisida, dan lain sebagainya, dan alasan-alasan lainnya yang
cukup bisa menjadi strong point.

Tapi disini saya ingin mengajak anda-anda semua, termasuk Bro Benny,
marilah kita lepaskan dulu, pandangan-pandangan kita terhadap Sutta
Buddha, marilah juga kita lepaskan pandangan-pandangan Bhikkhu X yang
kita anggap hebat, pandai,bijaksana, ataupun mulia. Kemudian marilah
kita bersama-sama melihat, bukankah bro Mulyadi telah memberikan link
yang siap di download, dari sana, kita bisa melihat secara mendalam,
bagaimana hewan-hewan tersebut disiksa sebelum dibunuh, bagaimana
cara-cara hewan-hewan tersebut dibunuh, salah satunya adalah anak
ayam yang masih kecil-kecil yang dipotong paruhnya hanya agar tidak
mematuk telur ayam lainnya, dan masih banyak lagi cara-cara kejam
yang digunakan untuk membunuh hewan tersebut (tentu saja, tidak ada
cara membunuh yang penuh cinta kasih) berangkat dari sana, maka
biarkanlah hati nurani kita sebagai seorang Buddhis yang bicara.
Apakah saya tetap mendukung usaha tersebut atau tidak?Atau minimal
kita tidak ikut mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung
terjadi pembunuhan-pembunuhan seperti itu!Atau setidaknya kita tidak
mendukunt atau menambah daftar-daftar pembunuhan-pembunuhan yang
sudah ada. Benar bahwa ini realita hidup, inilah dukkha, tidak akan
ada yang bisa menjalankan sila secara sempurna, kecuali dia tidak
makan, tidak minum, tidak minum obat, dan jadilah se-onggok mayat,
tapi setidaknya kita bisa melatih diri untuk lebih baik, untuk tidak
menambah dukkha-dukkha dunia yang telah ada.

Jujur bahwa saya bukan seorang vegetarian, tapi saya akan berusaha
untuk bisa ber-vegetarian, walaupun begitu, mungkin saya bisa share
sedikit bahwa kami (KPD angkatan VIII) punya tekad, untuk makan
secara penuh perhatian, minimal pada 3 suap pertama, bahwa makanan
ini adalah pemberian alam semesta, bahkan didalamnya tidak terlepas
dari ada-nya pembunuhan baik secara langsung maupun tidak langsung,
semoga kami patut untuk menerimanya. Apabila dalam makanan terdapat
daging, maka kita melimpahkan jasa-jasa kebajikan kita, kepada hewan-
hewan yang telah turut "berjasa" demi terbentuknya sepiring nasi di
depan kita, semoga terlahir ke alam yang jauh lebih bahagia. Itulah
yang setidaknya berusaha kami lakukan walaupun kadang sering juga
bolong.

Sedikit tambahan perenungan, apakah dalam pikiran kita, saat memakan
daging itu, yang kita makan adalah daging hewan/binatang (dengan
berbagai persepsi kita yang mengatakan bahwa itu makhluk rendah,
pantas mati, pantas untuk dimakan) atau kita memandangnya sebagai
daging dari makhluk hidup, bagaimana kalau daging yang kita makan itu
daging manusia, apakah kita masih akan memakannya secara serakah,
dalam Sutta Buddhis, bahkan Buddha memperupamakan seperti memakan
daging anak sendiri, yang untuk lebih jelasnya bisa ditanyakan pada
ahli-ahlinya.

Kalau mengenai hal kedua, itu memang agak sulit untuk dikatakan mana
yang benar, mana yang salah, karena hidup ini memang penuh dengan
ketidakpastian, kita tidak bisa bilang bahwa ini yang 100% benar, ini
yang 100% salah, masing-masing lagi-lagi punya pandangan sendiri,
termasuk saya. Kalau menurut saya, tergantung kondisi, dana tersebut
boleh saja diterima, selama sang pemberi, telah menyatakan bahwa dia
telah merasa bersalah dan bertobat, serta berjanji untuk tidak
mengulanginya lagi, dan dia memberikan dana ini dengan penuh
ketulusan, maka pemberian "uang haram" itu telah berubah menjadi
suatu pemberian yang penuh dengan ketulusan, maka pemberian itu
adalah layak diterima. Bukankah uang itu sendiri sifatnya netral???

Dari yang bodoh dan hanya ingin menjadi lebih baik.

--- In
[email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Bro Mulyadi,
>
> Bila kita coba melihat lebih jauh pada kehidupan kita sehari2x,
semuanya
> secara tidak langsung berhubungan dengan perbuatan yg tidak baik
> (perampokan, pembunuhan, penipuan dan lainnya). Contohnya
sayur2xan, dalam
> prosesnya, sayur2xan tersebut juga telah diberikan pestisida yg
telah
> membunuh banyak serangga dan hama. Kain utk baju yang menggunakan
> pewarna/zat kimia yang limbahnya membunuh mahluk hidup. Kayu yg
dalam
> penebangannya juga setidaknya banyak mahluk yg menjadi korban.
Obat2xan yg
> dites menggunakan kelinci percobaan. Ditilang polisi menolak
menyogok lalu
> disidang, tetapi dikorup juga oleh orang2x pengadilan. Bekerja pada
> perusahaan yang dalam usahanya jg menggelapkan pajak. Bekerja di
kantor
> dengan softwarenya bajakan. Dan masih banyak lagi lainnya.
> Kita semua tetap hidup seperti itu. Kita "membenarkan" semua hal
buruk itu
> terjadi. Tragis memang. Tapi itulah kehidupan, Dukkha. Penuh dengan
> ketidak puasan dan penderitaan.
>
> tentang menerima dana hasil rampokan, itu perlu analisa lebih
mendetail
> karena case by casenya bisa akan berbeda jauh hasilnya. Di email
> sebelumnya saya menuliskan
>
> Jika kita menerima uang hasil rampokan tsb, maka yang menerima
tidak
> melakukan kamma buruk, kecuali dia menerima dengan niat2x buruk
atau
> mengetahui dari awal sebelum perampokan itu terjadi atau mengetahui
kalau
> dia menerima uang itu maka akan mengakibatkan hal yang tidak baik
terjadi.
>
>
> Jika memang yg menerima tahu akan mengakibatkan hal2x yg tidak baik
> terjadi dan tetap menerima maka dia melakukan kamma buruk. Jika dia
> menerima karena memang tidak akan ada kemungkinan akan menyebabkan
hal2x
> buruk terjadi, yah itu memang bukan akusala kamma. Misalnya Pak
Suharto
> ada berdana kepada korban bencana gempa. Siapapun tahu kalau Pak
Harto itu
> koruptor, merampok uang rakyat. Yang menerima itu menyadari hal
itu. Yang
> menerima sumbangan tidak melakukan akusala kamma karena tidak ada
niat
> atau menyadari ada hal2x buruk yg terjadi akibat sumbangan itu.
> Seperti yg bro tuliskan, saya setuju. jika Vihara menerima
sumbangan yg
> bisa menimbulkan hal2x tidak baik, akan jadi sebuah akusala kamma
bila
> pihak vihara menyadari dan menerima sumbangan seperti itu. tapi
misalnya
> jika Pak Harto menyumbangkan sebidang tanah utk menambah luas
vihara, jika
> menerima memang tidak ada pihak yg dirugikan atau menyebabkan hal2x
tidak
> baik, yang menerima tidak melakukan akusala kamma.
>
> with Metta
> Sumedho Benny
>
>
>
>
>
> [EMAIL PROTECTED]
> Sent by:
[email protected]
> 06/05/2006 09:00 AM
> Please respond to
>
[email protected]
>
>
> To
>
[email protected]
> cc
>
> Subject
> Re: [Dharmajala] Kasus ?
>
>
>
>
>
>
> Bro Benny,
>
> Sungguh sangat tragis apabila kita membiarkan orang lain untuk
terus
> melakukan pelanggaran sila, dengan dalih bahwa kita sebagai
penerima
> (bukan yang merampok atau yang membunuh) tidak melakukan kamma
buruk dan
> tidak akan menimbulkan kerugian bagi diri sendiri (orang lain yang
akan
> menerima kammanya karena perbuatan salahnya).
>
> Itu artinya kita "Membenarkan" perbuatan salah yang dilakukan oleh
orang
> lain, dan ini menimbulkan perbuatan itu terjadi berulang-ulang
tanpa ada
> yang bisa mengurangi atau menghentikannya (pembunuhan mahluk hidup
tetap
> akan terjadi dan semakin banyak karena permintaan akan daging
semakin
> tinggi seiring bertambahnya penduduk dunia).
> Dan lebih mengerikan lagi jika sebuah Vihara mengetahui
dan "menerima"
> dana hasil rampokan, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan
Vihara
> tersebut dan anggapan umat lain terhadap agama Buddha.
>
> Selama kita tahu dan sadar perbuatan kita akan membuat diri kita,
> lingkungan di sekitar kita, dan dunia menjadi lebih baik, maka
seharusnya
>
> kita berusaha untuk melakukannya.
> Sebaliknya jika kita tahu dan sadar perbuatan kita akan membuat
diri kita,
>
> lingkungan di sekitar kita, dan dunia menjadi lebih buruk, maka
seharusnya
>
> kita berusaha untuk menghindarinya.
>
> Saya pikir Kalama sutta cukup relevan dengan diskusi kita kali ini,
> berikut saya kutipkan.
> "Oleh karena itu, warga Suku Kalama, janganlah percaya begitu saja
berita
> yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah
merupakan
> tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya
begitu saja
>
> apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang
dikatakan
> sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya
telah
> direnungkan dengan seksama; juga apa yang kelihatannya cocok dengan
> pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang
menjadi
> gurumu.
>
> Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu
> mengetahui, ?Hal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak
> dibenarkan oleh para Bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan
> mengakibatkan kerugian dan penderitaan,? maka sudah selayaknya kamu
> menolak hal-hal tersebut."
>
>
> With Metta,
>
> Mulyadi
>
>
>
>
> [EMAIL PROTECTED]
> Sent by:
[email protected]
> 06/04/2006 10:31 PM
> Please respond to
>
[email protected]
>
>
> To
>
[email protected]
> cc
>
> Subject
> Re: [Dharmajala] Kasus ?
>
>
>
>
>
>
>
> Bro Mulyadi,
>
> Sepertinya definisi apa itu Kamma yang masing2x miliki berbeda,
akibatnya
> banyak penafsiran yang berbeda2x pula.
> berikut ini kutipan dari buku "Volition, an introduction to the law
of
> kamma" oleh Sayadaw U Silananda:
>
> Apakah kamma ? Sang Buddha berkata: "Oh para bhikku, kehendak
itulah
> Kamma." Arti pada umumnya Kamma adalah tindakan atau perbuatan,
tetapi
> secara teknis, kamma artinya kehendak atau keinginan. Ketika
melakukan
> tindakan, ada kehendak dibelakangnya, dan kehendak tersebut, usaha
mental
> tersebut lah Kamma. Sang Buddha menjelaskan, setelah berkehendak
maka
> seseorang akan bertindak melalui tubuh, ucapan dan pikiran.
>
> Jika kita menerima uang hasil rampokan tsb, maka yang menerima
tidak
> melakukan kamma buruk, kecuali dia menerima dengan niat2x buruk
atau
> mengetahui dari awal sebelum perampokan itu terjadi atau mengetahui
kalau
> dia menerima uang itu maka akan mengakibatkan hal yang tidak baik
terjadi.
>
>
> Jika kita tidak menerima uang hasil rampokan tsb dan menasehati
orangnya,
> itu adalah kamma baik.
>
> Demikian pula dengan makan daging,
> Jika kita makan daging maka kita tidak melakukan kamma buruk
pembunuhan.
> tetapi, Jika kita tidak makan daging karena Metta, maka itu
merupakan
> kamma baik.
>
> with Metta
> Sumedho Benny
>
>
>
> [EMAIL PROTECTED]
> Sent by:
[email protected]
> 06/02/2006 02:30 PM
>
> Please respond to
>
[email protected]
>
>
> To
>
[email protected]
> cc
>
> Subject
> Re: [Dharmajala] Kasus ?
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Apakah betul kalau tidak pakai niat namanya tidak melakukan kamma?
>
> Menurut saya baik pakai niat atau tidak pakai niat, selama kita
melakukan
> sesuatu,
> bahkan sewaktu kita duduk diam tanpa memikirkan apapun, kita tetap
sedang
> membuat penyebab kamma. (Kita tetap bernapas bukan? Dan ini
menyebabkan
> kita tetap bisa hidup)
>
> Saya melihat disini bahwa hukum kamma dipandang sebagai suatu hukum
yang
> sempit.
> Yaitu suatu perbuatan hanya akan berakibat jika dilandasi oleh
niat, jika
> tidak dilandasi oleh niat maka perbuatan kita tidak akan berbuah
apa-apa
> dan hanya menghasilkan suatu kondisi untuk berbuahnya kamma yang
lain yang
>
> dilandasi oleh niat.
>
> Menurut saya ini akan menimbulkan kerancuan,
> Di satu sisi kita melatih diri untuk tidak mencuri, namun di sisi
lain
> kita "boleh" menerima uang hasil rampokan karena kita tidak
memiliki niat
> untuk merampok (orang lain yang merampok).
> Jika saja sewaktu menerima uang tersebut kita mengetahui bahwa
uang
> tersebut merupakan hasil pencurian, mengapa tidak ditolak saja dan
> menasehati orang yang memberi uang tersebut jika memungkinkan.
Sehingga
> tidak akan terjadi pembenaran atas perbuatan-perbuatan yang
melanggar
> sila. Ini bisa membuat orang tersebut terhindar dari melakukan
> pencurian-pencurian dimasa mendatang bukan?
>
> Di satu sisi kita melatih diri untuk tidak membunuh, di sisi lain
kita
> boleh menikmati hasil pembunuhan.
> Saya yakin bahwa setiap orang yang makan daging hewan, pasti
mengetahui
> bahwa hewan tersebut dibunuh terlebih dahulu sebelum menjadi
daging.
> Jadi secara sadar dia telah memiliki niat agar hewan yang akan dia
nikmati
>
> untuk mati terlebih dulu sebelum bisa dinikmati.
> Tidak mungkin daging tersebut tersedia begitu saja tanpa dibunuh
terlebih
> dulu, bukan?
>
> Jika saya berdiskusi mengenai penghindaran pembunuhan hewan untuk
konsumsi
>
> manusia dengan bervegetarian kepada umat non-Buddhis, sangatlah
sulit
> sebab mereka menganggap bahwa hewan itu memang telah disediakan
oleh Tuhan
>
> mereka untuk dibunuh dan diambil dagingnya.
>
> Ironisnya banyak umat Buddhis, yang mengetahui dan selalu berbicara
> tentang kasih sayang kepada semua mahluk "sabbe satta bhavantu
> sukhitatta", namun melakukan pembenaran terhadap pembunuhan hewan
dengan
> ikut berpartisipasi dalam konsumsi daging hasil pembunuhan
tersebut,
> dengan alasan bahwa mereka tidak berniat untuk membunuh hewan yang
> dagingnya mereka makan sehingga tidak akan mengakibatkan kamma
buruk bagi
> mereka.
>
> Dengan menghindari makan daging hasil pembunuhan, tentu permintaan
akan
> daging akan berkurang dan pembunuhan yang lebih banyak tidak perlu
> terjadi.
>
>
> With Metta
>
> Mulyadi
>
>
>
>
> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam
diri
> saya maupun di luar diri saya **
>
> ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk
menanami
> taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi
pengertian
> dan cinta kasih yang kokoh **
>
> ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan
memahami
> secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga
> terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
>
> ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi
penuh
> welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi
ataupun sore
> hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu
sesama
> melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur
> kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
> Yahoo! Groups Links
>


__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Attachment: gif81R2ijhiu3.gif
Description: GIF image

Attachment: gifQKu5XXJKR1.gif
Description: GIF image

Kirim email ke