Saya kok tidak yakin yah dengan data yang wah itu. Tahu dari mana,
pendapatan mereka benar-benar segitu ? Itu adalah stereotype pemikiran
orang-orang yang merasa dirinya lebih tinggi dari mereka-mereka yang
hidup di jalanan.

Lagipula kalau memang benar setinggi itu, apa kita-kita ini jadi
cemburu ? Iri hati ? Dengki ? Itu juga hasil kerja keras lho.
Memangnya yang nulis artikel itu rela/kuat telanjang kaki berdiri di
aspal yang panas dan berjemur matahari, juga menghirup asap kendaraan
yang parah abis ?

Memangnya kenapa kalau mereka itu gak sekolah ? Apa gak sekolah
berarti gak boleh dapat duit ? Banyak tuh generasi pendahulu yang
tidak pernah sekolah malah kaya raya. Dari pada yang sekolah
tinggi-tinggi malah jadinya kacung dan kuli.

So, kalau memang gak mau memberi yah gak usah pake alasan macam-macam,
cukup angkat tangan aja sambil memberi sedikit senyum, bukannya
berpikiran jelek "ini manusia kerjanya minta-minta banyak duit loh,
gua kuliah setengah mati tetap aja jadi kuli".

Hormat saya,
Yongde

--- In [email protected], "Rohana Huang ( PCI )" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
>  
>  
> Setujukah Anda ???
> 
>  
> 
>  
> 
>  Kita membuang Rp 1,5 milyar receh setiap hari
> Sadarkah Anda, bahwa kita, penduduk Jakarta, setiap harinya membuang
uang
> receh hingga mencapai 10 digit setiap harinya, ke jalanan. Mari kita
> berhitung. Jumlah anak jalanan di Jabodetabek saat ini berdasarkan data
> terakhir dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencapai
angka
> 75.000. Pendapatan mereka seharinya bisa mencapai Rp 20.000 â€" Rp
30.000.
> Bila kita ambil Rp 20.000 dikalikan 75.000 anak, berarti kita
membuang uang
> receh (cepek, gopek, seceng) sebesar 1.500.000.000 alias 1,5 milyar per
> hari!
> 
> Kita membuat mereka betah di jalan
> Perhitungan matematis di atas menimbulkan satu pertanyaan ironik
yang besar.
> Bisa jadi kitalah yang membuat anak-anak itu betah berada di jalan.
Dengan
> mengamen, mengemis, menyapukan kemoceng di atas dashboard mobil, atau
> menyodorkan amplop sumbangan â€" satu anak jalanan usia SD bisa memiliki
> penghasilan yang beda tipis dengan lulusan diploma. Begitu mudah bagi
> mereka. Tanpa perlu capek-capek sekolah, susah-susah melamar kerja, toh
> hasilnya hampir sama. 
> Jajan, main dingdong, dan setoran 
> Tanpa maksud menggurui, Sahabat Anak sepakat dengan salah satu program
> UNICEF, yakni berhenti memberi uang kepada anak-anak jalanan. Dari
sekian
> penelitian yang dilakukan sejumlah LSM, uang yang diperoleh anak-anak
> marjinal ini, sebagian besar tidak mendukung peningkatan kesejahteraan
> mereka. Jajan, ada di peringkat pertama; main dingdong atau permainan
> elektronik lainnya, menjadi pilihan kedua; terakhir, setoran ke
orang tua
> atau inang/senior sebagai pelindung mereka di jalanan. Jadi, bocah-bocah
> berpenampilan kumuh ini pun tetap miskin, tetap terancam putus
sekolah, dan
> tetap berkeliaran di jalan.
> 
> Siapkan biskuit, permen, susu kotak
> Setelah memahami penjelasan di atas, keputusan dikembalikan kepada Anda
> semua. Mari, menjadi sahabat anak yang tidak memanjakan, tapi melakukan
> tindakan serta bantuan yang langsung bisa mereka nikmati. Sebagai
pengganti
> uang receh, berikan mereka nutrisi bergizi atau barang layak pakai.
Mulai
> sekarang, sediakan dalam tas atau mobil Anda: biskuit, permen, buah,
susu
> kotak/botol, atau barang-barang bermanfaat lainnya â€" yang langsung
bisa
> diberikan saat tangan-tangan kecil itu menengadah di dekat Anda. 
>   
> Sumber: http://www.sahabatanak.com/ <http://www.sahabatanak.com/>
>







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke