Beberapa minggu yg lalu, saya juga lihat 'bhikkhu' membawa patta mini (atau 
mirip tempat hio, karena kalau patta sebenarnya adalah cukup besar) minta-minta 
di pintu masuk duta merlin carrefour. Terus terang saya merasa tidak nyaman 
melihat pemandangan itu.Memalukan! Saya cuekin aja. Jangan2 orangnya sama 
dengan yang rekan2 alami ditempat lain. Perlu ngak kita buat satgas buat 
menjaring 'bhikkhu' semacam itu.Nanti satgasnya dibekali surat tugas dari 
instansi berwenang mis: KASI atau Depag? 
  Kalau di diamkan lama-lama jadi lahan baru buat cari kerja.Kalau patta mini 
kurang gede, ntar dia bawa kotak dana dan nantinya bisa terima dana lewat kartu 
kredit dan kartu debit yang digesek di jidatnya.  

  
safira luiz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Ampun sama yang satu ini, Bikkhu gadungan.
   
  Hari Sabtu, tanggal 17 February 2007, kurang lebih jam 11:30 siang di tangga 
penyebrangan bus way harmoni berdiri tegak seorang pria dengan tubuh biasa 
biasa saja, tidak gemuk atau kurus, tidak tinggi maupun pendek, kepala gundul, 
pake jubah bikkhu warnanya seperti jubah bhikkhu theravada tapi model jubahnya 
seperti yang dipakai biksu Mahayana. 
   
  Berdiri dipojok dan membawa patta. Kulihat didalamnya ada beberapa lembar 
uang. Ia sangat ramah, tersenyum dan mengangguk pada setiap orang yang lewat 
sambil beranjali sebelah tangan. Tidak digubris orang, ia pun tetap tersenyum.
   
  Ketika berjalan turun dan mulai melewatinya, ia pun memberi hormat dan 
beranjali. Aku cukup kesal dan mulai berpikir yang baik baik saja. Beberapa 
menit, aku berdiri disampingnya, ragu benar hati ini. Akhirnya aku memberanikan 
diri menyapa bikkhu gadungan (mungkin) dengan bahasa mandarin yang patah patah.
   
  Astaga, ternyata dia tidak bisa menjawab dan dia mengeleng-gelengkan kepala 
tanda dia tidak mengerti bahasa mandarin. Lalu aku tanya dengan menggunakan 
bahasa Indonesia, ternyata dia juga menggeleng-gelengkan kepala. Mukanya bikksu 
itu muka tionghoa banget loh. Waktu aku mau ajak dia ke Ekayana dengan bahasa 
isyarat, dia malah ketakutan. Akhirnya aku garuk garuk kepala dan berlalu tanpa 
memberikan dana apapun padanya.
   
  Nah, teman temin sedharma, next time klo aku ketemu lagi, apa dong yang harus 
kulakukan???? adakah sukarelawan dari wihara/ cetya yang bersedia saya hubungi 
untuk membawanya kewihara terdekat? 
   
  Menurutku ini sungguh memalukan. Patta bukanlah tempat uang. 
   
  Setiap orang punya hak untuk melakukan sesuatu dan kita juga harus belajar 
untuk tidak melekat. Itu saya sangat setuju tapi haruslah diingat bahwa tidak 
melekat bukan berarti dapat melakukan sesuatu atas nama Dhamma seenaknya dewe. 
Tul tidak? ???
   
   
   

Kirim email ke