|
Ass wr wb
> > Ini saya dapat dari seorang teman yang ikutan milis macem macem > > Assalamu'alaikum Wr. Wr. > Di bawah ini bocoran dari diskusi Team Sukses Salah > Satu Capres 2004 > di websitenya yang penuh password yang berhasil > dijebol oleh hackers > nasionalis. > Waspadalah...!, Waspadalah.... ! > ********************************************************************* > SBY, Berkah atau Bencana? > Menengok ke Belakang > Sebetulnya sebuah majalah berita mingguan ternama > sudah mengendus > geliat > mengusung SBY ke RI 1 sejak Juli 2001, tepatnya sejak > SBY gagal menjadi > wapres menggantikan MSP yang naik ke RI 1. Kegagalan > yang kemudian > disikapi dengan rapat-rapat intensif di berbagai > tempat untuk sebuah > tujuan > besar, RI-1. > Lewat Subur Budhisantoso (Kepala Pusat Penelitian > Pranata Pembangunan > UI) > dan > pentolan-pentolan GMKR (Gerakan Mengembalikan > Kedaulatan Rakyat) > seperti > Irsan Tanjung dan Sri Soemantri (keduanya Guru Besar > UI), serta di back > up > oleh jenderal-jenderal loyalis SBY, diantaranya Sudi > Silalahi dan > Ma'ruf, > serta jaringan pengusaha "hitam' (contoh kecil, S.P.M > Yong, Adik Aseng, > seseorang yang disebut-sebut pengelola togel KUDA LARI > yang beredar > luas di Jawa tengah setiap hari), dan juga memperoleh > aliran dana dari > luar > negeri yang disebut-sebut berasal dari dua organisasi > yang sangat > berpengaruh di AS yaitu AIPAC (American-Israeli > Public affairs > Comittee) > dan ADL (Anti-Defamation League)., sejak pertengahan > 2002. > Mahasiswa-mahasiswa Indonesia di AS sudah mencium > aliran dana seperti > ini, > karena memang di AS diumumkan, hanya saja mereka tidak > peduli karena > yakin > Demokrat tidak memiliki basis massa jelas. > Tersebutlah James Riyadi menjadi penyumbang cukup > besar buat > Demokrat, > disamping itu JR berhasil mengumpulkan ratusan > pengusaha di LN untuk > berpartisipasi membesarkan Demokrat, yang tentu saja > mereka > pengusaha-pengusaha yang "sealiran" dengan sepak > terjang JR. > Siasat Kuda Troya > Dibesarkan di lingkungan militer, beristrikan putri > Sarwo Edi Wibowo, > menjadi SBY sangat lihai bermain di dunia inteljen. > Didukung oleh tim > sukses bayangan yang memback up lewat corong media > massa, SBY mulai > bermain > secara hati-hati untuk posisi RI 1 dengan menjadi anak > manis dihadapan > MSP, > yang > karena keterbatasan intelektual banyak menggantungkan > urusan negara ke > pundak SBY. Tak aneh di lingkungan istana, SBY > merupakan 'godfather' > untuk > semua urusan. Sehingga untuk urusan internal PDIP pun > MSP tidak > segan-segan meminta pertimbangan SBY. > Lingkungan ring 1 MSP yakin bahwa ontran-ontran > disekitar pemilihan > gubenur di berbagai darah, yang berakibat friksi > internal dan pemecatan > kader > sedikit banyak merupakan buah kerja SBY. > Sumber di istana mencontohkan kasus pemilihan gubenur > DKI Sutiyoso. > Meskipun hasil rapat DPD PDIP 100 % menginginkan kader > PDIP yang maju, > namun > karena > bisikan SBY, MSP tega mengorbankan pendukungnya. SBY > bisa mempengaruhi > MSP > karena sebagai Menko Polkam dia memiliki setumpuk > dokumen perihal > "ancaman" yang potensial terjadi di sekitar pemilu. > Dengan lihai SBY > menyakinkan MSP > bahwa sosok militer-lah yang pas menjadi gubenur untuk > menghadapi > pemilu, > padahal ditentang habis-habisan oleh kelompok Roy B > Janis maupun geng > Arifin panigoro. Tujuan SBY jelas, menggerogoti massa > PDIP dengan > membuat > kekecewaan di > akar rumput. Keberhasilan scenario SBY di DKI, membuat > SBY kembali > bermain > di > pemilihan gubenur Sumatera Selatan, Jawa tengah, dan > Bali. Rekomendasi > MSP > untuk pilgub berlawanan dengan kehendak arus bawah > PDIP. Di Jawa > tengah, > bahkan sampai berlarut-larut, DI Sumatera Selatan > sampai pada pemecatan > kader. Kerja keras SBY ternyata berbuah manis, hasil > pemilu legislative > 2004 > membuktikan di 4 propinsi tadi, yang sebelumnya basis > terkuat PDIP, > partai > Demokrat cukup banyak mendulang suara. > Sementara MSP sama sekali tidak tahu, padahal > sebetulnya MSP bisa > belajar > dari Gus Dur betapa pada masa GD pun SBY telah > "menikam" GD dengan > mundur > sebagai menko Polkam ketika situasi negara makin > memanas, kesadaran > baru > ada ketika Cornelis Lay (seseorang yang disebut-sebut > "king maker" di > lingkungan Taufik Kiemas) mengungkapkannya. Sayangnya, > TK merespon > dengan > membabi buta di media massa dengan tidak berani > mengungkapkan keadaan > sebenarnya soal SBY, TK malah membuat blunder dengan > mencari 'alasan' > lain > untuk melampiaskan kemarahannya dengan menyebut SBY > seperti anak TK. > Mendekap sekaligus memenjarakan > SBY juga terlihat bersih di mata sebagian besar umat > Islam. Sebab, SBY > memang mencitrakan dirinya tidak pernah "menyakiti" > umat Islam. SBY > bisa > bermain cantik karena memiliki tim untuk itu. > Disamping BIN lewat > Hendropriyono, SBY juga mempunyai sumber di lingkungan > BIA yang rajin > menyuplai informasi-informasi A1. > Padahal, disebut-sebut oleh lingkungan dalam kapolri > betapa selama ini > Dai > Bachtiar Cuma menjalankan tugas atas desakan menko > Polkam untuk > menangkapi > aktivis-aktivis muslim yang di duga garis keras. > Penangkapan Baasyir > pun > atas permintaan Menko Polkam. Isunya, Kapolri sendiri > segan menangkap > Baasyir karena memang keterlibatannya masih teramat > sumir. Namun SBY > ngotot, > apalagi Indonesia (SBY?) juga mendapat tekanan dari > luar negeri untuk > menangkap > Baasyir. Semua "penculikan" aktivis muslim dan > pengungkapan jaringan > teroris > bisa > berjalan "lancar" karena Dai Bachtiar mendapat suplay > informasi A1 dari > SBY. > Kini setelah SBY makin diatas angin, pihak-pihak asing > makin berani > menekan SBY untuk menjalankan agendanya. Dua hari > setelah pemilu 5 > April, > SBY > pergi ke AS untuk menemui Ricahrd Perle, Paul > Wolfowitz(SBY berhubungan > "baik' sejak PW menjadi Dubes di Indonesia) dan > Dauglas Feith, yang > konon > ke-3nya merupakan pejabat yang sangat berpengaruh di > Pentagon. > Hebatnya, SBY tidak pernah tersentuh sementara Dai > bachtiar harus rela > menerima caci maki dari pendukung Baasyir. Bahkan di > sebagian umat > Islam > "garis keras", Dai dicitrakan sebagai kapolri yang > Cuma menurut pada > pesanan 'sponsor" LN. > SBY bisa nampak begitu 'baik' dimata umat Islam karena > SBY memang > pernah di Gontor dan yang paling mendukung karena > hubungan dekatnya > dengan > AA Gym. > Lewat AA gym pula SBY bisa merangkul petinggi-petinggi > PKS, termasuk > HNW. > Sebab bagi sebagian kader PKS, AA Gym telah memiliki > tempat tersendiri > di > hati mereka. Saking dekatnya, lagu kampanye PKS pun > mengambil dari AA > Gym, > jagalah hati. > Kedekatan AA Gym dan SBY terjalin sejak lama. Makanya > tidaklah heran, > SBY-lah yang mengajak AA Gym berceramah di daerah > konflik misalnya > Apakah > AA Gym tahu kalau namanya dimanfaatkan, entahlah. > Hanya Tuhan dan AA > Gym > yang tahu. > Menebar Harapan > SBY juga dikenal senang menebar harapan kepada semua > pihak. Untuk > memuluskan siasatnya ke RI 1, tidak segan-segan SBY > mengumbar harapan. > Jauh > sebelum > masa kampanye, dihadapan tim sukses AR, SBY bersedia > menjadi cawapres. > Kemudian di hadapan Gus Dur, SBY mau tampil menjadi > jurkam tamu di > kampanye PKB. Di hadapan petinggi Golkar, SBY mengaku > mau dijadikan > cawapres. > Bahkan ketika ditanya MSP pun, SBY mengaku mau > dicawapreskan. > Ternyata semua itu tidak lebih dari siasat belaka. > Siasat untuk > menyiapkan > payung seandainya partai Demokrat gagal mendulang > suara, disamping itu > juga sebagai magnet untuk menegaskan bahwa SBY > diterima dimana-mana dan > diminati. > Tentu saja SBY tidak bisa begitu kalau tidak didukung > oleh tim media > yang > hebat. LSI disebut-sebut sebagai lembaga survei yang > secara kontinyu > 'mendongkrak' populritas SBY dengan rangkaian > pengumuman hasil > poolingnya. > Sesuatu yang sebetulnya biasa-biasa menjadi 'luar > biasa" karena dikemas > dalam bentuk pencitraan lewat media massa. > Menggoyang Pesaing > Kelihaian SBY dan tim sukses-nya kembali terbukti > ketika SBY berhasil > merayu HNW untuk mengajak AR membentuk PPB. Ketika > poros diumumkan, > sontak > saat itu juga tim media SBY menyebar berita bahwa AR > tidak berubah, > masih > terus > senang bikin poros-porosan. Di media massa, ditulislah > kembali > kenangan soal Poros-porosan dengan harapan agar > masyarakat makin anti > pati > terhadap AR. > Mestinya cukup aneh manuver HNW ini. Setelah runtang > runtung dengan > SBY, > tanpa isyarat tertentu kok mendadak mengajak AR > membentuk PPB. > Untunglah, AR menyadari goyangan SBY. Konon karena di > beritahu tim Gus > Dur. > Makanya, meski GD pernah "sakit hati" ke AR, GD tetap > tampil > menggandeng AR > di media massa untuk mengkonter bahwa AR tidak > sendirian. Saat itu juga > diumukan bahwa PPB dibubarkan. Dan AR kemudian bertemu > dengan sejumlah > tokoh seperti Alwi Shihab, Eros J, Rahmawati dan > lain-lain. Pesannya > jelas > ditujukan ke SBY. > HNW pun "berakting" lagi dengan buru-buru menjenguk > Baasyir di tahanan > untuk > meredam kegelisahan pada sebagain kader PKS bahwa HNW > dibawah kendali > SBY. > SBY juga menggoyang Golkar dengan merayu Kalla. > Walaupun sebenarnya, > goyangan ke Golkar ini sudah diantisipasi oleh AT. > Sebab Golkar dengan > partai Demokrat sebetulnya sama, identik dan seide. > Lewat Rizal Malareng (yang berhasil menelorkan > hysteria konvensi partai > Golkar di masyarakat), Tanjung dibisiki untuk > melepaskan Kalla. Karena > Golkar sedang melakukan diaspora kemana-mana. > Sangatlah bodoh kalau tim sukses SBY tidak tahu akan > hal ini. Namun > banyak > kalangan yakin, SBY memiliki plan B. Setelah gagal > merayu Sultan HB > sebagai wapres, pilihan ke Kalla jelas paling > realistis. Apalagi SBY > berhasil > memasukan orangnya ke tim Kalla yaitu Aswar Anaz. > Ada yang menarik soal goyangan SBY ini. Untuk meredam > goyangan ke PKB, > Gus > Dur buru-buru menempel ketat Wiranto. Sebab data > inteljen menyebutkan, > kalau konvensi Golkar berlangsung bersih, Wiranto > sangat berpeluang > menang. > Dan > pihak BIA sudah membuat laporan lengkap bahwa untuk > pilihan Presiden > Wiranto disebut-sebut berpeluang menang. Kalau SBY dan > Wiranto maju, > militer > akan > terpecah dua suaranya. Dan garis komando jadi susah > dijalankan. Meski > tentara tidak memilih, garis komando terbukti efektif > mendongkrak > suara. > Pemilu legislative 5 April membuktikan, di lingkungan > militer dan under > bow-nya, partai Demokrat selalu juara. > Penutup > Hadirnya SBY di pemilu presiden bukan kerja sehari dua > hari. Juga > sangat > bertentangan dengan akal sehat kalau SBY bisa berkibar > hanya karena > didholimi TK dengan sebutan anak TK. Sebetulnya, ini > adalah buah kerja > lama yang terencanakan dengan rapi, sistematis dan > terskenario. > Akhirnya, mari disikapi dengan kritis. Percaya begitu > saja atau serta > merta menolak ini akibatnya sama, sama-sama CELAKA! -- http://ketawa.com/
Yahoo! Groups Links
|
- Re: [e-ketawa] Fw: milis sebelah 03, rosi
- Re: [e-ketawa] Fw: milis sebelah 03, ery santana
- Re: [e-ketawa] Fw: milis sebelah 03, Firman Fajar
- Re: Re: [e-ketawa] Fw: milis sebelah 03, Nia Kartini
- Re: Re: [e-ketawa] Fw: milis sebelah 03, Nia Kartini
