Yth Rekan rekan Pengawal e-Gov Indonesia.

Minggu ini sempat marak berita penyelundupan senjata buatan Pindad yang 
di Export secara resmi dan Legal , namun justru berdasar pernyataan 
Pejabat Pabean di Negara Tetangga, telah yang mendorong media masa di 
Indonesia dan beberapa "pengamat" yang telah berkomentar tanpa 
mempelajari dahulu kondisi sebenarnya
Sementara itu banyak masyarakat lupa, bahwa kita perlu kemampuan untuk 
Mandiri, mulai dari mendiri mengadakan sandang, pangan, papan, hingga 
alat2 pertahanan kedaulatan bangsa., termasuk diantaranya pembuatan 
sarana militer tanpa ketergantungan kepada Negara lain.

Upaya export produk dalam negeri umumnya merupakan hal yang sangat perlu 
dilakukan bagi oleh sektor Industri, agar jumlah produk kita mampu 
mencapai jumlah produksi paling effisien, yaitu dengan nilai biaya 
optimal bagi produksinya, Demikian pula dengan Pindad untuk mampu 
berkembang bagi pertahanan negara sesuai anggaran tanpa hutang luar 
negeri memerlukan kemampuan produk dalam negeri yang memadai dengan 
anggaran yang tersedia, sekaligus penambahan devisa untuk menutup 
pengeluaran Devsa yang masih diperlukan untuk membeli bahan2 tertentu 
yang harus di import dari luar negeri.

Masalah penjualan senjata illegal memang mudah timbul dari kemungkinan 
penyimpangan dalam proses pengiriman, apalagi untuk senjata yang dibeli 
berdasar kesepakatan export FOB / Free-on Board, sehingga tanggung jawab 
produsesn hanya sebatas pelabuhan Export. dan masalah ini merupakan hal 
yang bisa diatasi dengan manajemen risko dan penataan kebijakan export 
senjata yang ada, sehingga senjata yang kita export tidak mungkin di 
perjual belikan di pasar gelap.

Sesuatu yang perlu disadari oleh masyarakat saat ini, jangan sekali lagi 
kita terjebak pada pancingan issue global, yang secara tak langsung bisa 
mendorong timbulnya gerakan dalam negeri untuk terbitnya kebijakan 
pemerintah yang justru membatasi kreatifitas dan upaya kemandirian Bangsa.
Sesuatu yang bila tidak disadari akan membawa dampak pemasungan 
kemampuan kita untuk bisa Mandiri.

Contoh nyata upaya penghapusan kemandirian nasional telah banyak terjadi 
di Indonesia, terutama pada Industri Otomotif,

Diawali dengan kasus IndoKaya, Penguasaha Nasional assembler 
Nissan-Datsun, yang nekad mengembangkan produk otomotif nasional dengan 
memproduksi sendiri Mobil ber merek SENA dengan mempergunakan mesin 
Datsun yang kemudian dikenal dengan DATSUN SENA, namun kegiatannya 
tersebut tidak disetujui oleh perusahaan mitranya di Jepang, dan dengan 
lobby antar negara dan pembatasan cara pembayaran barang import, 
menyebabkan Indokaya kehilangan keagenan melalui tangan2 para antek2 
jepang yang berkuasa, dan harus menghadapi masalah keuangan dan bangkrut.

Drama berikutnya dilanjutkan dengan kasus MobNas, bila diteliti secara 
bisnis tidak ada masalah yang perlu dirisaukan dengan industrinya, bila 
jumlah produksi tmesin dengan pasar yang ada, dan mesin2 pembuat blok 
mesin yang robotik buatan Jerman, yang akan mendorong kita mampu membuat 
mesin murah dan part body murah, sehingga harga mobil di Indonesia akan 
menjadi murah, dengan kualitas global yang tidak kalah kualitasnya. 
Prototype Mesin yang akan diproduksi sudah jadi, semuanya di design oleh 
anak bangsa (bukan KIA), smentara produk design Kia memang mencuat untuk 
mendorong percepatan pembuatan jaringan layanan purna jual dan penjualan 
secara nasional,  dan menjadi dasar percepatan pembuatan Body (karena 
mesin akan pakai buatan dalam Negeri), Namun kasus yang dihadapi pemilik 
menyebabkan SDM terampil anak Bangsa menjadi penganggur, hanya karena 
masalah industri perusahaan dan masalah hukum dengan pemilik disatukan. 
Pada waktu itu tidak ada Pejabat Negara yang menyadari atau berani 
bersikap menentang arus citra MobNas di masyarakat, sehingga tidak ada 
upaya keberpihakan dari Pemerintah untuk mengambil alih kepemilikannya 
menjadi industri strategis negara yang diyakini pasti tetap 
menguntungkan bagi perusahaan dan membuat bangsa kita lebih mandiri. 
Semua terjadi dengan adanya pemicu masalah Global melalui WTO, dan 
dilanjutkan dengan issue politik terkait pemilik, Sehingga akhirnya 
Industri MobNas hancur dan hanya kenangan, hanya karena tidak tersedia 
Modal Kerja untuk beroperasi, meski semua sarana sudah terpasang dan SDM 
telah mampu mendesign sendiri dan memproduksi sendiri otomotif nasional, 
tanpa tergantung kepada pihak asing atau membayar lisensi asing, 
akhirnya siasia tanpa manfaat, termasuk bangkutnya beberapa pengusaha 
parts mitra yang akan diuntungkan bila MobNas berporduksi, Akhirnya 
sisa2 dan jejak kemampuan bangsa tersebut bermunculan di beberapa 
Sekolah Kejuruan, yang pada awalnya sarana dan pengetahuannya di 
fasilitasi dengan memanfaatkan sarana ex mobnas yang tidak dipergunakan.

Drama  lanjutan terjadi lagi dan dialami oleh Industr otomotif Texmaco, 
yang dengat tekad produksi Nasional telah berhasil mendesign dan 
meproduksi mesin dengan cara "contekan:" mirip dengan yang dilakukan  
oleh Jepang pada awal mula mengembangkan industri otomotif di negaranya. 
sehingga sempat mereka dapat membuat mobil dengan body bagus design 
perancis, dengan fast-moving partsnya yang bisa mudah digantikan dengan 
banyak merek parts yang ada di pasar, karena fungsi yang sama, bentuk 
yang berbeda namun 100% compatable, sehingga tidak ada perusahaan 
otomotif bisa menuntut sebagai upaya pembajakan..
Industri ini sebenarnya mampu menyerap banyak produk dalam negeri untuk 
melengkapi hasil produksinya, namun sekali lagi menghadapi harus nasib 
yang sama, dengan issiue permasalahan keuangan pemilik yang tidak 
dipisahkan dengan kelayakan operasi industrinya, maka dengan cepat 
perusahaan dibuat gulung tikar dan hanya menjadi dongeng belaka. Padahal 
bila ada lembaga yang meneruskannya, maka kita sudah bisa membuat mobil 
yang tampilannya sekelas INNOVA, mesinnya equivalent dengan mesin Kijang 
tanpa bisa dituntut, namun semuanya produuk dalam negeri.

Ketiga contoh diatas menunjukkan betapa rapuhnya kebersamaan bangsa ini 
untuk bisa waspada menghadapi issue global, agar tidak bisa dimanfaatkan 
untuk kepentingan konglomerasi asing yang ingin tetap mempertahankan 
penguasaan pasar merek produknya, melalui issue2 tersebut, untuk 
melakukan gerakan yang menghancurkan kemandirian bangsanya sendiri.

Semoga dari Contoh ini mendorong kita semua untuk mampu berpikir jernih 
untuk menentang dan tidak terjebak upaya dan issue global yang berusaha 
mempengaruhi pemikiran masyarakat untuk menghancurkan kemandirian 
bangsanya sendiri tanpa disadari.

Wass.
Hari.

 

Kirim email ke