Mas Imam, Satu hal yang mungkin dapat kita simpulkan dari pengalaman Grameen Bank bhw Debitur kecil lebih mempunyai rasa malu dalam pengembalian hutang dibanding debitur besar. Belajar dari pengalaman Yunus tersebut, kita mungkin saja untuk mendirikan semacam Bank tersebuyt dalam bentuk koperasi simpan pinjam yand didirikan oleh minimal 20 orang pendiri dengan sasaran pemberdayaan kepada sektor ekonomi informal.
Salam, Firdaus On Tue, Apr 22, 2008 at 11:22 AM, Imam Soeseno <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kemarin malam, saya sempat menyambar buku ini di Gramedia, Bokir. Baca > sedikit, eh, menarik. Buku saya habiskan dalam semalam (saya cuma tidur > beberapa jam, itu juga setelah mendapat balasan dari Prof Thomas Suyatno > hehehe). Ketika sms teman2, saya sudah menyelesaikan bagian2 utama buku > ini, khususnya bagaimana nitty-gritty pembentukan bank ini, yang sama > sekali > berbeda dengan bank manapun yang saya lihat sendiri di Indonesia. > > BRI pernah mengklaim Yunus dulu pernah belajar di cabang-cabang mereka. > Antara lain memang tentang kredit 'Candak Kulak' yang terkenal itu. BRI > untung besar meminjami bakul2 kecil, dengan cicilan harian atau mingguan > yang kecil, 'pengembalian' diatas 30an persen. Ketika ikut2an ngiler > minjami para konglomerat, dengan pinjaman yang sangat besar, justru BRI > kena > kemplang.... Itulah bedanya konglomerat dengan bakul kecil. > > Yunus lebih gila dari itu, para pegawainya berkeluyuran ke desa-desa, > mendatangi ibu-ibu miskin agar bersedia meminjam. Dibujuk. Inovasi > sosialnya adalah memberi kepercayaan kepada kelompok masyarakat paling > teraniaya dan miskin (perempuan dalam Pakistan yang Islam bener2 tidak > terbayangkan beratnya hidup mereka) dan bagaimana kelompok2 peminjam > dibentuk (bersosialisasi, bekerjasama, saling membantu, saling > mengencourage, saling menguatkan; tadinya perempuan2 itu tidak keluar > rumah > sendirian, tidak ketemu laki-laki lain, apalagi berurusan bisnis). > Terakhir, luar biasa perjuangannya membuat Bank ini menjadi bank milik > para > gembel2 itu.... sehingga pemerintah cuma pemegang saham minoritas. > > Yang menarik, bila konglomerat ngemplang, gembel2 perempuan itu justru > tingkat pengembaliannya diatas 98% (cuma 2% yang gagal bayar). Ketika > banjir dan badai menyapu bersih rumah2 para gembel, hutang mereka tidak > dihapuskan, tapi direskedul. Kebanggaan (harga) diri dibangkitkan dengan > membuktikan ketangguhan mereka. Ini inovasi sosial yang diciptakan Yunus > melebihi semua keuntungan finansial bank kampungan ini (Grameen = > pedesaan). > > Saya si Moeka Kasar ini sempat meneteskan air mata buaya, membaca cerita > seorang ibu miskin, yang diceraikan suaminya yang penjudi cukup dengan > kata > 'Aku Ceraikan Kau' tiga kali, mendapati rumahnya sudah dijual atapnya oleh > suaminya; mendapati salah satu dari 2 anaknya mati tertimpa dinding > rumah... > dengan gigih menjadi peminjam dan pemilik Bank Kampungan ini dan bisa > melunasi kredit rumahnya, memiliki beberapa ekor sapi, dan berjualan > anyaman > bambu... > > Sebelum saya tutup, terimakasih kepada rekan2 yang membalas sms saya dini > hari buta. > Semuanya mengkonfirmasi, masih banyak hal-hal kecil yang dapat kita > lakukan > untuk sodara-sodara kita, tetangga-tetangga kita. > > Saya sarankan rekan2 semua membacanya. > Nikmati mujijat2 yang diciptakan Yunus. > Tuhan hadir dengan perjuangan Yunus. > Merdeka!!! > is > > > > > <http://marjinkiri.com/books/yunusbank.htm> > > > * Bank Kaum Miskin* > > * Muhammad Yunus* > > * (Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006)* > > Terjemahan: Irfan Nasution > > Pengantar: Robert M.Z. Lawang > > ISBN 979-1260-01-x > > 269 + xxvi hlm.; 14 x 20,3 cm. > > Rp 56.000,- > > > "Kisah menakjubkan bagaimana seseorang dengan visi dan nilai-nilai yang > tepat bisa membuat kaum mapan mendengarkannya." John Elkington, * > Guardian > * > > > > Sebagai dosen ekonomi Universitas Chittagong Muhammad Yunus merasa resah > melihat kesenjangan antara teori yang diajarkannya dengan realitas > kemiskinan sehari-hari di Bangladesh. Dan ia pun memutuskan keluar dari > ruang kelas untuk belajar langsung dari masyarakat miskin pedesaan. > Lahirlah > ide-ide cemerlang pengentasan kemiskinan yang sangat relevan dengan > kondisi > Indonesia saat ini. > > Ikutilah pergulatan mengharukan Yunus dan Grameen Bank dalam memberdayakan > masyarakat miskin, membela hak-hak kaum perempuan yang selama ini > diabaikan, > melawan kelambanan birokrasi, kekolotan sikap keagamaan, kekakuan cara > berpikir akademis, > > dan kesewenang-wenangan lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia. > > WAJIB DIBACA OLEH SETIAP AKADEMISI, > AKTIVIS, DAN PENGAMBIL KEBIJAKAN. > > > > Dilengkapi kata pengantar Robet M.Z. Lawang (Guru Besar Sosiologi Modern > FISIP Universitas Indonesia) > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------------------ > > Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? > Kirim email ke [EMAIL PROTECTED] > http://capresindonesia.wordpress.com > http://infoindonesia.wordpress.comYahoo<http://infoindonesia.wordpress.comyahoo/>! > Groups Links > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? Kirim email ke [EMAIL PROTECTED] http://capresindonesia.wordpress.com http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
