Koq seperti klop/'klik' ya? Belum lama ini saya melontarkan usulan di milis alumni (& keluarga besar) Fasilkom UI mengenai topik serupa.. Mungkin perlu dipikirkan lebih lanjut mengenai:
- Besaran donasi/sumbangan untuk penambahan modal sebaiknya bebas (kecil juga gpp).. - Kisaran bagi hasil-nya tidak terlalu besar.. bisa dikurangi.. namanya juga ide.. Tinggal dilihat terkait biaya operasional (pengurus) dan keberlangsungannya juga.. - Perlunya tenaga khusus untuk merealisasikan ide tersebut.. jujur aja, kaya kita" gini kan masih perlu kerja buat keluarga sendiri dahulu.. :-p Mohon maaf kalau ada salah" kata (yang terlihat sotoy).. CMIIW.. Wassalam, Irwan.K From: Irwan K <[EMAIL PROTECTED]> Date: Apr 18, 2008 5:10 PM Subject: Usul: Lembaga Peminjaman/Pemodalan Alumni/Keluarga Besar Fasilkom UI untuk usaha yang kecil banget Maaf kalau saya responnya telat.. :-) Kalau masih diterima dan belum terlambat, usul saya perlu diadakan semacam langkah/ kegiatan 'menyediakan kail'.. Idenya mungkin mirip dengan unit pinjaman yang semi-non- profit (jauh gak ya dari idenya Pak Yunus yang dari Bangladesh itu?).. non profit karena tujuannya membantu, semi-nya karena perlu pengembangan/berkelanjutan.. dan sesekali bisa dikombinasikan dengan kegiatan amal/charity/baksos/jualan murah/'operasi pasar' dkk.. :D Intinya, alumni/keluarga besar Fasilkom membentuk semacam lembaga peminjaman yang memberikan pinjaman dana (kecil) sebagai modal usaha nano (bukannya mini/mikro lagi).. besarnya bisa 500 ribu, 1juta hingga 1.5 juta.. dan boleh dikembalikan dalam waktu 6-12 bulan.. atau tanpa batas waktu atau besaran pembayaran.. namun selama belum lunas, mereka harus mau melakukan 'bagi hasil keuntungan'.. misalkan 25%-30% dari keuntungan.. bisa dibayarkan harian/mingguan/bulanan.. teknisnya bisa dipikirkan lebih lanjut.. Bagi hasil keuntungan ini bukan bermaksud 'memeras' yang dipinjamkan.. semata" agar modal yang dimiliki lembaga peminjaman alumni/keluarga besar ini dapat berumur/bergulir lebih lama.. syukur" awet.. Siapa tahu dari kegiatan semacam itu dapat membantu masyarakat lebih mandiri, mendidik publik untuk bertanggung jawab dan tidak manja... bahwa sesekali diselingi dengan kegiatan amal/charity (jualan barang murah dsb), bisa" aja.. Sebagai gambaran, seorang tukang somay pernah dibooking orang yang hajatan, dibayar 200 ribu rupiah sehari (untuk 300 porsi, @ Rp 1.000).. artinya modal dananya kurang dari segitu kan.. mungkin tukang gemblong atau tukang kue basah butuh modal yang kurang lebih sama.. Tentu saja tetap perlu prinsip kehati"an, kejelian dan kejujuran dari semua pihak terkait (khususnya yang dipinjamkan) dalam persoalan pinjaman tersebut.. karena resiko 'kredit macet' selalu ada.. itu sebabnya pinjaman yang diberikan tidak perlu terlalu besar.. yang penting orang yang dipinjamkan (targetnya) selalu bertambah.. Bisa saja untuk langkah awal hanya 2-4 orang yang diberikan pinjaman 500 ribu rupiah.. kecuali dana awal yang terkumpul sangat" besar.. bisa langsung puluhan/ratusan orang yang dipinjamkan.. Mengenai tempat, mungkin depok bisa menjadi starting point yang cukup tepat.. karena kebetulan Fasilkom UI berlokasi di Depok.. kalau misalkan sudah cukup berhasil, daerah lain bisa saja menyusul.. sekitaran jabotabek.. hush.. jangan bermimpi terlalu jauh ah.. yang dekat" aja dulu.. itupun kalau usulan ini diterima.. Satu hal (sekedar membayangkan) barangkali yang banyak omong, pengamat dkk itu tidak bisa menyampaikan apa yang sudah dilakukannya, bisa karena memang belum ada prestasi istimewa yang mereka lakukan untuk orang banyak.. atau mereka 'enggan' menceritakan apa yang sudah mereka lakukan.. gak semua orang cukup berani menceritakan apa" yang sudah mereka lakukan, lho.. ini barangkali ya.. Memang sih suatu kegiatan yang berkonsep lebih berat/ribet dijalankan dibanding dengan 'acara lepas'.. mungkin mirip film serial dengan film lepas kali ya.. :-) Semoga tidak ada kata terlambat dalam kebaikan.. CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On Tue, Apr 22, 2008 at 11:50 AM, Imam Soeseno <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Nuhun, Juragan. > Saya terus bermimpi agar kita mulai saja mendirikannya. > Gimana kalo kita mulai saja? > [EMAIL PROTECTED] > > On Tue, Apr 22, 2008 at 11:48 AM, Firdaus Ibrahim <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > Mas Imam, > > > > Satu hal yang mungkin dapat kita simpulkan dari pengalaman Grameen Bank > > bhw > > Debitur kecil lebih mempunyai rasa malu dalam pengembalian hutang > > dibanding > > debitur besar. Belajar dari pengalaman Yunus tersebut, kita mungkin saja > > untuk mendirikan semacam Bank tersebuyt dalam bentuk koperasi simpan > > pinjam > > yand didirikan oleh minimal 20 orang pendiri dengan sasaran pemberdayaan > > kepada sektor ekonomi informal. > > > > Salam, > > Firdaus > > > > On Tue, Apr 22, 2008 at 11:22 AM, Imam Soeseno <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Kemarin malam, saya sempat menyambar buku ini di Gramedia, Bokir. > Baca > > > sedikit, eh, menarik. Buku saya habiskan dalam semalam (saya cuma > tidur > > > beberapa jam, itu juga setelah mendapat balasan dari Prof Thomas > Suyatno > > > hehehe). Ketika sms teman2, saya sudah menyelesaikan bagian2 utama > buku > > > ini, khususnya bagaimana nitty-gritty pembentukan bank ini, yang sama > > > sekali berbeda dengan bank manapun yang saya lihat sendiri di > Indonesia. > > > > > > BRI pernah mengklaim Yunus dulu pernah belajar di cabang-cabang > mereka. > > > Antara lain memang tentang kredit 'Candak Kulak' yang terkenal itu. > BRI > > > untung besar meminjami bakul2 kecil, dengan cicilan harian atau > mingguan > > > yang kecil, 'pengembalian' diatas 30an persen. Ketika ikut2an ngiler > > > minjami para konglomerat, dengan pinjaman yang sangat besar, justru > BRI > > > kena kemplang.... Itulah bedanya konglomerat dengan bakul kecil. > > > > > > Yunus lebih gila dari itu, para pegawainya berkeluyuran ke desa-desa, > > > mendatangi ibu-ibu miskin agar bersedia meminjam. Dibujuk. Inovasi > > > sosialnya adalah memberi kepercayaan kepada kelompok masyarakat paling > > > teraniaya dan miskin (perempuan dalam Pakistan yang Islam bener2 tidak > > > terbayangkan beratnya hidup mereka) dan bagaimana kelompok2 peminjam > > > dibentuk (bersosialisasi, bekerjasama, saling membantu, saling > > > mengencourage, saling menguatkan; tadinya perempuan2 itu tidak keluar > > > rumah sendirian, tidak ketemu laki-laki lain, apalagi berurusan > bisnis). > > > Terakhir, luar biasa perjuangannya membuat Bank ini menjadi bank milik > > > para gembel2 itu.... sehingga pemerintah cuma pemegang saham > minoritas. > > > > > > Yang menarik, bila konglomerat ngemplang, gembel2 perempuan itu justru > > > tingkat pengembaliannya diatas 98% (cuma 2% yang gagal bayar). Ketika > > > banjir dan badai menyapu bersih rumah2 para gembel, hutang mereka > tidak > > > dihapuskan, tapi direskedul. Kebanggaan (harga) diri dibangkitkan > dengan > > > membuktikan ketangguhan mereka. Ini inovasi sosial yang diciptakan > Yunus > > > melebihi semua keuntungan finansial bank kampungan ini (Grameen = > > > pedesaan). > > > > > > Saya si Moeka Kasar ini sempat meneteskan air mata buaya, membaca > cerita > > > seorang ibu miskin, yang diceraikan suaminya yang penjudi cukup dengan > kata > > > 'Aku Ceraikan Kau' tiga kali, mendapati rumahnya sudah dijual atapnya > oleh > > > suaminya; mendapati salah satu dari 2 anaknya mati tertimpa dinding > rumah... > > > dengan gigih menjadi peminjam dan pemilik Bank Kampungan ini dan bisa > > > melunasi kredit rumahnya, memiliki beberapa ekor sapi, dan berjualan > anyaman > > > bambu... > > > > > > Sebelum saya tutup, terimakasih kepada rekan2 yang membalas sms saya > dini > > > hari buta. Semuanya mengkonfirmasi, masih banyak hal-hal kecil yang > dapat kita > > > lakukan untuk sodara-sodara kita, tetangga-tetangga kita. > > > > > > Saya sarankan rekan2 semua membacanya. > > > Nikmati mujijat2 yang diciptakan Yunus. > > > Tuhan hadir dengan perjuangan Yunus. > > > Merdeka!!! > > > is > > > > > > <http://marjinkiri.com/books/yunusbank.htm> > > > > > > * Bank Kaum Miskin* > > > > > > * Muhammad Yunus* > > > > > > * (Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006)* > > > > > > Terjemahan: Irfan Nasution > > > > > > Pengantar: Robert M.Z. Lawang > > > > > > ISBN 979-1260-01-x > > > > > > 269 + xxvi hlm.; 14 x 20,3 cm. > > > > > > Rp 56.000,- > > > > > > "Kisah menakjubkan bagaimana seseorang dengan visi dan nilai-nilai > yang > > > tepat bisa membuat kaum mapan mendengarkannya." John Elkington, * > > > Guardian > > > * > > > > > > Sebagai dosen ekonomi Universitas Chittagong Muhammad Yunus merasa > resah > > > melihat kesenjangan antara teori yang diajarkannya dengan realitas > > > kemiskinan sehari-hari di Bangladesh. Dan ia pun memutuskan keluar > dari > > > ruang kelas untuk belajar langsung dari masyarakat miskin pedesaan. > > > Lahirlah ide-ide cemerlang pengentasan kemiskinan yang sangat relevan > dengan > > > kondisi Indonesia saat ini. > > > > > > Ikutilah pergulatan mengharukan Yunus dan Grameen Bank dalam > memberdayakan > > > masyarakat miskin, membela hak-hak kaum perempuan yang selama ini > diabaikan, > > > melawan kelambanan birokrasi, kekolotan sikap keagamaan, kekakuan cara > > > berpikir akademis, dan kesewenang-wenangan lembaga keuangan > internasional seperti Bank > > Dunia. > > > > > > WAJIB DIBACA OLEH SETIAP AKADEMISI, > > > AKTIVIS, DAN PENGAMBIL KEBIJAKAN. > > > > > > Dilengkapi kata pengantar Robet M.Z. Lawang (Guru Besar Sosiologi > Modern > > > FISIP Universitas Indonesia) > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? Kirim email ke [EMAIL PROTECTED] http://capresindonesia.wordpress.com http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
