Akhirnya ada momen untuk terlibat diskusi. Awalnya sy hanya membaca setiap 
diskusi dalam milist ini tanpa terlibat aktif. Sy turut sedih sekaligus resah 
ketika kemiskinan hanya menjadi obyek diskusi di ruang kelas, seminar, milist 
dsb tanpa pernah berujung pada aksi nyata yang berdampak langsung pada si 
miskin.
 
Dari perkembangan diskusi yg sy ikuti terkait dengan kebijakan ekonomi 
Indonesia, sy menyimpulkan adanya kesamaan pandangan ttg ketidaksetujuan akan 
kebijakan2 pemerintah saat ini yang mengarah pada liberalisasi ekonomi. 
Kenaikan harga BBM secara sepihak tanpa memperhatikan tingkat daya beli setiap 
lapisan masyarakat, kebijakan pangan nasional yg semakin pragmatis 
(mengandalkan impor), privatisasi yang tidak ada bedanya dgn asingisasi atau 
singapuraisasi. Ditambah lagi program pengentasan kemiskinan yg tidak berbasis 
pemberdayaan (semisal BLT) yang justru men-disempower masyarakat.
 
Jika kita analisa lebih komprehensif dan mendalam(seperti diskusi2 sebelumnya), 
akan kita temukan gejala strukturisasi kemiskinan. Strukturlah yg membuat 
masyarakat miskin tetap miskin bahkan bertambah miskin. Dan struktur ini 
dibentuk oleh sebuah sistem (yg saat ini sudah secara legal)dipraktekkan 
pemerintah dalam membuat kebijakan ekonominya, yaitu sistem ekonomi kapitalis.
 
Sistem harus dilawan dengan sistem, bukan  tindakan reaktif apalagi sekedar 
kritik tanpa solusi. Salah satu bentuk perlawanan itu telah di praktekan 
M.Yunus. Perlu diketahui, Yunus membuat grameen bank didasari oleh kesadaran 
mendalam bahwa sistem keuangan yg berkembang saat ini tidak akan pernah 
berpihak pada masyarakat miskin (lebih lanjut baca Bank Kaum Miskin, M. Yumus). 
Oleh karena itu beliau membuat model sistem keuangan baru yg lebih berpihak 
pada masyarakat miskin. 
 
Kata kunnci dari sistem yg dikembangkan M.  Yunus itu adalah Social Capital, 
yang bentuknya adalah tanggung jawab, rasa saling percaya ternyata selama ini 
tidak diperhitungkan dalam pertimbangan merangcang kebijakan ekonomi 
(kapitalis), terutama dalam program pengentasan kemiskinan. Padahal modal 
sosial ini benar2 ada dan terintegrasi dengan kemiskinan itu sendiri.
 
Dengan ide dasar ini pula sy bersama tmn mahasiswa UI dibawah payung Comunity 
Development BEM UI(selama setahun ini) berusaha membuat konsep dan implementasi 
pemberdayaan masyaarakat miskin dengan memberi akses modal kepada masyarakat 
miskin di desa Leuwinanggung, Cimanggis Depok. Konsep umumnya mengadopsi apa 
yang dilakukan M. Yunus dengan berbagai modifikasi sesuai dengan kultur dan 
permasalahan setempat.
 
Inti dari operasionalnya, mayarakat miskin yg membutuhkan modal harus membentuk 
kelompok (1 kelompok 5 anggota) dan setiap anggota mendpat modal Rp500rb. Modal 
diberikan dalam tiga tahap; tahap pertama untuk 2 anggota, tahap kedua untuk 2 
anggota dan tahap terakhir  untuk satu anggota. Skrg sudah sampai pengucuran 
modal tahap ketiga, penilaian untuk sementara cukup bagus, dari tahap pertama ( 
8 bulan lalu ), NPL rendah (nol) artinya minimal tanggung jawab mereka terhadap 
kreditur tinggi, usaha mereka sedikit berubah ke arah yang lebih baik walaupun 
blm signifikan, indikasinya adalah tingkat tabungan mmeningkat secaral gradual, 
dan mereka juga mulai menjalankan manajemen keuangan yang lebih baik. Krn 
dengan sistem ini kami berusaha memberi pelatihan sederhana ttg manajemen 
keuangan sederhanayg intinya bgmn memisahkan antara pengeluaran konsumsi dan 
investasi ( krn ini salah satu mslh umum yg kita temukan  dilapangan)
 
Memang secara umum proyek ini belum bisa dikatakan berhasil karena  terlalu 
dini untuk menilainya, disatu sisi ini adalah proyek jangka panjang. Tapi sy 
sendiri optimis.
 
Ada beberapa kendala yang mudah2n saudara2 bisa membantu..kami merumuskan dua 
fase perkembangan dalam proyek ini, fase konsolidasi dan ekspansi kelompok. 
untuk melangkah ke fase ekspansi kita butuh suntikan modal. Modal awal dulu 
(fase konsolidasi kelompok)cuma Rp.8 juta untuk dua kelompok, dan untuk fase 
selanjutnya tentu lebih besar dari itu.
 
Secara pribadi sy berharap proyek ini menjadi model pemberdayaan masyarakat 
pagi siapa saja yg peduli terhadap masyarakat miskin. Tetapi, kami secara 
kelembagaan memiliki keterbatasan dana untuk melangkah ke fase selanjutnya.
 
Jika ada saudara2 yg tertarik untuk berdiskusi (sumbang saran), atau memiliki 
akses buat funding, kami sangat senang sekali. Bagi saudara2 yg tertarik sy 
akan kirimkan proposal kegiatannya
 
 
 
 

Salam



Gianto



----- Original Message ----
From: Imam Soeseno <[EMAIL PROTECTED]>
To: ekonomi-nasional <[email protected]>
Sent: Tuesday, April 22, 2008 11:22:29 AM
Subject: [ekonomi-nasional] Bank Kaum Miskin - Kisah Yunus dan Grameen Bank 
Memerangi Kemiskinan

Kemarin malam, saya sempat menyambar buku ini di Gramedia, Bokir.  Baca
sedikit, eh, menarik.  Buku saya habiskan dalam semalam (saya cuma tidur
beberapa jam, itu juga setelah mendapat balasan dari Prof Thomas Suyatno
hehehe).  Ketika sms teman2, saya sudah menyelesaikan bagian2 utama buku
ini, khususnya bagaimana nitty-gritty pembentukan bank ini, yang sama sekali
berbeda dengan bank manapun yang saya lihat sendiri di Indonesia.

BRI pernah mengklaim Yunus dulu pernah belajar di cabang-cabang mereka.
Antara lain memang tentang kredit 'Candak Kulak' yang terkenal itu.  BRI
untung besar meminjami bakul2 kecil, dengan cicilan harian atau mingguan
yang kecil, 'pengembalian' diatas 30an persen.  Ketika ikut2an ngiler
minjami para konglomerat, dengan pinjaman yang sangat besar, justru BRI kena
kemplang.... Itulah bedanya konglomerat dengan bakul kecil.

Yunus lebih gila dari itu, para pegawainya berkeluyuran ke desa-desa,
mendatangi ibu-ibu miskin agar bersedia meminjam.  Dibujuk.  Inovasi
sosialnya adalah memberi kepercayaan kepada kelompok masyarakat paling
teraniaya dan miskin (perempuan dalam Pakistan yang Islam bener2 tidak
terbayangkan beratnya hidup mereka) dan bagaimana kelompok2 peminjam
dibentuk (bersosialisasi, bekerjasama, saling membantu, saling
mengencourage, saling menguatkan; tadinya perempuan2 itu tidak keluar rumah
sendirian, tidak ketemu laki-laki lain, apalagi berurusan bisnis).
Terakhir, luar biasa perjuangannya membuat Bank ini menjadi bank milik para
gembel2 itu.... sehingga pemerintah cuma pemegang saham minoritas.

Yang menarik, bila konglomerat ngemplang, gembel2 perempuan itu justru
tingkat pengembaliannya diatas 98% (cuma 2% yang gagal bayar).  Ketika
banjir dan badai menyapu bersih rumah2 para gembel, hutang mereka tidak
dihapuskan, tapi direskedul.  Kebanggaan (harga) diri dibangkitkan dengan
membuktikan ketangguhan mereka.  Ini inovasi sosial yang diciptakan Yunus
melebihi semua keuntungan finansial bank kampungan ini (Grameen = pedesaan).

Saya si Moeka Kasar ini sempat meneteskan air mata buaya, membaca cerita
seorang ibu miskin, yang diceraikan suaminya yang penjudi cukup dengan kata
'Aku Ceraikan Kau' tiga kali, mendapati rumahnya sudah dijual atapnya oleh
suaminya; mendapati salah satu dari 2 anaknya mati tertimpa dinding rumah...
dengan gigih menjadi peminjam dan pemilik Bank Kampungan ini dan bisa
melunasi kredit rumahnya, memiliki beberapa ekor sapi, dan berjualan anyaman
bambu...

Sebelum saya tutup, terimakasih kepada rekan2 yang membalas sms saya dini
hari buta.
Semuanya mengkonfirmasi, masih banyak hal-hal kecil yang dapat kita lakukan
untuk sodara-sodara kita, tetangga-tetangga kita.

Saya sarankan rekan2 semua membacanya.
Nikmati mujijat2 yang diciptakan Yunus.
Tuhan hadir dengan perjuangan Yunus.
Merdeka!!!
is




<http://marjinkiri.com/books/yunusbank.htm>


* Bank Kaum Miskin*

* Muhammad Yunus*

* (Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006)*

Terjemahan: Irfan Nasution

Pengantar: Robert M.Z. Lawang

ISBN 979-1260-01-x

269 + xxvi hlm.; 14 x 20,3 cm.

Rp 56.000,-


"Kisah menakjubkan bagaimana seseorang dengan visi dan nilai-nilai yang
tepat bisa membuat kaum mapan mendengarkannya." — John Elkington, * Guardian
*



Sebagai dosen ekonomi Universitas Chittagong Muhammad Yunus merasa resah
melihat kesenjangan antara teori yang diajarkannya dengan realitas
kemiskinan sehari-hari di Bangladesh. Dan ia pun memutuskan keluar dari
ruang kelas untuk belajar langsung dari masyarakat miskin pedesaan. Lahirlah
ide-ide cemerlang pengentasan kemiskinan yang sangat relevan dengan kondisi
Indonesia saat ini.

Ikutilah pergulatan mengharukan Yunus dan Grameen Bank dalam memberdayakan
masyarakat miskin, membela hak-hak kaum perempuan yang selama ini diabaikan,
melawan kelambanan birokrasi, kekolotan sikap keagamaan, kekakuan cara
berpikir akademis,

dan kesewenang-wenangan lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia.

WAJIB DIBACA OLEH SETIAP AKADEMISI,
AKTIVIS, DAN PENGAMBIL KEBIJAKAN.



Dilengkapi kata pengantar Robet M.Z. Lawang (Guru Besar Sosiologi Modern
FISIP Universitas Indonesia)


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional?
Kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
http://capresindonesia.wordpress.com
http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! Groups Links




      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional?
Kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
http://capresindonesia.wordpress.com
http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke