Urun rembuk... Menurut kaum monetarist memang begitu, inflasi dimanage melalui kebijakan suku bunga dan juga mempengaruhi jumlah uang beredar
Tetapi, selain Sritua Arif, Ekonom internasional Stiglitz juga sudah mengutarakan pendapatnya bahwa untuk kondisi saat ini teori moneter seperti itu sudah tidak ampuh. Tidak ada negara yang berhasil meredam inflasi hanya melalui kebijakan suku bunga. Menurut Stiglitz, yang perlu dilakukan ialah kembali ke teori ekonomi lama yaitu melihat dari sisi demand dan supply. Jadi, penyelesaian inflasi adalah mengarah kepada penyebab inflasi itu sendiri. (tulisan Stiglitz pernah dimuat di Koran Tempo, saya lupa edisi kapan tapi masih di Thn. 2008). Menurut hemat saya, kalau kita mau jeli, salah 1 penyebab inflasi yang menggila didunia adalah karena ketidakseimbangan pertumbuhan sektor riil dan sektor moneter. Perkembangan sektor moneter diperparah dengan kebijakan printing money (Dollar) yang tak terkendali dibandingkan dengan tingkat produksi sektor riil, sementara hampir sebagian besar negara2 dunia menganut paham "Dollarization". Pasar yang tercipta memang pasar yang tidak sempurna, sehingga ekonomi pasar menjadi kebablasan tanpa kendali. Contoh ketidakseimbangan demand supply adalah kenaikan harga susu yang menggila. Dimulai dengan susahnya peternak mencari jerami (akibat global warming), diperparah dengan persaingan antara kebutuhan lahan bagi kebutuhan energi (biofuel) dengan kebutuhan pemenuhan pakan ternak itu sendiri dan sumber pangan manusia. Akhirnya produksi susu (supply) tidak bisa memenuhi kebutuhan permintan susu (demand) sehingga harga susu melambung. Pertanyaannya adalah, apakah hal tersebut bisa diatasi dengan kebijakan suku bunga? tentu tidak. Untuk Indonesia, negara subur yang tidak makmur ini, seharusnya semua kebutuhan pangan (food staples) yang menyumbang angka inflasi cukup tinggi bisa diatasi dengan mudah dengan memanfaatkan sumber daya yang melimpah. Intinya adalah: negara ini terjadi Mismanagament of resources. PS: Yang saya takutkan adalah jika "Tragedy of the Commons" sebagaimana yang pernah ditulis oleh Garret Hardin akan benar2 jadi kenyataan. Salam, Herry Hernawan --- In [email protected], Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Konon, menurut teori moneter standar, bila BI rate naik, uang cenderung masuk ke BI, sehingga Jumlah Uang Beredar menurun, lalu inflasi menurun. > > Tapi ada analisis lain, dulu penghulunya Sritua Arif, inflasi di Indonesia disebabkan oleh ketidaksempurnaan pasar, pasar cenderung monopoli atau monopolistis, sehinggga monopolis bisa memainkan harga dengan memainkan suplai. Oleh karena itu, upaya-upaya moneteris tidak akan manjur digunakan untuk menghantam inflasi. > > Salam hangat > B. Samparan > > > --- On Thu, 9/4/08, kusumawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > From: kusumawati <[EMAIL PROTECTED]> > > Subject: [ekonomi-nasional] Menggugat ramuan penangkal inflasi > > To: [email protected] > > Date: Thursday, September 4, 2008, 8:46 AM > > Dear All, berikut kutipan tulisan dari Agus Suman yang saya > > ambil dari > > www.bisnis.com <http://web.bisnis.com> > > > > > > "Ada pernyataan yang menarik agar Indonesia terus > > menaikkan suku > > bungalagi untuk menghambat inflasi. Hal tersebut > > dikumandangkan IMF > > dalam laporan tentang Indonesia yang dikeluarkan di > > Washinton DC, atau > > dengan kata lain acungan jempol IMF untuk BI selaku mandor > > otoritas > > keuanganuntuk terus memperkuat inflation targeting > > framework. > > > > Hal ini sehubungan dengan Bank Indonesia yang pada awal > > Agustus ini > > kembali menaikkan bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin > > menjadi > > 9%setelah bank sentral melihat masih adanya tekanan inflasi > > dalambeberapa bulan ke depan. > > > > Inflasi yang terjadi saat ini adalah fenomena global. > > Melambungnyakomoditas pangan dan minyak menjadi biang > > kerok, harga > > kebutuhan pangan berlarian tak terkendali di pasaran > > global. Demikian > > juga dengan hargaminyak, sehingga kejutan inflasi menyapa > > banyak negara, > > bahkan inflasipun singgah ke negara kecil yang sangat > > terbuka terhadap > > ekonomi duniaseperti Singapura. " > > > > Baca selengkapnya disini > > http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/opini/1id76176.html > > > > Menurut Beliau, ini adalah saat yang paling tepat untuk > > menguji terapi > > penjinak inflasi. Dikatakan juga bahwa menelan racikan > > tunggal resep IMF > > tidak akan meredakan inflasi, karena hal ini hanya akan > > menambah beban > > pada ekonomi domestik dan memancing banjir aliran dana > > spekulatif jangka > > pendek. > > Bagaimana menurut Anda? > > > > Regards, > > Kusumawati > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
