--- On Mon, 9/8/08, herry hernawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Menurut hemat saya, kalau kita mau jeli, salah 1 penyebab
> inflasi yang
> menggila didunia adalah karena ketidakseimbangan
> pertumbuhan sektor
> riil dan sektor moneter.
Nah, di sini salah satu akar penyakitnya sebetulnya adalah bunga. Bunga
menyebabkan sektor moneter tetap memperoleh tambahan daya beli meskipun di
sektor riil investasi mengalami kegagalan. Berbeda kalau bunga diganti dengan
profit loss sharing, jika sektor riil mengalami kegagalan maka sektor meneter
juga harus menanggung loss, sehingga daya beli dari sektor moneter juga
berkurang.
Hint. Bayangkan kalau hutang LN Indonesia tidak memakai bunga tetapi memakai
profit loss sharing!
> Untuk Indonesia, negara subur yang tidak makmur ini,
> seharusnya semua
> kebutuhan pangan (food staples) yang menyumbang angka
> inflasi cukup
> tinggi bisa diatasi dengan mudah dengan memanfaatkan sumber
> daya yang
> melimpah. Intinya adalah: negara ini terjadi Mismanagament
> of resources.
Di Small is Beautiful dikatakan Every society needs its own technology. Nah,
kita yang masyarakat agraris mestinya harus mengembangkan teknologi gaya kita
sendiri yang berakar ciri agraris tersebut. Sayang, kita tidak mau begitu.
Hint. Motor pertumbuhan Amerika awalnya adalah pertanian, bukan yang lainnya.
> PS: Yang saya takutkan adalah jika "Tragedy of the
> Commons"
> sebagaimana yang pernah ditulis oleh Garret Hardin akan
> benar2 jadi
> kenyataan.
CMIIW, Tragedy of the Commons bukankah merujuk pada barang publik? Karena tidak
ada kepemilikan yang jelas, maka setiap pihak cenderung ingin memanfaatkan
tetapi tidak mau memelihara. Akhirnya, menjadi rusak.
Salam hangat
B. Samparan