iya betul! aku setuju banget tu!!! lebih baik melakukan yang sedikit tapi 
bermanfaat, dan kemudian setiap saat diperbaiki segala kekurangan untuk menuju 
kesempurnaan. dari pada hanya bisa bicara banyak dan berdebat tentang 
kesempurnaan tanpa berbuat apa-apa kan? 

Insan Islami Islami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:            Sistem Ekonomi 
Syariah mempunyai konsep yang lengkap dan seimbang dalam segala hal kehidupan, 
namun penganut ajaran Islam sendiri, seringkali tidak menyadari hal itu. Hal 
itu terjadi karena masih berpikir dengan kerangka ekonomi kapitalis, karena 
berabad-abad dijajah oleh bangsa Barat, dan juga bahwa pandangan dari Barat 
selalu lebih hebat. Padahal tanpa disadari ternyata di dunia Barat sendiri 
telah banyak negara mulai mendalami system perekonomian yang berbasiskan 
Syariah. 
   
  Sebagai contoh, seorang ilmuwan Barat, C.C. Torrey dalam disertasinya yang 
berjudul “The Commercial Theological Terms in the Koran” menyatakan bahwa Al 
Quran menggunakan terminology bisnis sedemikian ekstensif. Ia menemukan 20 (dua 
puluh) macam terminology bisnis dalam Al Quran serta diulang sebanyak 370 kali 
dalam berbagai ayat (Mustaq Ahmad, 1995). Penggunaan terminology bisnis 
(ekonomi) yang sedemikian banyak, menunjukkan sebuah manifestasi adanya spirit 
bersifat komersial dalam Al Quran. Sementara itu, ketika Ilmuwan Islam 
mengangkat kembali Ilmu Ekonomi Islam dengan Al Qur’an dan Al Hadits sebagai 
sumber rujukan utama, beberapa ilmuwan muslim, spontan bereaksi seolah-olah, 
menentang keberadaan Ekonomi yang berdasarkan ajaran Syariah Islam tersebut. Di 
samping Torrey, banyak ilmuwan Barat mengangkat kembali nilai-nilai yang 
terdapat dalam sistem ekonomi Islam, termasuk di Indonesia. Seorang Guru Besar 
Ekonomi non Muslim dari Indonesia, Thoby Mutis, begitu semangat
 mengangkat ajaran sistem ekonomi syariah di Inodnesia. Beliau tidak main-main 
dengan mendirikan pendidikan pasca sarjana Ekonomi Syariah di kampusnya. Dengan 
demikian adalah sebuah ironi, jika di antara Muslim sendiri masih meributkan 
masalah ”halal” dan ”haram” tanpa berkesudahan. Akhirnya,  para Muslim hanya 
menjadi penonton berkembangkanya ”Ekonomi Syariah” di Indonesia. 
   
  Apakah para Muslim harus menunggu orang lain yang mengambil ”keuntungan” dari 
perkembangan ”Ekonomi Syariah” di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dari buku 
yang diterbitkan Mark Plus pimpinan Himawan K yang non Muslim tentang 
”Manajemen Syariah” demikian larisnya di pasaran. Namun bila seorang Muslim 
yang menulis buku tentang ”Ekonomi Syariah” atau ”Keuangan Syariah” hanya laku 
di ”lingkungan”nya sendiri. Apakah ini sebuah krisis ”identitas” dari para 
Muslim. Perlu pula kita sadari, bahwa para penulis Muslim yang cukup sukses pun 
sebagian para ”muallaf” yang mendapat hidayah memeluk Islam dengan berbeda 
keyakinan dengan keluarga besarnya.
   
  Marilah kita berhenti berdebat menyatakan diri paling benar atau paling 
syariah, sementara orang lain tidak ada yang benar. Inginkah para pendebat, 
Islam hancur oleh Muslim sendiri???? Siapakah sebenarnya yang akan dimurkai 
oleh Allah???? Orang-orang yang sibuk meneriakkan dirinya paling syariah tanpa 
berbuat apa-apa demi kemaslahatan umat Muslim???? Atau orang-orang yang 
berusaha menerapkan nilai-nilai Islam dalam sistem ekonomi dan keuangan 
meskipun belum murni syariah dengan langkah-langkah kecil yang dimilikinya????? 
Hanya Allah yang tahu........... siapa yang disukai atau dimurkai 
Nya....................   
  
    
---------------------------------
  Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.   

         

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke