iya kita harus membangun ekonomi syariah.. mulai dari keluarga kita masing2 untuk mengatur ekonomi secara syariah.. lalu ketingkat lebig tinggi dan seterusnya...
ane beberapa waktu lalu mendengar pengajian... orang non muslim saat ini berlomba-lomba... membangun ekonomi syariah karena setelah dilakukan penelitian dan kalkulasi yng matang ternyata dengan ekonomi syariah lebih menguntungkan dari segi bisnis..., orang non muslim dalam hal bisnis, lebih senang berbasis syariah meskipun secara nama bukan syariah.., bahkan bank-bank luar negeri sudah banyak yng berbasis syariah... mungkin ada yng bisa kasih masukan akan hal ini.., syukron, regards, danang ----- Original Message ----- From: Insan Islami Islami To: [email protected] Sent: Friday, May 25, 2007 4:33 PM Subject: {ekonomi-syariah} Mari Kita Kembang Ekonomi Syariah Bersama-sama; Hentikan Berdebat Menyatakan Diri Paling Benar Sistem Ekonomi Syariah mempunyai konsep yang lengkap dan seimbang dalam segala hal kehidupan, namun penganut ajaran Islam sendiri, seringkali tidak menyadari hal itu. Hal itu terjadi karena masih berpikir dengan kerangka ekonomi kapitalis, karena berabad-abad dijajah oleh bangsa Barat, dan juga bahwa pandangan dari Barat selalu lebih hebat. Padahal tanpa disadari ternyata di dunia Barat sendiri telah banyak negara mulai mendalami system perekonomian yang berbasiskan Syariah. Sebagai contoh, seorang ilmuwan Barat, C.C. Torrey dalam disertasinya yang berjudul "The Commercial Theological Terms in the Koran" menyatakan bahwa Al Quran menggunakan terminology bisnis sedemikian ekstensif. Ia menemukan 20 (dua puluh) macam terminology bisnis dalam Al Quran serta diulang sebanyak 370 kali dalam berbagai ayat (Mustaq Ahmad, 1995). Penggunaan terminology bisnis (ekonomi) yang sedemikian banyak, menunjukkan sebuah manifestasi adanya spirit bersifat komersial dalam Al Quran. Sementara itu, ketika Ilmuwan Islam mengangkat kembali Ilmu Ekonomi Islam dengan Al Qur'an dan Al Hadits sebagai sumber rujukan utama, beberapa ilmuwan muslim, spontan bereaksi seolah-olah, menentang keberadaan Ekonomi yang berdasarkan ajaran Syariah Islam tersebut. Di samping Torrey, banyak ilmuwan Barat mengangkat kembali nilai-nilai yang terdapat dalam sistem ekonomi Islam, termasuk di Indonesia. Seorang Guru Besar Ekonomi non Muslim dari Indonesia, Thoby Mutis, begitu semangat mengangkat ajaran sistem ekonomi syariah di Inodnesia. Beliau tidak main-main dengan mendirikan pendidikan pasca sarjana Ekonomi Syariah di kampusnya. Dengan demikian adalah sebuah ironi, jika di antara Muslim sendiri masih meributkan masalah "halal" dan "haram" tanpa berkesudahan. Akhirnya, para Muslim hanya menjadi penonton berkembangkanya "Ekonomi Syariah" di Indonesia. Apakah para Muslim harus menunggu orang lain yang mengambil "keuntungan" dari perkembangan "Ekonomi Syariah" di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dari buku yang diterbitkan Mark Plus pimpinan Himawan K yang non Muslim tentang "Manajemen Syariah" demikian larisnya di pasaran. Namun bila seorang Muslim yang menulis buku tentang "Ekonomi Syariah" atau "Keuangan Syariah" hanya laku di "lingkungan"nya sendiri. Apakah ini sebuah krisis "identitas" dari para Muslim. Perlu pula kita sadari, bahwa para penulis Muslim yang cukup sukses pun sebagian para "muallaf" yang mendapat hidayah memeluk Islam dengan berbeda keyakinan dengan keluarga besarnya. Marilah kita berhenti berdebat menyatakan diri paling benar atau paling syariah, sementara orang lain tidak ada yang benar. Inginkah para pendebat, Islam hancur oleh Muslim sendiri???? Siapakah sebenarnya yang akan dimurkai oleh Allah???? Orang-orang yang sibuk meneriakkan dirinya paling syariah tanpa berbuat apa-apa demi kemaslahatan umat Muslim???? Atau orang-orang yang berusaha menerapkan nilai-nilai Islam dalam sistem ekonomi dan keuangan meskipun belum murni syariah dengan langkah-langkah kecil yang dimilikinya????? Hanya Allah yang tahu........... siapa yang disukai atau dimurkai Nya.................... .
