darmayuda yoedea wrote: > > betul sekali, bahwa tujuan ekonomi adalah kesejahteraan. > tapi menurut saya juga tidak benar bahwa sistem yang dibangun tanpa > bentuk. tetap saja bahwa sistem apapun yang ditawarkan dan di ajukan > tetap punya benchmark. kapitalis dengan liberalismenya, sosialis degan > sosialismenya, dan ekonomi syariah dengan islamnya. > *//* >
============================ Mas Darma, Benchmark ekonomi dunia ini cuma satu, yaitu: KESEJAHTERAAN RAKYAT. Di masa kita SEKARANG ini, Anda akan susah melabeli suatu ekonomi. Label ekonomi terutama kapitalis dan sosialis hanya berlaku di suatu masa. Dan itu di masa lalu. Ekonomi yang maju sekarang dibangun atas dasar pragmatisme, terutama dikaitkan dengan keadaan suatu bangsa. Ada beberapa catatan yang memang bisa didiskusikan: 1. Kapitalis sering diumpamakan dengan ekonomi bebas tanpa campur tangan pemerintah. Biar invisible hand yang bekerja. Ini juga menghasilkan masa buruh tertindas, kaum pemilik modal bertambah kaya. Hingga lahirnya komunisme. Tapi semua ini adalah masa lalu. Cuma label masa lalu. Ketika krisis ekonomi melanda dunia tahun 1930 an, Keynes ekonom Inggris justru menyarankan campur tangan pemerintah. Pengeluaran pemerintah dapat mempengaruhi perekonomi, paling tidak untuk masa tertentu. Kalo anda mempelajari jaminan sosial negara2 barat kepada orang miskin, orang yang kehilangan pekerjaan, seperti yang dilakukan di Inggris di Inggris, Perancis, apalagi negara2 Skandinavia (walopun pajak di negara skandinavia mendekati 50%!!! - benar2 sama rata sama rasa!!!), maka susah untuk mendefinisikan negara2 tsb apakah kapitalis ataukah sosialis. Negara barat yang kapitalis itu menerapkan sosialisme kepada rakyatnya yang kurang beruntung. Termasuk penderitaan kaum buruh di masa lalu di negara kapitalis tinggal kenangan. Dunia telah berubah begitu juga dengan label kapitalis. Lebih jauh apakah Cina sekarang cocok dengan label komunis??? 2. Pragmatisme yang berbasis kondisi setempat yang saya maksud adalah seperti contoh Cina dan India. Kedua negara ini sama2 maju tapi dengan cara yang berbeda. Cina maju dengan aktor utama pemerintah. Pemerintahlah yang membuat kebijakan membuka zona ekonomi khusus dan membuat kebijakan yang menarik investor asing. Sehingga akhirnya industri di Cina sangat berkembang pesat dan membuat kemajuan ekonomi yg menakjubkan. Tentu saja semua pencapaian ini tidak bisa mensejahterakan 1 milyar lebih orang sekaligus. India berkembang terutama karena industri IT dan tempat yang subur bagi outsourcing perusahaan barat. Menurut info pakar yang saya baca, berbeda dengan Cina justru pemerintahan India kurang (atau lebih sedikit) berperan dalam kemajuan ekonomi ini. Yang berperan adalah kaum swasta. Dari dua contoh ini terlihat, apakah kemajuan ekonomi kedua negara ini lebih berdasarkan kondisi setempat. Di Cina peran pemerintah dalam kemajuan ekonomi menonjol adalah cocok dengan sistem komunisme. Pemimpin dipilih oleh suatu dewan. Kemudian pemerintah inilah yang secara pragmatis menentukan arah kebijakan ekonomi yang sesuai. Tentu saja peran pemerintah yang besar ini tidak bisa ditiru negara demokrasi seperti India. Namun toh pemimpin India walaupun berganti2, tetap bisa membuat kebijakan yang cocok dengan negaranya dan membuat kemajuan. 3. Jangan percaya deh perihal ekonomi kapitalis = ekonomi bibel. Ini sulit dibuktikan. Walopun kaitan etika protestan dengan kapitalisme coba dirinci oleh Weber. Tapi etika protestan adalah soal perilaku umat (lebih ke unsur budaya) dalam menggapai kemajuan ekonomi. Dasar negara2 barat adalah sekulerisme. Mereka tak pernah menggunakan ayat2 dalam menjalankan kehidupan dunia nyata ini! Tidak seperti kita ... salam
