Assalamualaikum Wr. Wb., "Kalaulah memang benar ekonomi syariah itu hebat dan baik, kenapa perkembangannya seperti jalan di tempat."
Maksudnya jalan ditempat itu seperti apa? Bukankah untuk hebat itu perlu perjuangan? tidak cukup hanya melihat dan menyerahkan orang lain untuk berbuat. Kalau yang menjadi tolok ukur perkembangan bank syariah yang ada di Indonesia yang dimulai tahun 1992 kalau tidak salah, saya pikir ini merupakan perkembangan yang cukup pesat. Bagaimanapun juga memberantas pemahaman miring dan apriori tentang bank Syariah itu sangat berat, merubah jaman juga bukan pekerjaan ringan seperti membalikkan tangan. Menjudgment tanpa pernah berkecimpung didalamnya atau hanya sekedar katanya, saya pikir sulit diterima bagi rekan-rekan yang telah bekerja keras dan berusaha memberikan alternatif layanan sistem syariah sampai sistem itu sempurna. "Kalau hebat secara teori, kita bisa minta adik-adik mahasiswa untuk bikin daftarnya, tapi hebat secara praktis-nya gimana ?" Menggerakkan sektoral Riil, LDR diatas 100% saya pikir itu merupakan praktisnya. Kalau ingin impact besar tentu sangat sulit kita berharap, karena komunitas lembaga Ekonomi Syariah juga hanya sekitar 10% (mungkin tidak sampai), jadi memang wajar saya pikir kecil ya hasilnya kecil juga. "Bank syariah memang berkembang pesat, tapi coba teliti lagi neraca-nya. Berapa besar porsi pendapatan yang berasal dari bagi hasil (mudarabah, musyarakah, dan yang sejenisnya) ? Kenapa portofolio aset bank syariah kebanyakan didominasi oleh transaksi jual-beli (murabahah) ? Teliti lagi (kalau memang ada datanya), berapa banyak nasabah yang menggunakan skema murabahah yang menggunakannya untuk mendukung bisnis-nya, berapa porsi nasabah yang menggunakannya untuk (hanya sekedar) membeli motor, mobil, rumah ?" Sebenarnya tidak ada ketentuan harus selalu Mudharobah lalu Murabahah jangan. Namanya juga bisnis,profit tetap yang utama dengan tetap memperhatikan syari. Setiap bank mempunyai core bussines, ada yang core bussinessnya pertanian, pertambangan, Telekomunikasi, UKM, Corporate, Retail. Dan kebetulan Bank-bank Syariah itu core businessnya ga jelas, semacam supermarket jadi semua bisa dibisniskan (corporate oke, retail oke, UKM juga oke). Dan apabila kebetulan konsumennya yang datang kebetulan menggunakan Skim Murabahah apa itu salah? Contoh saja, ada nasabah yang memerlukan investasi kendaraan untuk mobilitas usahanya, tentunya skim yang cocok tentunya Murabahah (angsuran bisa disesuaikan depresiasi), (angsuran bisa disesuaikan nilai kontrak SPK) dll. Yang namanya jualan ya tergantung yang beli, kalau banyak yang kebetulan cocoknya menggunakan Murabahah ya mau apalagi. Transaksi bagi hasil pun sebenarnya juga tidak alergi buat bank syariah namun kadang tidak semua nasabah dapat mengikuti ketentuan apabila skim bagi hasil diterapkan (biasanyanya mereka bilang ribet), akhirnya yang dapat menikmati skim ini ya jadi terbatas dan bisa sedikit. Salah satu kelemahan orang Islam (tidak semuanya), mereka malas mencatat aktivitas transaksinya. Mereka lupa kalau mau dipercaya ya harus akuntabilitasnya oke. Susahnya lagi adalah bahwa kita ini sudah keracunan virus ekonomi kapitalis dari mulai lahir sampai dengan kita dewasa, dan ini sudah membentuk semacam pola pikir, sehingga sering kita ini hanya mencoba "men-syariah- kan" ekonomi ribawi yang berlaku selama ini. Ujung-ujungnya jadi terlihat seperti hanya "ngakalin" aturan syariah. Sesungguhnya sikap dari barat tidak selalu tidak syariah, yang syariah juga banyak. Perlu terjun dan bersinggungan langsung dan bergaul, setelah itu bisa menyatakan "ngakalin aturan syariah" Selalu mengatakan gelap, tetapi tidak pernah berusaha menyalakan lilin. Wassalam, Agung ----- Pesan Asli ---- Dari: Abdullah Al-Kautsar <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Minggu, 2 September, 2007 11:17:02 Topik: Re: {ekonomi-syariah} Re: Kehebatan Ekonomi Syariah Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh, Kalaulah memang benar ekonomi syariah itu hebat dan baik, kenapa perkembangannya seperti jalan di tempat. Saya jadi ragu akan pernyataan tersebut. Kalau hebat secara teori, kita bisa minta adik-adik mahasiswa untuk bikin daftarnya, tapi hebat secara praktis-nya gimana ? Bank syariah memang berkembang pesat, tapi coba teliti lagi neraca-nya. Berapa besar porsi pendapatan yang berasal dari bagi hasil (mudarabah, musyarakah, dan yang sejenisnya) ? Kenapa portofolio aset bank syariah kebanyakan didominasi oleh transaksi jual-beli (murabahah) ? Teliti lagi (kalau memang ada datanya), berapa banyak nasabah yang menggunakan skema murabahah yang menggunakannya untuk mendukung bisnis-nya, berapa porsi nasabah yang menggunakannya untuk (hanya sekedar) membeli motor, mobil, rumah ? Susahnya lagi adalah bahwa kita ini sudah keracunan virus ekonomi kapitalis dari mulai lahir sampai dengan kita dewasa, dan ini sudah membentuk semacam pola pikir, sehingga sering kita ini hanya mencoba "men-syariah- kan" ekonomi ribawi yang berlaku selama ini. Ujung-ujungnya jadi terlihat seperti hanya "ngakalin" aturan syariah. Kita takut kalau tidak ada saudara-saudara muslim kita yang mau menitipkan uangnya di "bank syariah" jika tidak di-iming-imingi dengan "bagi hasil". Kita takut bersaing dengan bank konvensional kalau "bagi hasil" yang diberikan tidak sebesar bunga yang diberikan bank konvensional. Kita takut bersaing dengan orang di luaran sana kalau tidak mengedepankan label syariah. Kita takut untuk berbeda dengan orang lain, padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan kita memang berbeda satu sama lain. Sampai-sampai kita sering mendengar orang mengatakan "perbedaan adalah rahmat" (yang mana kita sendiri tidak pernah tau, siapa sebenarnya yang pertama kali mengatakan hal tersebut, karena tidak ada hadist yang shahih yang pernah meriwayatkan kalimat tersebut). Jadi saya pikir kita gak perlu bilang ataupun mencari-cari tau bahwa ekonomi syariah itu hebat. Jalankan saja agama ini secara kaffah, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan semua kemenangan untuk kita. Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh Abdullah Al-Kautsar <!-- #ygrp-mkp{ border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;} #ygrp-mkp hr{ border:1px solid #d8d8d8;} #ygrp-mkp #hd{ color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;} #ygrp-mkp #ads{ margin-bottom:10px;} #ygrp-mkp .ad{ padding:0 0;} #ygrp-mkp .ad a{ color:#0000ff;text-decoration:none;} --> <!-- #ygrp-sponsor #ygrp-lc{ font-family:Arial;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{ margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{ margin-bottom:10px;padding:0 0;} --> <!-- #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;} #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;} #ygrp-text{ font-family:Georgia; } #ygrp-text p{ margin:0 0 1em 0;} #ygrp-tpmsgs{ font-family:Arial; clear:both;} #ygrp-vitnav{ padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;} #ygrp-vitnav a{ padding:0 1px;} #ygrp-actbar{ clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;} #ygrp-actbar .left{ float:left;white-space:nowrap;} .bld{font-weight:bold;} #ygrp-grft{ font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;} #ygrp-ft{ font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666; padding:5px 0; } #ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px;} #ygrp-vital{ background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;} #ygrp-vital #vithd{ font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;} #ygrp-vital ul{ padding:0;margin:2px 0;} #ygrp-vital ul li{ list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee; } #ygrp-vital ul li .ct{ font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;} #ygrp-vital ul li .cat{ font-weight:bold;} #ygrp-vital a{ text-decoration:none;} #ygrp-vital a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor #hd{ color:#999;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov{ padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;} #ygrp-sponsor #ov ul{ padding:0 0 0 8px;margin:0;} #ygrp-sponsor #ov li{ list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov li a{ text-decoration:none;font-size:130%;} #ygrp-sponsor #nc{ background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} #ygrp-sponsor .ad{ padding:8px 0;} #ygrp-sponsor .ad #hd1{ font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none;} #ygrp-sponsor .ad a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0;} o{font-size:0;} .MsoNormal{ margin:0 0 0 0;} #ygrp-text tt{ font-size:120%;} blockquote{margin:0 0 0 4px;} .replbq{margin:4;} --> ________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/
