On Dec 13, 2007 4:02 PM, ali sakti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamu'alaikum... > > =====================
Kalo boleh saya memberikan jawaban. satu. Lah emangnya jawaban Mas Ali ada perubahan??? Khan kita sama. Mas Ali selalu bilang ekonomi syariah itu lah yang terbaik, sementara saya selalu bilang ekonomi barat itu yang terbaik. Bahkan saya udah buat makalahnya segala. Soal dasar ekonomi barat, soal bagaimana ekonomi barat berkembang, soal bagaimana ekonomi barat menghadapi krisis, soal unsur moralitas ekonomi barat, soal ragam ekonomi barat. Maaf, rasanya cukup lengkap untuk membuat bukti bahwa: sejauh ini ekonomi terbaik di dunia adalah ekonomi barat. Ini jauh dari janji2 ekonomi syariah yang baru berupa teori, tanpa bukti. Masih taraf menunggu. dua. Tentu lucu sekali kalo saya tak boleh MENGAMBIL HIKMAH dari langkah pragmatisme ala Deng Xiaoping. (Tak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting dia bisa menangkap tikus). Lah langkah itu udah terbukti bisa berhasil koq. Bahkan langkah itu terbukti bisa berhasil memajukan negara dalam waktu relatif singkat. Sementara Mas Ali - bagi saya - begitu terpaku pada keyakinan bahwa ekonomi syariah itu akan berhasil. Sementara belum ada argumen nyata dan meyakinkan. Apalagi bukti nyata di lapangan. Apapun alasan, alibi dan excuse Mas Ali. Karena pengembangan ekonomi syariah itu telah dimulai sejak tahun 70 an. Bandingkan Cina mulai membangun ekonomi pragmatismenya tahun 1979. empat. Masa sih bingung soal ekonomi barat itu menyesuai diri dengan hukum alam. Anda bisa baca referensi buku Sumitro - yang sangat bagus menjelaskan sejarah pemikiran ekonomi - soal paham Physiokrasi itu. The order of things according to natural law. Itulah juga pokok pemikiran Adam Smith. Mencari keadaan alami sistem. Bagian mana sih yang membingungkan anda? Saya sungguh khawatir masalahnya ada di buku bacaan. lima. Postingan terakhir saya sudah meramalkan kebuntuan ini (via japri). Makanya saya sudah meminta Mas Ali untuk membuat argumen yang meyakinkan: mengapa harus ekonomi Islam? Tentu saya serahkan ini pada Masa Ali. Tidak pun tak mengapa. Toh dengan semua ini saya tetap menghargai Mas Ali, karena tali silaturahmi kita telah tersambung. salam
