Sedih sekali melihat bagaimana cara diskusi ini diakhiri. Di saat 
kita sebagai pengkaji dan pendakwah ekonomi islami belum mampu 
memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan sasaran dakwah, 
ternyata bukan hikmah yang diambil (tentang bagaimana memberikan 
jawaban atas pertanyaan yang demikian), melainkan jalan 
pintas "mengusir" si sasaran dakwah.  

Saya coba cermati postingan diskusi sejak awal sampai akhir, dan 
menurut saya, substansi yang diperdebatkan sebenarnya tidak jauh 
berbeda dengan perdebatan yang berkembang di luar forum ini. Di 
antaranya, dua yang yang paling menonjol adalah: 

1. Tentang perlu tidaknya mengembangkan ekonomi islami bila pada 
faktanya negara2 muslim justru terbelakang. 

Dalam pandangan saya, keraguan seperti ini akan lebih mudah dijawab 
bila kita mulai dari penjelasan tentang tiga konsep dasar yang 
meskipun saling terkait erat tetapi berbeda satu dengan yang lain. 

Pertama, sistem ekonomi islami (SEI=islamic economic system). Yaitu 
keseluruhan keyakinan dasar, norma, dan institusi yang menunjukkan 
pandangan IDEAL sebuah masyarakat tentang bagaimana perekonomian 
SEHARUSNYA diatur menurut ajaran Islam. SEI karena itu jelas 
bersifat normatif, tentang apa yang dicita-citakan. Seperti juga 
sistem2 lain, termasuk anak cucu kapitalis dan sosialis. 

Kedua, ilmu ekonomi islami (IEI=islamic economics). Yaitu sebuah 
disiplin yang membahas tentang bagaimana perilaku manusia dalam 
berekonomi (mengalokasikan sd untuk memenuhi kebutuhan hidup) sesuai 
dengan ajaran Islam. IEI dengan kata lain ada di ring tinju yang 
sama dengan ilmu ekonomi konvensional seperti klasik, neoklasik, 
keynesian dkk. 

Ketiga, perekonomian islami (PI=islamic subeconomy) atau 
perekonomian umat islam (PUI=islamic economy). PI lebih merujuk pada 
keadaan REAL atau nyata dari bagian perekonomian yang diklaim sesuai 
dengan ajaran Islam, sementara PUI lebih merujuk pada keadaan REAL 
perekonomian negara-negara muslim, yang mungkin miskin, korup, 
kurang menghargai buruh dll.

Menilik posting2 sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa yang 
didiskusikan adalah pertanyaan tentang perlu tidaknya mengembangkan 
SEI, dengan melihat fakta bahwa PUI saat ini cenderung 
underdeveloped. Layakkah ekonom muslim di Indonesia bicara tentang 
SEI bila kenyataannya negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini 
begitu tertinggal dari negara lain yang nonmuslim?

Seperti halnya sistem2 ekonomi yang lain, SEI muncul berdasarkan 
fenomena REAL di mana sebuah perekonomian atau masyarakat tengah 
mengalami "krisis". Adam Smith (1776) memperkenalkan doktrin laissez 
faire-nya dulu justru di saat tengah dominasi kaum Merchantilist 
yang menekankan peran berlebih negara dalam perekonomian. Bagi 
Smith, campur tangan negara telah merusak tatanan perekonomian, dan 
karenanya ia kemudian bilang kalo yang terbaik SEHARUSNYA adalah 
pasar bebas yang sebebas-bebasnya. Begitu juga, Karl Marx. Melihat 
ada yang tak beres dengan hubungan antar-kelas sosial, ia pun 
menawarkan solusi tentang bagaimana SEHARUSNYA mengelola ekonomi dan 
masyarakat (cerita2 tentang JM Keynes, Milton Friedman dkk pun tak 
jauh beda).

Pemikir2 muslim memunculkan gagasan tentang SEI saat bangsa mereka 
terpuruk pasca penjajahan negara-negara Barat. Meskipun ada 
perbedaaan antara Timur  Kuran yang hanya menyebut Abul A'la al-
Maududi sebagai tokoh penggeraknya (antara lain dalam Journal of 
Economic Perspective, JEP, vol.9, 1995) dengan MU Chapra yang 
membantah dan mengatakan bahwa gerakan ekonomi islami terjadi secara 
spontan di berbagai belahan negara muslim (comment dalam JEP, vol. 
10, 1996), tetapi yang jelas bahwa keduanya mengakui SEI muncul 
sebagai alternatif "jalan keluar" bagi perekonomian umat Islam (PUI) 
sedang sulit.

Dari sini, paling tidak menjadi cukup jelas bahwa urutan logika 
berawal dari PUI yang terbelakang ke kemunculan SEI, dan bukan 
sebaliknya (karena PUI amburadul, buat apa bicara SEI!). 

Di sebuah milis lain, saya sempat menemukan gugatan terhadap SEI 
dengan alasan bahwa PUI di Saudi Arabia (yang disebut sebagai negeri 
pewaris Nabi) justru gagal membangun ekonominya dan sangat 
bergantung pada pendapatan minyak. Gugatan ini saya bantah dengan 
dua argumen. Pertama, bahwa Saudi Arabia bukanlah contoh yang 
[sepenuhnya] tepat untuk merepresentasikan SEI yang saat ini ingin 
dikembangkan. Bila perkembangan perbankan syariah yang jadi ukuran 
(sebagaimana orang sering salah kaprah mengidentikkan ekonomi islami 
dengan perbankan syariah), maka Arab Saudi belum "berekonomi 
islami". Hingga kini, baru ada beberapa buah bank syariah di sana, 
dengan total aset yang masih jauh lebih kecil dibanding aset bank-
bank konvensional. Terlebih, bahwa di masa awal perkembangan 
perbankan syariah, pemerintah Arab Saudi justru terkesan menghalang-
halangi (lihat, Henry dan Springborg (2005), Globalization and the 
Politics of Development in the Middle East, Cambridge Uni Press, 
hal.180-an atau testimoni Mahmoud el Gamal di depan US Senate, hal 6-
7 http://banking.senate.gov/_files/gamal.pdf ).

Kedua, bahwa sesuai dengan poin saya pada bagian ini, masih perlu 
perdebatan panjang tentang hubungan antara realitas PUI di sana 
dengan SEI. Betulkah masalah ketergantungan minyak Arab Saudi 
disebabkan oleh SEI? Atau oleh sebab yang lain? Mungkinkah 
ketergantungan terhadap minyak terjadi sebagai akibat dari 
persekongkolan tradisi kerajaan yang nepotis (korup?) dengan 
kekuatan kapitalis, dan karenanya menjadi argumen yang kuat untuk 
mendukung pengembangan SEI?

Dus, sekali lagi, justru karena keadaan PUI yang terbelakang seperti 
sekaranglah maka kita perlu mengkaji dan mengembangkan SEI!!


2. Mengapa SEI, bukan yang lain

Memang, di tengah fakta keterpurukan PUI, kita bisa saja memilih 
sistem2 ekonomi yang lain untuk diterapkan. Katakanlah seperti yang 
telah disebutkan dalam posting2 sebelumnya. Namun, pilihan pada SEI 
tidak berlebihan mengingat dua alasan.

Pertama, bahwa secara subyektif, berbekal keyakinan tauhid, kita 
percaya bahwa sebenar-benar panduan hidup adalah al-Quran dan sebaik-
baik contoh adalah Rasulullah. Ilmu ekonomi yang kita pelajari dari 
siapapun termasuk dari dunia Barat berfungsi lebih sebagai sarana 
untuk memahami pesan2 al-Quran dan sunnah dalam upaya mengatasi 
problem PUI, dan bukan sebagai doktrin baru yang menggantikan 
keduanya.

Kedua, bahwa secara obyektif, solusi atas masalah yang ada di 
masyarakat lain tidak otomatis sama dengan solusi yang kita butuhkan 
di negeri ini. Terlebih, ketika solusi yang ditawarkan di tempat 
lain itu juga tidak sempurna-sempurna amat.

Sebagai contoh, dalam posting2 terdahulu, dan juga dalam postingan 
orang yang sama dengan tema yang sama di milis lain, dan dalam paper 
9 halaman spasi tunggal yang dikirim kepada saya via japri, terlihat 
betul bahwa ide yang diangkat sebenarnya belum matang. 

Pertama, bila kita diajak memilih "ekonomi kapitalisme pasar bebas 
yang udah ada buktinya ketika diterapkan secara cerdas olah negara2 
yang baru bangkit seperti cina, india",  pertanyaannya: what kind of 
that "kapitalisme pasar bebas" and which way of "diterapkan secara 
cerdas"? Is it pasar bebas yang dipadukan dengan otoritarianisme 
partai tunggal di China, atau kapitalisme yang bersandar pada 
eksploitasi upah buruh murah, atau yang lain?

Tanpa harus menjadi kekanak-kanakan pun (dengan membabi-buta 
menyangkal semua kelebihan dan mengorek-orek kekurangan2 yang ada di 
China dan India) kita tetap dapat bersikap kritis bahwa di luar 
indikator pertumbuhan ekonomi, banyak indikator lain yang 
sebenarnya "tidak menggambarkan sesuatu yang istimewa" untuk menjadi 
argumen melupakan SEI. 
 
Kedua, bila pun pertanyaan2 pada poin pertama terjawab, masih ada 
pertanyaan yang lebih penting, di antaranya: Bagaimana sistem copy-
an itu mau di-paste di Indonesia dan dari mana transisi harus 
dimulai? 

Toh demikian, perlu dicatat secara sangat serius bahwa TIDAK ADA 
satu orang pun di antara kita yang DAPAT MEMASTIKAN bahwa SEI 
sebagaimana dipahami dan coba dikembangkan saat ini akan berhasil. 
Hanya Allah yang maha tahu dan waktu yang akan menjelaskan. SEI bisa 
saja berhasil, dan bisa juga tidak. Bukankah SEI adalah tafsir 
manusia atas al-Quran dan sunnah Rasul di bidang ekonomi (yang bisa 
salah), dan bukan al-Quran atau sunnah itu sendiri? 

Yang jelas, bahwa selama kita mau terus belajar, menerima kritik dan 
memperbaiki diri, maka cepat atau lambat SEI akan mendekati format 
yang diharapkan (persis seperti yang ditekankan dalam posting2 
sebelumnya tentang kapitalis yang terus memperbaiki diri). Kuncinya 
barangkali adalah kecerdasan untuk tidak melihat sesuatu secara over-
general, simplistic hitam dan putih. Juga kedewasaan untuk lebih 
banyak mengkritik diri sendiri, daripada buang-buang waktu "memberi 
masukan" (=mengkritik) SE-SE yang lain. 

Saya agak prihatin kalau membaca sebagian buku2 ekonom islami, 
dengan tebal yang mungkin cuma 100an halaman, 50-60an halaman lebih 
dihabiskan hanya untuk mengkritik kapitalisme dan sosialisme kuno 
yang sekarang juga udah gak ada aplikasinya. Kenapa ruang sebanyak 
itu gak dipake aja untuk bicara gambaran detail SEI?

3. Tentang pendekatan empiris-induktif

Ketika saya baca ujung dari salah satu postingan tentang perlunya 
pendekatan "empiris-induktif", saya membaca peluang bahwa yang 
bersangkutan sebenarnya tidak 180 derajat berseberangan dengan 
mayoritas milister di sini. Sebab, seperti telah dibahas di poin 1 
di atas, pengembangan SEI pun tidak lepas dari pendekatan "empiris-
induktif', meskipun hal ini bukan satu-satunya. 

Ketika pemikir muslim melihat ketertinggalan PUI, mereka mencoba 
memahami dan menjelaskan mengapa hal ini terjadi (dus berdasarkan 
fakta empiris dan membuat konklusi secara induktif). Lalu, sebagai 
muslim mereka kemudian mencoba mencari kemungkinan solusi atas 
problem yang dihadapai, baik dari al-Quran-sunnah, maupun dari 
pelajaran2 terdahulu di berbagai perekonomian yang lain. Yang 
terakhir ini dipertimbangkan dan diterima meski dari manapun 
datangnya (entah China, India, US dll) sejauh tidak bertentangan 
dengan prinsip-prinsip ekonomi yang didasarkan pada nilai Islam.

Akbar



--- In [email protected], "Eko Budhi S, Ghifari.Org" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> --- In [email protected], rafki ismael <elsolokiy@>
> wrote:
> >
> > asww
> > mengamati berdebatan kusir yang dialot alotkan, serta tidak
> terdapatnya kesamaan visi dan misi antara pak Erwin dengan 
komunitas
> yang kita bangun, dengan ini saya berharap moderator untuk "mem -
> benned"/me non aktifkan sementara pak erwin dari Milist ini, sampai
> suatu saat beliau menyadari kekeliruannya.
> > 
> > terima kasih
> > wassalam
> 
> Assalamu'alaikum
> 
> Diskusi di komunitas ini sebaiknya sudah pada tataran "BAGAIMANA"
> bagaimana mewujudkan ekonomi Islam,
> bagaimana agar keuangan syariah tidak di-eksploitasi oleh jaringan
> keuangan Barat/via Singapura dll ... (Catatan : Kalau rakyat 
misalnya
> membeli mobil via bank konvensional dibandingkan ke bank syariah 
maka
> yang harus dibayar via bank syariah 2x lipat, jadi kalau pemilik 
bank
> itu bank asing/Singapore ya buat mereka mengeksploitasi kita.).
> 
> Untuk diskusi ttg "mengapa" sebaiknya di luar saja ... misal di
> ekonomi-nasional.
> Ini akan lebih berguna, ketimbang kita masih seperti Newton usia 
SD :
> Mengapa apel jatuh ?
> 
> Kalau perlu buat milis khusus misal "pengantar-ekonomi-syariah", 
jadi
> yang masih belum paham (bukan meragukan) ekonomi syariah bisa 
membahas
> di sana dulu ...
> 
> Saatnya kita beraksi ... nah di sini perlunya HOW ?
> 
> Wassalamu'alaikum
> 
> 
> 
> Eko Budhi S
>


Kirim email ke