Assalamu'alaikum wr.wb.. Di tengah gegap gempita dan semangat untuk terus mengembangkan ekonomi syariah, maka analisis dan pertanyaan tentang "Mengapa harus ekonomi Isalam" merupakan suatu hal yang klasik dan senantiasa kontemporer...
Pertanyaan saudara Erwin, yang kemudian dikomentari oleh Saudara Ali Sakti dan seterusnya hingga komentar Saudara Akbar ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua... Pengembangan ekonomi Islam memang masih perlu pengkajian dan pertanyaan kritis, karena kita meyakini bahwa ekonomi Islam merupakan salah satu sarana kita dalam implementasi aqidah kita yang akan menjadi rahmatan lil alamin bagi seluruh umat manusia. Namun ekonomi islam bukan Islam itu sendiri yang tidak pernah salah karena dia hanyalah interpretasi manusia... Jadi tidak ada yang salah jika kita mengkritisi ekonomi Isalm, namun seyogyanya kita bisa memberikan argumentasi yang konstruktif, tidak an sich karena keyakinan belaka.... Diskusi terkait hal ini mengingatkan saya ketika pada tahun 2000-an dengan saudara Akbar dan rekan-rekan SEF UGM mencoba membahas paper Timur Kuran yang banyak mengkritisi ekonomi Islam. Memang dibutuhkan kedewasaan dan penjelasan yang cerdas untuk bisa mendiskuiskan hal ini, karena jika tidak maka akan bisa memudarkan semangat kita mengembangkan ekonomi Islam... Terima kasih kepada saudara-saudara yang tetap kritis terhadap ekpnomi Islam...Semoga semangat dengan nuansa kritis ini tetap terbangun sehingga Rancang bangun Ekonomi Isalam, baik ilmu, sistem, maupun praktek ekonomi Islam dapat diwujudkan secara baik dan konstruktif.... Yang patus dijaga juga adalah pembagian peran.... Diskusi dan analisis merupakan dunia riil bagi para analisis dan akademisi... Advokasi dan legislasi ekonomi Islam juga merupakan dunia riil bagi para legislator dan regulator... Praktek lembaga keuangan dan bisnis syariah beserta dengan aksi tanggap Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Wakaf juga merupakan aksi riil bagi para praktisi dan masysrakat... Semua itu merupakan jalinan mozaik yang indah dan bukan saling menghakimi... Para akdemisi dan analisis boleh merasa gerah dengan praktek yang belum "islami", namun kegerahan tersebut tidak boleh berhenti hanya dengan mengkritik dan menganggap dirinya paling benar... Sebaliknya para praktisi tidak boleh mersa dirinya paling berjasa karena berada di garda nyata pengembangan ekonomi islam, dan menujuk para pemikir berada di "menara gading,tanpa aksi riil".. Para legislator dan regulator dengan kemampuannya membuat kebijakan dan hobi diskusi juga todak boleh lupa terhapad peranya sebagai pembangun sistem... Dalam perjuangan ini mustahil hadir seorang superman yang sangat mumpuni dalam bidang ilmu, pembangun sistem dan jago dalam dunia praktek... Yang kita perlukan adalah interdepensi dalam keharmonisan, bukan mersa paling mandiri (independen) atau sebaliknya sangat tergantung (dependen). Mari kita perankan fungsi masing-masing secara konstruktif dan dewasa, tanpa dirinya merasa paling benar, karena kebenaran hakiki hanyalan milik Allah SWT.... Barisan yang rapi dengan memahami peran dan fungsi masing masing akan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa dalam pengembangan ekonomi Islam.. Mari kita saling berbagi peran Wassalamu'alaikum wr. wb. Alfi Wijaya akhass <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sedih sekali melihat bagaimana cara diskusi ini diakhiri. Di saat kita sebagai pengkaji dan pendakwah ekonomi islami belum mampu memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan sasaran dakwah, ternyata bukan hikmah yang diambil (tentang bagaimana memberikan jawaban atas pertanyaan yang demikian), melainkan jalan pintas "mengusir" si sasaran dakwah. Saya coba cermati postingan diskusi sejak awal sampai akhir, dan menurut saya, substansi yang diperdebatkan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perdebatan yang berkembang di luar forum ini. Di antaranya, dua yang yang paling menonjol adalah: 1. Tentang perlu tidaknya mengembangkan ekonomi islami bila pada faktanya negara2 muslim justru terbelakang. Dalam pandangan saya, keraguan seperti ini akan lebih mudah dijawab bila kita mulai dari penjelasan tentang tiga konsep dasar yang meskipun saling terkait erat tetapi berbeda satu dengan yang lain. Pertama, sistem ekonomi islami (SEI=islamic economic system). Yaitu keseluruhan keyakinan dasar, norma, dan institusi yang menunjukkan pandangan IDEAL sebuah masyarakat tentang bagaimana perekonomian SEHARUSNYA diatur menurut ajaran Islam. SEI karena itu jelas bersifat normatif, tentang apa yang dicita-citakan. Seperti juga sistem2 lain, termasuk anak cucu kapitalis dan sosialis. Kedua, ilmu ekonomi islami (IEI=islamic economics). Yaitu sebuah disiplin yang membahas tentang bagaimana perilaku manusia dalam berekonomi (mengalokasikan sd untuk memenuhi kebutuhan hidup) sesuai dengan ajaran Islam. IEI dengan kata lain ada di ring tinju yang sama dengan ilmu ekonomi konvensional seperti klasik, neoklasik, keynesian dkk. Ketiga, perekonomian islami (PI=islamic subeconomy) atau perekonomian umat islam (PUI=islamic economy). PI lebih merujuk pada keadaan REAL atau nyata dari bagian perekonomian yang diklaim sesuai dengan ajaran Islam, sementara PUI lebih merujuk pada keadaan REAL perekonomian negara-negara muslim, yang mungkin miskin, korup, kurang menghargai buruh dll. Menilik posting2 sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa yang didiskusikan adalah pertanyaan tentang perlu tidaknya mengembangkan SEI, dengan melihat fakta bahwa PUI saat ini cenderung underdeveloped. Layakkah ekonom muslim di Indonesia bicara tentang SEI bila kenyataannya negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini begitu tertinggal dari negara lain yang nonmuslim? Seperti halnya sistem2 ekonomi yang lain, SEI muncul berdasarkan fenomena REAL di mana sebuah perekonomian atau masyarakat tengah mengalami "krisis". Adam Smith (1776) memperkenalkan doktrin laissez faire-nya dulu justru di saat tengah dominasi kaum Merchantilist yang menekankan peran berlebih negara dalam perekonomian. Bagi Smith, campur tangan negara telah merusak tatanan perekonomian, dan karenanya ia kemudian bilang kalo yang terbaik SEHARUSNYA adalah pasar bebas yang sebebas-bebasnya. Begitu juga, Karl Marx. Melihat ada yang tak beres dengan hubungan antar-kelas sosial, ia pun menawarkan solusi tentang bagaimana SEHARUSNYA mengelola ekonomi dan masyarakat (cerita2 tentang JM Keynes, Milton Friedman dkk pun tak jauh beda). Pemikir2 muslim memunculkan gagasan tentang SEI saat bangsa mereka terpuruk pasca penjajahan negara-negara Barat. Meskipun ada perbedaaan antara Timur Kuran yang hanya menyebut Abul A'la al- Maududi sebagai tokoh penggeraknya (antara lain dalam Journal of Economic Perspective, JEP, vol.9, 1995) dengan MU Chapra yang membantah dan mengatakan bahwa gerakan ekonomi islami terjadi secara spontan di berbagai belahan negara muslim (comment dalam JEP, vol. 10, 1996), tetapi yang jelas bahwa keduanya mengakui SEI muncul sebagai alternatif "jalan keluar" bagi perekonomian umat Islam (PUI) sedang sulit. Dari sini, paling tidak menjadi cukup jelas bahwa urutan logika berawal dari PUI yang terbelakang ke kemunculan SEI, dan bukan sebaliknya (karena PUI amburadul, buat apa bicara SEI!). Di sebuah milis lain, saya sempat menemukan gugatan terhadap SEI dengan alasan bahwa PUI di Saudi Arabia (yang disebut sebagai negeri pewaris Nabi) justru gagal membangun ekonominya dan sangat bergantung pada pendapatan minyak. Gugatan ini saya bantah dengan dua argumen. Pertama, bahwa Saudi Arabia bukanlah contoh yang [sepenuhnya] tepat untuk merepresentasikan SEI yang saat ini ingin dikembangkan. Bila perkembangan perbankan syariah yang jadi ukuran (sebagaimana orang sering salah kaprah mengidentikkan ekonomi islami dengan perbankan syariah), maka Arab Saudi belum "berekonomi islami". Hingga kini, baru ada beberapa buah bank syariah di sana, dengan total aset yang masih jauh lebih kecil dibanding aset bank- bank konvensional. Terlebih, bahwa di masa awal perkembangan perbankan syariah, pemerintah Arab Saudi justru terkesan menghalang- halangi (lihat, Henry dan Springborg (2005), Globalization and the Politics of Development in the Middle East, Cambridge Uni Press, hal.180-an atau testimoni Mahmoud el Gamal di depan US Senate, hal 6- 7 http://banking.senate.gov/_files/gamal.pdf ). Kedua, bahwa sesuai dengan poin saya pada bagian ini, masih perlu perdebatan panjang tentang hubungan antara realitas PUI di sana dengan SEI. Betulkah masalah ketergantungan minyak Arab Saudi disebabkan oleh SEI? Atau oleh sebab yang lain? Mungkinkah ketergantungan terhadap minyak terjadi sebagai akibat dari persekongkolan tradisi kerajaan yang nepotis (korup?) dengan kekuatan kapitalis, dan karenanya menjadi argumen yang kuat untuk mendukung pengembangan SEI? Dus, sekali lagi, justru karena keadaan PUI yang terbelakang seperti sekaranglah maka kita perlu mengkaji dan mengembangkan SEI!! 2. Mengapa SEI, bukan yang lain Memang, di tengah fakta keterpurukan PUI, kita bisa saja memilih sistem2 ekonomi yang lain untuk diterapkan. Katakanlah seperti yang telah disebutkan dalam posting2 sebelumnya. Namun, pilihan pada SEI tidak berlebihan mengingat dua alasan. Pertama, bahwa secara subyektif, berbekal keyakinan tauhid, kita percaya bahwa sebenar-benar panduan hidup adalah al-Quran dan sebaik- baik contoh adalah Rasulullah. Ilmu ekonomi yang kita pelajari dari siapapun termasuk dari dunia Barat berfungsi lebih sebagai sarana untuk memahami pesan2 al-Quran dan sunnah dalam upaya mengatasi problem PUI, dan bukan sebagai doktrin baru yang menggantikan keduanya. Kedua, bahwa secara obyektif, solusi atas masalah yang ada di masyarakat lain tidak otomatis sama dengan solusi yang kita butuhkan di negeri ini. Terlebih, ketika solusi yang ditawarkan di tempat lain itu juga tidak sempurna-sempurna amat. Sebagai contoh, dalam posting2 terdahulu, dan juga dalam postingan orang yang sama dengan tema yang sama di milis lain, dan dalam paper 9 halaman spasi tunggal yang dikirim kepada saya via japri, terlihat betul bahwa ide yang diangkat sebenarnya belum matang. Pertama, bila kita diajak memilih "ekonomi kapitalisme pasar bebas yang udah ada buktinya ketika diterapkan secara cerdas olah negara2 yang baru bangkit seperti cina, india", pertanyaannya: what kind of that "kapitalisme pasar bebas" and which way of "diterapkan secara cerdas"? Is it pasar bebas yang dipadukan dengan otoritarianisme partai tunggal di China, atau kapitalisme yang bersandar pada eksploitasi upah buruh murah, atau yang lain? Tanpa harus menjadi kekanak-kanakan pun (dengan membabi-buta menyangkal semua kelebihan dan mengorek-orek kekurangan2 yang ada di China dan India) kita tetap dapat bersikap kritis bahwa di luar indikator pertumbuhan ekonomi, banyak indikator lain yang sebenarnya "tidak menggambarkan sesuatu yang istimewa" untuk menjadi argumen melupakan SEI. Kedua, bila pun pertanyaan2 pada poin pertama terjawab, masih ada pertanyaan yang lebih penting, di antaranya: Bagaimana sistem copy- an itu mau di-paste di Indonesia dan dari mana transisi harus dimulai? Toh demikian, perlu dicatat secara sangat serius bahwa TIDAK ADA satu orang pun di antara kita yang DAPAT MEMASTIKAN bahwa SEI sebagaimana dipahami dan coba dikembangkan saat ini akan berhasil. Hanya Allah yang maha tahu dan waktu yang akan menjelaskan. SEI bisa saja berhasil, dan bisa juga tidak. Bukankah SEI adalah tafsir manusia atas al-Quran dan sunnah Rasul di bidang ekonomi (yang bisa salah), dan bukan al-Quran atau sunnah itu sendiri? Yang jelas, bahwa selama kita mau terus belajar, menerima kritik dan memperbaiki diri, maka cepat atau lambat SEI akan mendekati format yang diharapkan (persis seperti yang ditekankan dalam posting2 sebelumnya tentang kapitalis yang terus memperbaiki diri). Kuncinya barangkali adalah kecerdasan untuk tidak melihat sesuatu secara over- general, simplistic hitam dan putih. Juga kedewasaan untuk lebih banyak mengkritik diri sendiri, daripada buang-buang waktu "memberi masukan" (=mengkritik) SE-SE yang lain. Saya agak prihatin kalau membaca sebagian buku2 ekonom islami, dengan tebal yang mungkin cuma 100an halaman, 50-60an halaman lebih dihabiskan hanya untuk mengkritik kapitalisme dan sosialisme kuno yang sekarang juga udah gak ada aplikasinya. Kenapa ruang sebanyak itu gak dipake aja untuk bicara gambaran detail SEI? 3. Tentang pendekatan empiris-induktif Ketika saya baca ujung dari salah satu postingan tentang perlunya pendekatan "empiris-induktif", saya membaca peluang bahwa yang bersangkutan sebenarnya tidak 180 derajat berseberangan dengan mayoritas milister di sini. Sebab, seperti telah dibahas di poin 1 di atas, pengembangan SEI pun tidak lepas dari pendekatan "empiris- induktif', meskipun hal ini bukan satu-satunya. Ketika pemikir muslim melihat ketertinggalan PUI, mereka mencoba memahami dan menjelaskan mengapa hal ini terjadi (dus berdasarkan fakta empiris dan membuat konklusi secara induktif). Lalu, sebagai muslim mereka kemudian mencoba mencari kemungkinan solusi atas problem yang dihadapai, baik dari al-Quran-sunnah, maupun dari pelajaran2 terdahulu di berbagai perekonomian yang lain. Yang terakhir ini dipertimbangkan dan diterima meski dari manapun datangnya (entah China, India, US dll) sejauh tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ekonomi yang didasarkan pada nilai Islam. Akbar --- In [email protected], "Eko Budhi S, Ghifari.Org" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- In [email protected], rafki ismael <elsolokiy@> > wrote: > > > > asww > > mengamati berdebatan kusir yang dialot alotkan, serta tidak > terdapatnya kesamaan visi dan misi antara pak Erwin dengan komunitas > yang kita bangun, dengan ini saya berharap moderator untuk "mem - > benned"/me non aktifkan sementara pak erwin dari Milist ini, sampai > suatu saat beliau menyadari kekeliruannya. > > > > terima kasih > > wassalam > > Assalamu'alaikum > > Diskusi di komunitas ini sebaiknya sudah pada tataran "BAGAIMANA" > bagaimana mewujudkan ekonomi Islam, > bagaimana agar keuangan syariah tidak di-eksploitasi oleh jaringan > keuangan Barat/via Singapura dll ... (Catatan : Kalau rakyat misalnya > membeli mobil via bank konvensional dibandingkan ke bank syariah maka > yang harus dibayar via bank syariah 2x lipat, jadi kalau pemilik bank > itu bank asing/Singapore ya buat mereka mengeksploitasi kita.). > > Untuk diskusi ttg "mengapa" sebaiknya di luar saja ... misal di > ekonomi-nasional. > Ini akan lebih berguna, ketimbang kita masih seperti Newton usia SD : > Mengapa apel jatuh ? > > Kalau perlu buat milis khusus misal "pengantar-ekonomi-syariah", jadi > yang masih belum paham (bukan meragukan) ekonomi syariah bisa membahas > di sana dulu ... > > Saatnya kita beraksi ... nah di sini perlunya HOW ? > > Wassalamu'alaikum > > > > Eko Budhi S > --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
