Assalamu'alaikum wr. wb. 
   
  Memang benar, dibanding mata uang apapun di dunia ini, Dinar merupakan 
satu-satunya mata uang yang bebas inflasi. (Saya sudah beberapa kali nulis 
tentang ini di media tempat saya bekerja, Majalah Sabili. Satu di antaranya 
saya kutipkan di bawah ini.) Soal, bank baik syariah maupun konvensional belum 
membuka acount tentang Dinar, sebenarnya gak masalah, karena saat ini sudah 
terdapat beberapa wakala (tempat mejual, membeli dan meyimpan dinar) di 
beberapa tempat, Jakarta, Depok, Bandung, Pekanbaru, Makasar. Berikut artiket 
yang dimaksud (Sabili edisi 12 TH XV 27 Desember 2007): 
   
  Dinar–Dirham 
  Investasi Aman dan Menguntungkan 
   
  Akhir Oktober lalu, nilai dolar AS turun 75% dihadapan euro. Berhadapan 
dengan dinar, dalam enam tahun terakhir dolar juga turun 25% per tahun. 
Masihkan Anda percaya dolar? 
   
              Ketangguhan dolar AS ternyata hanya semu belaka. Publik dunia, 
termasuk di Indonesia yang selama ini ”mendewakan” dolar AS sontak terperangah. 
Mereka tak percaya dengan kejadian nyata di depan matanya. Dalam kurun tiga 
bulan terakhir, mata uang yang ’katanya’ diakui dunia menjadi alat tukar dalam 
perdagangan internasional ini, untuk kesekian kali nilanya terperosok drastis.  
              Sebagian besar analis keuangan sepakat, gonjang-ganjing ini 
disebabkan oleh kredit macet sektor properti (subprime mortgage) di AS dan 
terjadinya lonjakan harga minyak dunia. Secara riil dalam kurun enam tahun 
terakhir, dolar AS memang kehilangan nilainya cukup tajam. Data berikut bisa 
menjelaskannya, per Oktober 2001, nilai dolar masih lebih tinggi dibading euro, 
karena 1 euro sebanding dengan 0,8 dolar AS. Tapi pada akhir Oktober 2007, 
dolar mengalami penurunan (terdepresiasi) sekitar 75%, menjadi 1,4 dolar AS per 
1 euro. 
  Jika dibandingkan dengan mata uang dinar emas (selanjutnya disebut dinar), 
nilai tukar dolar AS mengalami penurunan hingga 190%. Pada Oktober 2001, 1 
dinar senilai dengan 37 dolar AS. Tapi per Oktober 2007, 1 dinar menjadi 107 
dolar AS. Jika dirata-rata, dalam kurun enam tahun terakhir (2001–2007) 
penurunan nilai dolar terhadap dinar mencapai 25% per tahun. 
  Ini sangat menggembirakan bagi pemakai dinar di seluruh dunia, termasuk 
Indonesia. Pasalnya, kejadian ini makin membuktikan bahwa dinar memang 
satu-satunya mata uang yang bebas inflasi. Pengelola Wakala Adina, Zaim Saidi 
menuturkan, tahun 2000 harga 1 dinar hanya Rp 400 ribuan, tapi pada saat 
wawancara berlangsung, Jumat (7/11), untuk membeli 1 dinar Anda harus merogoh 
kocek Rp 1.030.000. 
  Menurut Zaim, ini menunjukkan bahwa uang kertas, apapun mata uangnya, mau 
euro, dolar apalagi rupiah, secara instrinsik nilainya tidak berharga, karena 
terus menurun diterjang inflasi. Sedangkan dinar, nilainya tetap, tidak naik 
dan tidak turun. ”Untuk membuktikannya, bandingkan dengan harga kambing. Tahun 
2000 seekor kambing ukuran besar harganya sekitar Rp 400 ribuan, setara dengan 
1 dinar. Saat ini, seekor kambing ukuran besar harganya sekitar Rp 1 jutaan, 
setara dengan 1 dinar. Pada zaman Rasulullah saw pun, harga 1 ekor kambing juga 
1 dinar,” jelasnya. 
  Tak heran, dengan ketangguhan ini, peminat mata uang dinar di tanah air juga 
terus meningkat. Pada kurun Oktober sampai awal Desember ini, Wakala Adina yang 
berlokasi di Kelurahan Tanah Baru, Kota Depok, kebanjiran pembeli. ”Peminatnya 
tiba-tiba melonjak hampir 100 persen. Jika pada bulan-bulan sebelumnya hanya 
terjual sekitar 500 keping per bulan, dalam tiga bulan terakhir melonjak 
menjadi 1000 keping,” tutur Zaim.
  Di Bandung dan sekitarnya, peminat dinar dalam tiga bulan terakhir tiba-tiba 
juga melonjak. Wakala Syauqi Dinar yang mulai beroperasi per Januari 2007 ini, 
dalam sebelas bulan hanya bisa menjual 50 keping. Tapi, dalam tiga bulan 
terakhir tiba-tiba mampu menjual hingga 25 keping. ”Penjualan dalam sebulan tak 
bisa ditentukan, tapi dalam tiga bulan ini tiba-tiba pembelinya melonjak. Ini 
menunjukkan bahwa masyarakat mulai sadar dengan investasi dinar yang bebas dari 
gejolak inflasi,” jelas Ricky Syauqi, pengelola Syauqi Dinar.
  Meski begitu, bagi para pengelola wakala, semangat yang tumbuh bukan semata 
mengejar keuntungan, karena laba yang diperoleh dari tiap keping dinar hanya 
sekitar 2% dari harga jual. ”Usaha ini memang tidak mengejar keuntungan jangka 
pendek, tapi merupakan investasi jangka panjang. Selain itu, saya juga ingin 
membantu umat Islam yang membutuhkan dinar atau dirham sekaligus memajukan 
ekonomi Islam,” tutur Syauqi yang telah membuka dua wakal di Jl Cikutra Barat 
dan Komplek Cicukang indah Kota Bandung. 
  Memang, keuntungan sesaat yang diperoleh pengelola wakala relatif kecil. Zaim 
Saidi, sebagai perintis dinar di tanah air menerangkan, meski dinar terbuat 
dari emas 22 karat (91,7%) tapi harganya setara dengan emas 24 karat. 
Keuntungan pengelola wakala sudah ditetapkan besarnya yakni, 4% untuk biaya 
cetak dan 4% untuk distribusi, penyimpanan dan pengelolaan. ”Sehingga margin 
bagi pengelola wakala sekitar 2%. Margin lebih besar diperoleh dari fee 
pengantaran (6%) dan penitipan yang dihitung per bulan,” jelasnya. 
  Bagi Zaim dan Sauqi, beban terberat bukan pada kecilnya margin keuntungan, 
melainkan rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap dinar. Sehingga tantangan 
terberatnya adalah sosialisasi. Selain itu, pengakuan dari pemerintah atas 
keabsahan dinar dan dirham sebagai alat tukar juga sangat diperlukan. 
Pemerintah dapat mencontoh negara yang telah memberlakukan dua sistem mata 
uang, kertas dan emas seperti, Afrika Selatan. 
  Di negeri ini, Krugerand, koin emas senilai 1 troy once (setara dengan 8 
dinar emas), diakui sebagai alat tukar yang sah bersandingan dengan mata uang 
kertas mereka, rand. Untuk mendorong ini, MUI perlu menerbitkan fatwa yang 
menyatakan bahwa dinar emas dan dirham perak merupakan mata uang syar’i. Jika 
begitu, publik perlu mendorong MUI dan pemerintah agar tak mogok.   
  Dwi Hardianto
  Laporan: Deffy Ruspiyandy (Bandung)
   
   Untuk Apa Dinar/Dirham?
   
  Dinar adalah koin emas 22 karat (91.7%) seberat 4,25 gram berdiameter 23 mm. 
Dirham adalah koin perak murni dengan berat 2.975 gram. Pada awalnya, dinar 
merupakan mata uang Romawi sedangkan dirham mata uang Persia. Penggunaan 
dinar/dirham diadaptasi oleh umat Islam pada zaman Rasulullah saw. Kemudian, 
standar dinar/dirham ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab yang berlaku 
sampai sekarang. 
  Saat ini, dinar memiliki variasi ukuran 1, 1/2 dan 1/4 dinar. Sedangkan 
dirham memiliki variasi ukuran 1 dan 5 dirham. Jika Anda membeli dinar/dirham, 
selain mendapatkan koin dinar/dirham, Anda juga akan mendapat sertifikat yang 
dikeluarkan oleh pembuat koin yaitu PT Logam Mulia Aneka Tambang (Antam) 
sebagai bukti keaslian kadar logam mulai yang terkandung di dalamnya. Berikut 
kegunaan dinar/dirham: 
   
  Tabungan/Investasi
  -          Menabung di bank baik syariah maupun konvensional, nilai 
simpanannya akan menurunan meski ada bagi hasil. Nilai bagi hasil bank syariah 
tak jauh dari bunga bank sehingga tak dapat menutupi inflasi.
  -          Dinar/dirham nilainya relatif tetap tidak terpengaruh inflasi. 
Jika Anda menyimpan 100 dinar sekarang, 10, 20 tahun lagi, nilai atau daya 
belinya relatif tetap. 
  -          Soal penyimpanan, bisa di rumah dengan brankas kecil dan sistem 
keamanan lingkungan cukup baik. Disimpan di safe deposit box Bank jika 
jumlahnya cukup banyak atau dititipkan pada wakala terdekat. 
   
  Mahar/Mas Kawin 
  -          Dinar/dirham dapat menjadi alternatif mahar. Keuntungannya, nilai  
dinar/dirham relatif tetap tidak berkurang meski dimakan waktu. Jika mahar 
dibayar dengan uang kertas, setelah sekian tahun nilainya akan berkurang karena 
inflasi.
  -          Bagaimana dengan perhiasan emas? Dari sisi harga, perhiasan emas 
lebih mahal karena ada biaya produksi. Kadar emas di dalam perhiasan kadang tak 
sesuai dengan yang tertera di sertifikat, sehingga pada saat dijual selisihnya 
cukup besar. Kadarnya juga lebih kecil (16–20 karat) di banding dinar (22 
karat).
   
  Membayar Zakat 
  -          Nishab zakat harta adalah 20 dinar emas (85 gram emas 22 karat) 
zakatnya adalah 1/2 dinar (2.5%). Nishab zakat dirham adalah 200 dirham perak, 
zakatnya sebanyak 5 dirham. Dan harta tersebut telah dimiliki dalam waktu satu 
tahun.
  -          Karena merupakan harta nyata, dinar/dirham tidak terpengaruh 
inflasi sehingga status Anda sebagai pembayar zakat tidak akan berubah secara 
mendadak. Demikian juga dengan penerima zakat, jika menerima dinar/dirham, maka 
nilainya tetap tidak akan berubah dan jauh lebih bermanfaat bagi mereka.
   
  Transaksi 
  -          Dinar sebagai alat tukar bukan basa basi lagi. Salah satu yang 
menerapkannya adalah CV Suteki dan CV Codena (DMR). Suteki melakukan pembelian 
DMR sebagai reseller seharga 15 dinar. Dalam waktu dekat, semua software baik 
Suteki maupun Codena akan menerapkan dua sistem yakni dinar-dirham dan rupiah 
dalam setiap transaksinya. 
   Di Mana Memperoleh Dinar/Dirham?  
  Wakala Sauqi Dinar
  Jl Cikutra Barat 104 Bandung 40134
  Telp: 022-2500514
   
  Wakala Adina 
  Jl M Ali No 2 RT 003/04 Kel Tanah Baru, Kota Depok 16426
  Telp: 021-7756 071
   
  Wakala Ribat Jakarta 
  Jl H Saidi IV No 51A, Cipete Selatan, Jakarta Selatan 
  Telp: 021-759 00412
   
  Wakala Al Kautsar MUI Depok 
  Jl Nusantara Raya No 5-7, Depok 
  Telp: 021–7522110
   
  Wakala Griya Dinar 
  Jl Kemitbumen No 5 Wijilan, Kraton, Yogyakarta
  Telp: 0274- 405454
   
  WAKALA IMN
  Jl Cigadung Raya Barat No 46 (Cipaheut Kidul) RT 06/03 Bandung 40191
  Telp: 022-241994/6
   

 
                         


       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke