Assalaam..

Kalau mau komplain pelayanan yang ingkar janji gimana?^^ Temen saya 
sampai mengeluh karena perpanjangan ATM-nya baru jadi setelah lebih 
dari 3 minggu. Padahal janjinya paling lambat 2 minggu. Udah komplain 
berkali-kali, ya tapi begitu aja (alasan: belum ada kiriman ATMnya 
dari kantor pusat). Yang ga enaknya, itu adalah rekening utama untuk 
transaksi sehari-hari, jadi uangnya memang sebagian besar disana. Dan 
saya termasuk yang rekomendasiin dia untuk pindah sebagian besar dana 
ke bank syariah. (wah, sempat ga enak banget ada kejadian kaya gini 
^^;) 

Kalo mau bandingin, saya bikin account di bank konvensional (cuma 
buat invest, saldo nol di tabungan) dengan spek yang sama cuma 3 
hari, dan kirim ke rumah. Ya, walaupun ga bisa digeneralisir. Hanya 
sayang aja, ketika kita justru sudah cuap-cuap kemana-mana untuk 
pindah ke Bank Syariah, ternyata pelayanan bank-nya yang bikin orang 
mundur lagi.

Oya, cerita kecewa ini bukan cuma di satu bank, ada beberapa bank 
syariah lain juga yang sempat bikin kecewa walaupun dari aspek yang 
berbeda.

Wassalaam..
- Ami
- ga bermaksud menyudutkan bank syariah, hanya sekedar masukan.

--- In [email protected], faisol muhammad 
<faisol...@...> wrote:
>
> Barangkali judulnya lebih pas:
> "Pelayanan Mb Dila/CS  Bank Syariah (namanya apa cabang atau kantor 
kas) di Saharjo masih kurang bagi sepupu saya"
>  
> Dan, keluhan itu disampaikan ke atasan mb Dila. Kayaknya dengan 
begitu lebih baik dan pedoman saling mengingatkan di QS Al 'Asr akan 
enak kita jalani.
>  
>  
> salam,
>  
>  
> faisol muhammad
> 
> --- On Fri, 1/30/09, Yoga Prakasa <y...@...> wrote:
> 
> From: Yoga Prakasa <y...@...>
> Subject: [ekonomi-syariah] Pelayanan Bank Syariah masih sangat 
kurang
> To: [email protected]
> Date: Friday, January 30, 2009, 2:48 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Assalamualaikum,
> 
> Saya baru saja mendengarkan keluhan dari sepupu saya tentang
> pengalaman pertamanya yang tidak mengenakkan di sebuah cabang bank
> Syariah di Saharjo, Tebet. Saya memang sengaja memintanya untuk 
datang
> ke bank tersebut dengan dalih menitipkan pertanyaan untuk beberapa
> fasilitas bank tersebut berhubung dekat dengan tempat kerjanya. 
Alasan
> saya adalah supaya dia juga mulai belajar mengenai bank syariah dan
> mungkin akan merasa tertarik untuk beralih ke bank syariah. Namun 
yang
> saya dengar darinya benar2 di luar dugaan.
> 
> Dia datang ke cabang tersebut selepas Solat Jumat, dan langsung
> disuruh menunggu oleh security yang sedang bertugas untuk dipanggil 
ke
> Customer Service. Namun setelah tiga orang berikutnya 'nyelak', baru
> dia sadar bahwa untuk mengantri harus mengambil nomor antrian, dan 
hal
> tersebut tidak diungkapkan sebelumnya. Setelah lama mengantri,
> akhirnya dia bertemu dengan CS yang bernama Dila. Namun, sungguh
> mengecewakan karena Dila menolak untuk menjawab pertanyaan2 titipan
> saya dengan alasan banyak customer sehingga dia menyuruh sepupu saya
> untuk membuka website bank tersebut langsung karena menurut Dila
> jawaban2 atas pertanyaan tersebut sudah ada di website.
> 
> Sebagai informasi, saya sengaja menitipkan pertanyaan tersebut juga
> untuk menambah pengetahuan saya atas fasilitas bank SETELAH saya
> mengunjungi website-nya. Sebagai contoh, ada pertanyaan mengenai
> penjualan kembali obligasi (di pasar sekunder) yang ditawarkan bank
> tersebut dan pertanyaan mengenai jaminan untuk pinjaman
> studi/pendidikan dan apakah pinjaman tersebut bisa digunakan untuk
> studi di luar negeri.
> 
> Tiga tahun yang lalu saya pernah menjadi nasabah bank tersebut dan
> ternyata sampai saat ini belum ada perubahan dari segi servis. Hal 
ini
> sangat berbeda dengan cabang syariah dari bank asing di mana saya
> masih menjadi nasabahnya. Mungkin hal ini bisa menjelaskan mengapa
> aset bank syariah masih saja tertahan di level kurang dari 3% aset
> perbankan nasional. Dan mungkin saja akhirnya akan menembus level 5%
> setelah semakin banyak bank2 asing masuk dengan divisi syariahnya di
> tanah air.
> 
> Wallahualam,
> Yoga Prakasa
>


Kirim email ke