Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di
Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan
conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau
pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya
sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut :
berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi
dekan? Mohon komentar anggota milis
Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya
ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--diKemasan Syariah Kurang Menarik
Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya
ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di Indonesia karena para
pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk syariah dengan
menarik.
"Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia
dalam perbincangan dengan Tempo
di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia menyarankan agar pelaku bisnis
syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah menjadi lebih keren,
bersahabat, dan tidak angker. Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat
terhadap
bisnis syariah masih lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan
celana menggantung. Akhirnya pikiran yang muncul adalah bisnis yang
seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang ke bank syariah?
Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi dan
Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini.
Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih
banyak kendala lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah
bank konvensional, termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata
masyarakat agak alergi dengan produk-produk yang berbau sektarian
seperti Islam," ucapnya. Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan
aturan main
sendiri, benak konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank
konvensional dalam membuat analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa
hal, mekanisme bagi hasil juga mengacu pada suku bunga.
Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini
sulit meningkatkan persentase asetnya dari total aset perbankan
nasional. Persoalannya adalah kurangnya tenaga profesional di bidang
syariah. Saat ini aset bank syariah masih sebesar 2,2 persen dari total
aset perbankan nasional.
"Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5
persen," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat
lalu. Dia menjelaskan, pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun
terakhir sangat pesat. Namun, perbankan syariah masih kekurangan sumber
daya manusia sekitar 15 ribu orang. EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI