Wa'alaikum salam wr wb, Betul pak Zulfikar. Insya Allah masukan yang saya berikan demi kebaikan dan perkembangan Bank Syariah itu sendiri.
Saya pernah ikut motivasi. Satu poin yang terpenting adalah "Selalu Ada Cara". Jadi kita wajib berusaha untuk mencari solusi yang terbaik sehingga bisa menjadi yang terbaik. Bukan cuma sekedar good apalagi mediocre, tapi GREAT. Saya yakin Syari'ah Islam itu yang terbaik dan kita adalah sebaik2 ummat. Jadi sistem Ekonomi Islam/Bank Syariah niscaya lebih baik bagi ummat Islam. Jika Bank Islam lebih baik dan lebih menarik/kompetitif, insya Allah tanpa didukung fatwa riba haram atau wajib Bank Syariah pun masyarakat umum bahkan non Muslim akan berpaling ke Bank Syariah. === Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits http://media-islam.or.id Milis Ekonomi Nasional: [email protected] Belajar Islam via SMS: http://media-islam.or.id/2008/01/14/dakwah-syiar-islam-lewat-sms-mobile-phone --- Pada Sel, 20/4/10, Zulfikar77 zulfikar <[email protected]> menulis: Dari: Zulfikar77 zulfikar <[email protected]> Judul: Bls: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal? Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 20 April, 2010, 6:53 PM Asalamualaikum wr. wb Mohon maaf sebelumnya menurut saya apa yang difikirkan oleh pak Nizami tersebut merupakan bentuk rasa sayang beliau terhadap Bank Syariah, saya fikir perlu dicari alternatif lain bentuk dari persentase margin yang menjadi patokan adalah cost overhead, cost of lending fund pada team ALCO atau ALMA, namun yang perlu menjadi patokan adalah rata-rata revenue suatu industri dan itu menjadi tugas pak Merza Gamal yang katanya pernah melakukan berbagai riset dan terjun kelapangan, yang saya tanyakan apakah pak merza pernah melakukan riset tersebut, dan mengapa itu tidak dijadika ptokan, mohon maaf kalo tidaqk berkenan ini hanya sebuah diskusi dan kecintaan saya terhadap bank syariah Hormat saya zulfikar Pekanbaru --- Pada Sen, 19/4/10, Merza Gamal <merzaga...@yahoo. com> menulis: Dari: Merza Gamal <merzaga...@yahoo. com> Judul: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal? Kepada: "Ekonomi Syariah" <ekonomi-syariah@ yahoogroups. com> Cc: "Merza Gamal" <merzaga...@yahoo. com>, nizam...@yahoo. com, darojah...@yahoo. com Tanggal: Senin, 19 April, 2010, 3:05 PM Assalaamu'alaikum Wr. Wb. Sebelumnya izinkanlah saya sharing dalam diskusi ini. Menurut saya sebagai orang yang turun ke lapangan dan juga melakukan berbagai riset tentang perkembangan perbankan syariah di lapangan. Diskusi seperti ini seakan-akan tiada henti dari 10 tahun yang lalu, tapi alhamdulillah bank syariah tetap berkembang secara pesat, meski jika dibandingkan bank konvensional asetnya tidak sampai 3%. Hal yang dapat saya tangkap adalah, bahwa sesuatu hal yang kontroversial selalu menjadi diskusi hangat dalam forum ini. Dan jika saya sampaikan realitas di lapangan dari hasil riset saya, tidak ada yang menanggapi. Seperti yang disampaikan Ibu Enci dalam forum ini, murah dan mahal adalah relatif dalam bisnis, dan orang-orang yang meributkan margin bank syariah daripada bank konvensional apakah benar-benar sudah pernah mencoba berhubungan dengan bank syariah dan membandingkan head to head dengan semua bank syariah. Seringkali terjadi seseorang mendapatkan pembiayaan lebih mahal di sebuah bank syariah dibandingkan rekannya di sebuah bank konvensional, kemudian serta merta men-judge bahwa semua pembaiayaan bank syariah lebih mahal dari semua kredit bank konvensional. Padahal setiap jenis pembiayaan mempunyai risiko dan overhead yang berbeda-beda. Antara satu fasilitas pembiayaan dengan fasilitas pembiayaan lainnya bisa berbeda dalam menentukan margin ataupun nisbah bagi hasil. Demikian pula satu fasilitas kredit dari satu bank konvensional dengan fasilitas kredit lainnya bisa pula berbeda dalam menetapkan tingkat suku bunga. Apalagi jika dibandingkan satu fasilitas di sebuah bank dengan fasilitas di bank lainnya. Dan, apalagi jika dibandingkan bank syariah dengan bank konvensional dalam bentuk pembiayaan yang berbeda. Bisa juga fasilitas kredit yang sama, tapi tingkat hubungan bisnis dan risiko berbeda akan menyebabkan bunga kredit berbeda. Demikian pula tingkat hubungan & risiko bisnis nasabah syariah berbeda bisa membuat tingkat nisbah berbeda. Jadi yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kita bisa serta merta menentukan margin pembiayaan syariah selalu lebih mahal atau lebih murah dibandingkan dengan bank konvensional hanya dengan membandingkan persentase yang harus kita bayarkan ke bank syariah dibandingkan dengan yang dibayarkan orang lain ke bank konvensional. Sebelum mengakiri share saya, izinkan pula saya mengomentari pendapat bapak Nizami, bahwa bukan berarti yang syariah harus selalu lebih mahal, dan konvensional harus lebih murah. Tapi dalam sebuah bisnis, sekali lagi, mahal dan murah adalah relatif. Banyak faktor yang menetukan mahal dan murahnya suatu produk, demikian pula banyak faktor yang menentukan murah dan mahalnya suatu margin atau nisbah pembiayaan suatu bank syariah, dan kredit pada sebuah bank konvensional. Mungkin untuk saat ini, share saya cukup sekian dulu. Lain waktu mungkin saya bisa share lagi. Semoga bank syariah bisa menjadi pioner di negeri tercinta Indonesia... . Mohon maaf untuk semua millister di forum ini atas kelancangan saya... Wassalam Merza Gamal --- On Sun, 4/18/10, A Nizami <nizam...@yahoo. com> wrote: From: A Nizami <nizam...@yahoo. com> Subject: Re: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal? To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com Date: Sunday, April 18, 2010, 11:53 PM Wa'alaikum salam wr wb, Ada alasan Allah kenapa mengharamkan riba. Karena riba itu memberatkan sang peminjam. Bahkan bisa berlipat ganda seperti rentenir: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda..." [Ali 'Imran 130] Sebaliknya Allah menghalalkan sedekah karena memudahkan bagi si peminjam: http://media- islam.or. id/2007/09/ 26/bank-syariah- harusnya- mempermudah- rahmatan- lil-alamiin ”Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” [Al Baqarah:280] ”Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah…” [Al Baqarah:276] Jadi paradigma Syariah harus mahal dan Riba harus murah itu adalah paradigma yang keliru. Orang pinjam uang itu umumnya dalam kesulitan. Oleh karena itulah riba/pinjaman yang bertambah (riba=tambahan dari pokok pinjaman) yang bisa berlipat ganda dan menyusahkan peminjam diharamkan. Sebaliknya sedekah (pinjaman 0% atau bahkan ada diskonnya) yang memudahkan justru dianjurkan. Kalau Syariah ada tambahan (riba) yang lebih besar/memberatkan ketimbang riba itu sendiri (meski namanya bukan riba/bunga), maka ada sesuatu yang salah dan harus diperbaiki. Meski para ulama mengeluarkan fatwa riba itu haram, namun jika bank syariah memberi pinjaman "non riba" tapi dengan tambahan (riba) yang memberatkan masyarakat, niscaya masyarakat jadi menjauh dari Bank Syari'ah dan ulama yang mendukung Bank "Syariah" itu bisa kehilangan kredibilitasnya di mata ummat. Namun saya lihat beberapa Bank Syari'ah seperti (maaf bukan iklan) BSM sudah lebih kompetitif dibanding Bank Konvensional. Semoga Bank2 Syariah lain bisa lebih baik lagi sehingga timbul kecintaan masyarakat kepada Bank2 Syariah. === Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits http://media- islam.or. id Milis Ekonomi Nasional: ekonomi-nasional- subscribe@ yahoogroups. com Belajar Islam via SMS: http://media- islam.or. id/2008/01/ 14/dakwah- syiar-islam- lewat-sms- mobile-phone --- Pada Ming, 18/4/10, firmanjatnika@ yahoo.com <firmanjatnika@ yahoo.com> menulis: Dari: firmanjatnika@ yahoo.com <firmanjatnika@ yahoo.com> Judul: Re: {FoSSEI} Re: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal? Kepada: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com, fos...@yahoogroups. com Tanggal: Minggu, 18 April, 2010, 8:35 PM Assalam bapak - ibu, menurut saya tinggi rendahnya margin bank syariah (mahal murahnya margin) merupakan konsekuensi logis dari skala ekonomis bank syariah yang masih kecil dibandingkan skala ekonomis bank konvensional. Dengan asset bank syariah max Rp24T dibandingkan asset bank konvensional yg Rp358T maka bank syariah (6,7%) bertindak sbg price taker jika tetap ingin bertahan di bisnis. Wassalam, firman Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom: hanif acep <hanifa...@yahoo. com> Date: Fri, 16 Apr 2010 09:35:20 +0800 (SGT)To: <fos...@yahoogroups . com>; <ekonomi-syariah@ yahoogroups. com>Subject: Re: {FoSSEI} Re: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal? Seringkali kita dan masyarakat menghubungkan halal-haram dan murah-mahal. ..kalau murah berarti halal, sedangkan kalau mahal berarti haram...sebuah kekeliruan logika yang fatal...Jual beli dengan untung 100% itu halal sedangkan riba dengan 0.001 % itu haram... masalahnya Fiqh punya logika sendiri, sedangkan bisnis (dalam hal ini bank) mempunyai logika sendiri...Bank Syariah adalah hasil diskursus, seminar, ijtihad ulama kontemporer untuk mempertemukan keduanya... Saya lebih sepakat dengan akhuna Irfan Sayqi Beik yang menulis di majalah Hidayatullah, bahwa ini berkaitan dengan Wasail(sarana) dan Maqashid(Tujuan) ...analoginya Sholat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar...Apabila kita memisahkan Wasail dengan maqashid itu mengakibatkan kekeliruan amal yang luar biasa.... Tetapi Wasail yang tidak menghasilkan Maqashid akan kehilangan ruhnya... Kita berharap banyak Bank Syariah akan menjadi instrumen keadilan Ekonomi, pemerataan kesejahteraan, pertumbuhan ekonomi dst...Saya kira itu PR kita bersama menghadirkan lembaga ekonomi syariah yang bisa dibanggakan umat Islam. --- Pada Kam, 15/4/10, siti darojah <darojahsri@ yahoo. com> menulis: Dari: siti darojah <darojahsri@ yahoo. com> Judul: Re: {FoSSEI} Re: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal? Kepada: fos...@yahoogroups. com, ekonomi-syariah@ yahoogroups. com Tanggal: Kamis, 15 April, 2010, 2:52 AM 1. Mengapa dikatakan bunga di bank syariah mahal? Apakah yang mengatakan itu pernah mengajukan pembiayaan di bank syariah atau hanya mendengar dari pihak lain? Margin atau nisbah adalah hasil kesepakatan. Saya pribadi sewaktu jadi wartawan pernah mengajukan pembiayaan ke BSM dan Muamalat. Biasa saja tuh. Sama saja dengan ketika saya ke bank konvensional, BRI dan Bukopin. Saya pernah jadi nasabah pembiayaan keempat bank tersebut. 2. Sampai sekarang pun, keluarga saya (kakak dan adik) masih punya pembiayaan di beberapa bank syariah dan nonsyariah untuk pengembangan usaha. Keluarga kami masih punya utang di bank swasta terbesar, bank BUMN terbesar, dan bank syariah juga. Marginnya sama-sama aja. Paling selisih sedikit. Tidak terlalu terasa kalau untuk kami yang bergerak di bidang usaha. Kebetulan kalau untuk akad kredit, saya sering ikut karena nama saya dicantumkan sebagai salah satu Direktur. Meskipun aslinya, saya adalah wartawan. 3. Bahkan saya pernah berhubungan dengan unit usaha syariah salah satu bank. Itulah pertama kali kami berhubungan dengan bank syariah. Waktu itu, ajaib karena ketika kami hendak memberi uang tips setelah kredit kami cair, petugas marketing bank menolak. padahal itu praktik lazim di bank konvensional. Bagi kami di dunia usaha, itu juga masih biasa. 4. Jadi kesimpulannya, masuklah ke sebuah lembaga dengan kepala kosong dari prasangka. Kami datang saja mengajukan pembiayaan tanpa menghitung-hitung ini bank syariah atau bukan. Waktu itu, kami berpikir ingin coba-coba saja, selain karena saya juga mulai jadi wartawan di ekonomi syariah. Karena sudah biasa usaha, kami sudah tahu ancer-ancer margin di bank. Kalau kemahalan ya di nego saja... Malah di bank syariah saya pernah minta diskon margin saat pembiayaan sudah di tengah jalan dan dikabulkan.. .I Alhamdulillah usaha kami tetap jalan, meski masih harus melunasi banyak utang di bank. That's life. Ini benar-benar pengalaman pribadi enci siti darojah --- On Wed, 4/14/10, Ahmad Ifham <ahmadifham@ yahoo. com> wrote: From: Ahmad Ifham <ahmadifham@ yahoo. com> Subject: {FoSSEI} Re: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal? To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com Cc: fos...@yahoogroups. com Date: Wednesday, April 14, 2010, 8:43 PM Menurut saya, hal itu terjadi karena: 1. Edukasi kurang. Penggiat bank syariah harusnya proaktif dan kompak. 2. Ekspektasi mereka atas janji bahwa syariah lebih adil dan menguntungkan. 3. [Sebagian besar] masyarakat ber-bank adalah mencari kemudahan dan keuntungan. Bukan halal/haram. Usul: Optimalkan potensi conventional media juga social media, agar biaya edukasi bisa ditekan. Optimalkan fungsi Marketing Public Relations (MPR). Mungkin sebagian menganggap MPR itu akal2an aja. Padahal syarat MPR berhasil adalah berdasar fakta yang kredibel. Saya yakin banyak ahli MPR yang siap bantu syariah, asal industri ini serius dan konsisten. Mungkin di beberapa bank syariah sudah ada fungsi ini. Yang terpenting dari membesarkan industri syariah adalah semua lembaga keuangan syariah profit non profit kompak. Saya masih yakin bahwa masyarakat muslim masih bisa diarahkan agar mau menggunakan sistem ekonomi syariah (termasuk bank), adalah karena alasan halal. So, mahal pun gak masalah. Isu halal/haram ini masih dominan, karena kalo mau head to head kasih layanan prima ke masyarakat, akan kalah jauh dibanding konvensional. Regards, Ahmad Ifham Sholihin From: Irwan <irwansiska@ yahoo. com> To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com Sent: Wed, April 14, 2010 10:58:37 PM Subject: [ekonomi-syariah] Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal? Banyak Orang ketika melihat brosur pinjaman modal usaha/pembiayaan syariah lainnya banyak yang mengeluh: 1. "Loh Kok Ini lebih Mahal dari Bank Konvensional? " 2. "Kok Bunga di Bank Syariah lebih besar?" 3. dll Kenapa Begitu y? Kok bisa pernyataan ini bisa terucap? ada yang bisa kasih wejangan? atau kenapa y pernyataan kedua bisa terucap seperti itu y? Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini! Mohon partisipasi Bapak/Ibu untuk mengisi Polling "Memilih Bank Syariah" Silahkan klik http://www.surveymo nkey.com/ s.aspx?sm= xZecA3hAnGt89W1J eiRaoQ_3d_ 3d Semoga partispasi Bapak/Ibu bermanfaat dalam kajian sosial ekonomi islami umumnya dan aplikasi bank syariah khususnya di Indonesia
